Senin, 04 November 2013

Hikmah Tahun Baru

Kaum muslimin di Makkah mulai menerima siksaan dan pengucilan dari masyarakat akibat propaganda, hasutan dan intimidasi dari kafir quraisy. Selain kalah dominasi dan dalam posisi sangat minoritas, kaum muslimin yang mulai menyatakan keislaman dan ketauhidan, mengalami siksaan bahkan hingga dibunuh oleh majikannya agar murtad dan kembali kepada kekufuran, diantara sahabat itu adalah Amar bin Yasir, dimana ayah dan ibunya dibunuh lantaran tetap mempertahankan keimanan, lalu Zubair bin Awwam, Uthman bin Affan, Mushab bin Umair, Shuhain bin Sinan Arrumi, abu Fakihah, Khabbab bin Al-art, Zunairah, Ummu Ubais, An-Nahdiyah dan anaknya hingga Bilal bin Rabah radiyallahu anhum. Melihat kondisi yang demikian pedih para sahabat yang berada diposisi ekonomi dan strata lemah. Maka pada tahun 622 masehi, Allah SWT memerintahkan Nabi SAW dan para sahabat untuk hijrah ke Madinah.

Perintah berhijrah agar Rasulullah SAW dan para sahabat bisa menemukan suasana kehidupan yang lebih baik dalam menjalankan ibadah spiritual dan sosial kepada Allah SWT. Hal ini bukan karena Allah SWT tidak mampu menolong manusia, akan tetapi agar menjadi pelajaran bahwa untuk menjadi lebih baik tidak cukup dengan bedoa lalu berpangku tangan namun sebelum bertawakkal, perlu adanya sebuah ikhtiar/usaha yang keras dengan niatan karena Allah SWT agar kehidupannya menjadi lebih baik.

Peristiwa inilah dan menjadi landasan dan semangat penanggalan tahun Hijriyah dalam kalender islam. Yang pada waktu di tetapkan pada masa Khalifah Umar bin khattab ra. Disini tidak mengupas teori penanggalan hijriyah namun mencoba sedikit mengurai makna hijrah, hikmah dan motivasi didalamnya.

Makna Hijrah.
Hijriyah disini berasal dari kata Hijrah, yang dalam bahasa arab yang bisa berarti pindah, yaitu bermakna berpindah dari kondisi yang tidak baik menuju ke kondisi yang lebih baik, dari kesedihan menuju kedamaian, dari kebodohan menuju kecerdasan, dari kejelekan menuju kebaikan dan dari kekufuran menuju ketaqwaan.  

Hikmah Hijrah
Hijrah mengajarkan kepada setiap manusia agar senantiasa berusaha untuk lebih baik dan tidak statis. Tidak mudah pasrah dengan kondisi yang ada, berupaya memperbaiki kondisi yang ada agar lebih baik tidak saja dalam urusan duniawi berupa harta, kedudukan maupun ketenaran yang bersifat sementara dan bahkan bisa menjerumuskan kedalam kefasikan dan kemungkaran. Akan tetapi lebih dari itu, yaitu agar senantiasa lebih baik segala amal ibadah urusan ukhrawi dihadapan Allah SWT.

Bergulirnya waktu, dengan bertambahnya angka tahun hijriyah esok, hakikatnya adalah semakin diingatkannya jatah waktu/masa/umur manusia yang semakin berkurang. Semakin diingatkannya kita agar terus bermuhasabah /menghitung-hitung kembali amal perbuatan kita selama ini. Sudahkah kita melaksanakan shalat dengan sebaik-baiknya dan tidak meninggalkannya?, sudahkah hari-hari kita diisi dengan memperbanyak baca Al-Quran dari pada baca media massa?, sudahkah kita mengeluarkan zakat dan infaq dari harta yang kita peroleh?, sudahkah kita menyedekahkan waktu, jiwa dan raga kita untuk fi sabilillah?, sudahkah kita berkata dan berlaku sopan santun kepada orang tua, istri/suami, anak, saudara, tetangga, teman, tetangga hingga rekan kerja?  Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang bisa menjadi bekal dan perlu kita siapkan untuk perjalanan panjang nan abadi nanti di akhirat.

