Senin, 23 September 2013

Dialog Abu Hanifah ra. dengan Ilmuwan

Suatu ketika ada seorang ilmuwan besar dari kalangan bangsa Romawi, tapi ia orang kafir. Ilmuawan tersebut kemudian memasuki masjid untuk mencari seseorang yang bisa diajak berdebat tentang aqidah. Saat memasuki masjid, semua orang Islam membiarkan saja, kecuali seseorang, yaitu Hammad guru Abu Hanifah. Ilmuwan itupan lalu kembali oleh karena dia segan bila bertemu dengannya. Mungkin karena ia takut kalah atau ingin mencari sesorang yang mudah dikalahkan sehingga dia dianggap paling pintar.

Pada hari kedua, saat manusia sedang berkumpul di masjid, orang kafir itu tiba-tiba datang dan naik mimbar dan mau mengadakan tukar pikiran dengan siapa saja, dia hendak menyerang ulama-ulama dan orang-orang Islam. Ilmuwan bangsa Romawi berkata;” Siapa diantara kalian yang mampu aku ajak bertukar pikiran dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku?”.

Di antara shof-shof masjid, bangunlah seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah, dan ketika itu sudah berada dekat depan mimbar, dia berkata :"Inilah saya, siap bertukar pikiran dengan tuan". Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena dirinya lebih muda. Karena tidak ada yang menjawab tantangan tersebut, dia pun angkat bicara :"Katakan pendapat tuan!".

Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, lalu ilmuwan bertanya :"Masuk akalkah bila dikatakan, bahwa  ada pertama yang tidak apa-apanya sebelumnya?". Jawab Abu Hanifah:"Benar”, “tahukah tuan tentang hitungan?", tanya Abu Hanifah. "Ya". "Apakah itu sebelum angka satu?". "Ia adalah angka pertama, dan yang paling pertama. Tak ada angka lain sebelum angka satu", jawab sang kafir itu. Lalu Kata abu Hanifah:"Demikian pula Allah SWT".

Lalu ilmuwan kafir tersebut bertanya lagi;"Di mana Dia sekarang? Sesuatu yang ada, pasti ada tempatnya", . Abu Hanifah balik bertanya:"Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?". "Ya" jawabnya. "Adakah di dalam susu itu keju?". "Ya"jawab si ilmuwan. "Di mana, di sebelah mana tempatnya keju itu sekarang?", tanya Abu Hanifah. "Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu!", jawab ilmuwan kafir itu. "Begitu pulalah Allah, tidak bertempat dan tidak ditempatkan", jelas Abu Hanifah.

 "Ke arah manakah Allah sekarang menghadap? Sebab segala sesuatu pasti punya arah?", tanya orang kafir itu. "Jika tuan menyalakan lampu, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?", tanya balik Abu Hanifah. "Sinarnya menghadap ke semua arah" jawab si ilmuwan lagi. Lalu Abu Hanifah berkata "Begitu pulalah Allah SWT Pencipta langit dan bumi".

Ilmuwan kafir itu semakin takjub dengan jawaban-jawaban Abu Hanifah. Kemudian ia bertanya lagi kepada Abu Hanifah; “ Jika tuhan telah menetapkan qadha dan qadar semua makhluk, lalu apa yang sedang ia kerjakan sekarang?". "Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan", pinta Abu Hanifah. Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas. "Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?". Ilmuwan kafir mengangguk. "Pekerjaan-Nya sekarang, ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mu`min di lantai, dengan segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu". Para hadirin puas dan begitu pula orang kafir itu.

Demikianlah Imam Abu Hanifah, mempunyai wawasan yang luas, tawadu dan cerdas namun tetap teguh memegang nilai-nilai aqidah.

Comments :

0 komentar to “Dialog Abu Hanifah ra. dengan Ilmuwan”

Posting Komentar


Hadits tentang Puasa Asyura (Hari kesepuluh bulan Muharram

Berdasarkanbeberapa hadits ditemukan anjuran Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kepada ummat Islam agar melaksanakan puasa di tanggal sepuluh bulan Muharram. Tanggal sepuluh bulan Muharram biasa disebut Yaum ’Aasyuura (Hari kesepuluh bulan Muharram).

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Seutama-utama berpuasa sesudah bulan Ramadhan ialah dalam bulan Allah yang dimuliakan - yakni Muharram - dan seutama-utama shalat sesudah shalat wajib ialah shaliatullail - yakni shalat sunnah di waktu malam." (Riwayat Muslim)

Suatu ketika Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mendapati kaum Yahudi sedang berpuasa pada hari ’Asyuura. Lalu beliau bertanya mengapa mereka berpuasa pada hari itu. Merekapun menjelaskan bahwa hal itu untuk memperingati hari dimana Allah telah menolong Nabi Musa bersama kaumnya dari kejaran Fir’aun dan balatentaranya. Bahkan pada hari itu pula Allah telah menenggelamkan Fir’aun sebagai akibat kezalimannya terhadap Bani Israil. Mendengar penjelasan itu maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam-pun menyatakan bahwa ummat Islam jauh lebih berhak daripada kaum Yahudi dalam mensyukuri pertolongan Allah kepada Nabi Musa. Maka beliau-pun menganjurkan kaum muslimin agar berpuasa pada hari ’Asyuura.


Selengkapnya

Kisah Nabi Ismail as

Sampai Nabi Ibrahim yang berhijrah meninggalkan Mesir bersama Sarah, isterinya dan Hajar, di tempat tujuannya di Palestina. Ia telah membawa pindah juga semua binatang ternaknya dan harta miliknya yang telah diperolehnya sebagai hasil usaha niaganya di Mesir.
Al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a.berkata:
Pertama-tama yang menggunakan setagi {setagen} ialah Hajar ibu Nabi Ismail tujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang telah lama berkumpul dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi belum juga hamil. tetapi walaubagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahasia yang disembunyikan itu dengan lahirnya Nabi Ismail a.s. .

Berita terbaru


 

Copyright © 2009 by The Power of Hikmah