Begitu pentingnya dan berharganya waktu bagi kehidupan manusia, yang terus berputar dan tak pernah berhenti ataupun kembali, hingga Allah SWT mengingatkan hambanya dalam Al-Quran surat Al-Ashr 1-3 yang artinya:
Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Dan sabda Rasulullah SAW dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah menasehati seorang lelaki :
 شغلك، وحياتك قبل موتك اغتنم خمسا قبل خمس: شبابك قبل هرمك، وصحتك قبل سقمك، وغناك قبل فقرك، وفراغك قبل

Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum masa pikunmu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa hidupmu sebelum kematianmu.” [HR Al Hakim. Hadits shahih]

Sedangkan ulama mengatakan, waktu itu bagaikan pedang, jika kamu tidak memotong (menggunakan)nya, maka waktu-lah yang akan memotong(meninggalkan mu dalam kerugian). Bukan time is money karena uang hilang bisa dicari dan kembali. Tapi waktu sedetikpun takkan pernah kembali

Motivasi hijrah
Bergulirnya waktu khususnya hijriyah tidak saja tahun, namun bulan dan tanggal, secara tidak langsung telah mengingatkan kita akan pentingnya waktu baik secara spiritual maupun sosial. Sudah lebih baikkah hari-hari kita dalam bingkai ibadah karena Allah SWT dari pada hari-hari kemarin?. Dan apakah kita akan terus move on dalam hidup ini dengan amal perbuatan yang tidak bisa mengantarkan kita lebih taqorrub kepada Allah SWT?. Hidup sekali bukan sepenuh hati untuk duniawi, namun sekedar masa meniti bekal ukhrawi nan abadi.

Rasulullah SAW bersabda:
Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat, kecuali seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jari (telunjuknya) ke dalam lautan, maka hendaklah ia melihat seberapa yg tersisa pada (jari) nya. [HR. Ahmad No.17326].

dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kelak pada hari kiamat akan didatangkan penduduk neraka yang pernah merasakan kenikmatan paling lezat selama di dunia lalu dia dicelupkan di neraka sekali celupan. Kemudian ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?’. Maka dia menjawab, ‘Sama sekali tidak pernah, wahai Tuhanku.’ Dan juga didatangkan penduduk surga yang hidupnya paling susah selama di dunia, lalu dicelupkan sekali celupan di dalam surga. Kemudian ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kesusahan? Apakah kamu pernah merasakan kesulitan?’. Maka dia menjawab, ‘Sama sekali tidak pernah, wahai Tuhanku. Aku belum pernah merasakan kesusahan dan belum pernah melihat kesulitan.’.” (HR. Muslim [2807])

Selamat tahun baru hijriyah semoga hari-hari semakin lebih baik dan bernilai ibadah kepada Allah SWT.

Comments :

0 komentar to “Hikmah Tahun Baru”

Posting Komentar


Hadits tentang Puasa Asyura (Hari kesepuluh bulan Muharram

Berdasarkanbeberapa hadits ditemukan anjuran Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kepada ummat Islam agar melaksanakan puasa di tanggal sepuluh bulan Muharram. Tanggal sepuluh bulan Muharram biasa disebut Yaum ’Aasyuura (Hari kesepuluh bulan Muharram).

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Seutama-utama berpuasa sesudah bulan Ramadhan ialah dalam bulan Allah yang dimuliakan - yakni Muharram - dan seutama-utama shalat sesudah shalat wajib ialah shaliatullail - yakni shalat sunnah di waktu malam." (Riwayat Muslim)

Suatu ketika Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mendapati kaum Yahudi sedang berpuasa pada hari ’Asyuura. Lalu beliau bertanya mengapa mereka berpuasa pada hari itu. Merekapun menjelaskan bahwa hal itu untuk memperingati hari dimana Allah telah menolong Nabi Musa bersama kaumnya dari kejaran Fir’aun dan balatentaranya. Bahkan pada hari itu pula Allah telah menenggelamkan Fir’aun sebagai akibat kezalimannya terhadap Bani Israil. Mendengar penjelasan itu maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam-pun menyatakan bahwa ummat Islam jauh lebih berhak daripada kaum Yahudi dalam mensyukuri pertolongan Allah kepada Nabi Musa. Maka beliau-pun menganjurkan kaum muslimin agar berpuasa pada hari ’Asyuura.


Selengkapnya

Kisah Nabi Ismail as

Sampai Nabi Ibrahim yang berhijrah meninggalkan Mesir bersama Sarah, isterinya dan Hajar, di tempat tujuannya di Palestina. Ia telah membawa pindah juga semua binatang ternaknya dan harta miliknya yang telah diperolehnya sebagai hasil usaha niaganya di Mesir.
Al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a.berkata:
Pertama-tama yang menggunakan setagi {setagen} ialah Hajar ibu Nabi Ismail tujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang telah lama berkumpul dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi belum juga hamil. tetapi walaubagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahasia yang disembunyikan itu dengan lahirnya Nabi Ismail a.s. .

Berita terbaru


 

Copyright © 2009 by The Power of Hikmah