Kamis, 31 Juli 2014

Adakah yang tersisa dari Ramadhan?

Saat Ramadhan, hari-hari senantiasa diisi dan diwarnai dengan nuansa ibadah. Shalat tepat waktu, mengerjakan shalat-shalat sunnah, Al-Quran teruntai disaat siang malam, pagi dan petang, masjida dan mushalla ramai setiap waktu, infaq dan shadaqah hingga syiar ketaatan dalam kedamaian islam yang mengisi berbagai ruang kehidupan.
  
Kini Ramadhan yang  indah itu telah berlalu,  apakah masih tersisa amalan-amalan yang senantiasa menghiasi hari-hari saat ramadhan?. Ramadhan selain bulan penuh rahmat, penuh ampunan, dilipatgandakannya pahala, dimakbulkannya doa, juga sebagai bulan pendidikan dan latihan, sebagai modal perjalanan dalam menapaki bulan-bulan berikutnya.

Maka sudah seyogyanya seorang muslim untuk mempertahankan amalan-amalan ibadahnya pasca ramadhan dengan mengusahakannya sekuat tenaga. Sesungguhnya para Ulama’ Rahimahumullah telah berkata : diantara tanda-tanda diterimanya amalan di sisi Allah adalah sesungguhnya Allah Ta’ala akan mengiringi kebaikan yang telah dilakukan dengan kebaikan-kebaikan yang lain maka kebaikan akan menyeru wahai saudaraku wahai saudaraku, demikian pula keburukan juga akan menyeru dengan seruan yang sama dan kita berlindung kepada Allah, maka apabila Allah menerima amalan seorang hamba di bulan Ramadhan dan dia bisa mengambil faedah dari bulan pendidikan ini dan konsisten dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla maka sesungguhnya dia berada dalam gerbong mereka orang-orang yang istiqomah dan mengharap amal ibadahnya diterima oleh Allah,
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman :


إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ () نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ()

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. QS: Fushshilat 30-31.

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ ()

Allah juga berfirman: “Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. QS: Al Maidah 56,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ ()

 “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran. QS: Al Ahqaaf 13.

Jikalau begitu maka para penumpang gerbong istiqomah akan selalu ada terus-menerus dari bulan Ramadhan yang satu ke bulan Ramadhan yang lain karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ ، وَ الْجُمْعَةُ إِلَى الجُمَعَة ُ وَرَمَضَانَ إلِىَ رَمَضَانَ مُكَفِرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الكَباَئِرَ
“Shalat lima waktu, dan Jum’at satu ke Jum’at lainnya, dan ramadhan satu ke Ramadhan lainnya adalah penebus dosa antara kesemuanya itu selagi seseorang menjauhi dosa-dosa besar”. HR.Muslim  

dan Allah Ta’ala juga berfirman :

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلا كَرِيمًا.

 “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). QS: An Nisaa’ 31.     

Inilah Rasulullah SAW selalu mengingatkan untuk senantiasa teguh pendirian dan istiqomah yaitu konsisten secara terus-menerus, semakin baik dan semakin baik lagi. Suatu ketika datanglah seorang sahabat kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan berkata : berikanlah wasiat kepadaku :

 قل آمنت بالله ثم استقم ) متفق عليه

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan bersabda: katakanlah aku beriman kepada Allah lalu istiqomahlah. HR. Bukhari dan Muslim

Kini saat bulan Ramadhan telah berlalu dan berganti dengan bulan Syawwal, saatnya tetap melanjutkan ibadah-ibadah sunnah, berupa shalat sunnah, tilawah Al-Quran, memperbanyak dzikir, infaq dan shadaqah, menebar syiar kebaikan dan kedamaian, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Diantara ibadah sunnah itu adalah puasa sunnah syawwal sebagai kontinuitas keistiqomahan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa wajib bulan Ramadhan adalah amalan sunnat yang dianjurkan bukan wajib. Seorang muslim dianjurkan mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal. Banyak sekali keutamaan dan pahala yang besar bagi puasa ini. Diantaranya, barangsiapa yang mengerjakannya niscaya dituliskan baginya puasa satu tahun penuh (jika ia berpuasa pada bulan Ramadhan). Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Abu Ayyub Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:

من صام رمضان وأتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh." (H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Rasulullah telah menjabarkan lewat sabda beliau:
من صام ستة أيام بعد الفطر كان تمام السنة : من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها )

"Barangsiapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal selepas 'Iedul Fitri berarti ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipat."

Dalam sebuah riwayat berbunyi:
جعل الله الحسنة بعشر أمثالها فشهر بعشرة أشهر وصيام ستة أيام تمام السنة

"Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa bulan Ramadhan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun." (H.R An-Nasa'i dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalam Shahih At-Targhib).

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dengan lafazh:
"Puasa bulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan. Sedang puasa enam hari bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Itulah puasa setahun penuh."

Para ahli fiqih madzhab Hambali dan Syafi'i menegaskan bahwa puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa Ramadhan setara dengan puasa setahun penuh, karena pelipat gandaan pahala secara umum juga berlaku pada puasa-puasa sunnat. Dan juga setiap kebaikan dilipat gandakan pahalanya sepuluh kali lipat.

Salah satu faedah terpenting dari pelaksanaan puasa enam hari bulan Syawal ini adalah menutupi
kekurangan puasa wajib pada bulan Ramadhan. Sebab puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan pasti tidak terlepas dari kekurangan atau dosa yang dapat mengurangi keutamaannya. Pada hari kiamat nanti akan diambil pahala puasa sunnat tersebut untuk menutupi kekurangan puasa wajib.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam :

"Amal ibadah yang pertama kali di hisab pada Hari Kiamat adalah shalat. Allah Ta'ala berkata kepada malaikat -sedang Dia Maha Mengetahui tentangnya-: "Periksalah ibadah shalat hamba-hamba-Ku, apakah sempurna ataukah kurang. Jika sempurna maka pahalanya ditulis utuh sempurna. Jika kurang, maka Allah memerintahkan malaikat: "Periksalah apakah hamba-Ku itu mengerjakan shalat-shalat sunnat? Jika ia mengerjakannya maka tutupilah kekurangan shalat wajibnya dengan shalat sunnat itu." Begitu pulalah dengan amal-amal ibadah lainnya." H.R Abu Dawud.

Semoga kita benar-benar mendapatkan bekal melanjutkan hari-hari yang tersisa ini dari ramadhan. Bekal yang meskipun sedikit namun mampu mempertahankan, mengamalkannya secara kontinyu dan meningkatkan agar semakin baik lagi.

Karena sesungguhnya sebaik-baik amalan yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang kontinyu meskipun hanya sedikit, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أيها الناس عليكم من الأعمال ما تطيقون فإن الله لا يمل حتى تملوا ، وإن أحب الأعمال إلى الله ما دووم عليه وإن قل وكان آل محمد صلى الله عليه وسلم إذا عملوا عملاً ثبتوه أي داوموا عليه ، رواه مسلم

“Wahai umat manusia hendaklah kalian melakukan amalan-amalan yang kalian mampu untuk memikulnya karena sesungguhnya Allah tidak akan merasa jenuh hingga kalian sendiri yang jenuh, dan sesungguhnya amalan-amalan yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang dikerjakan secara kontinyu meskipun hanya sedikit atau kecil, dan adalah keluarga Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam apabila mengerjakan sebuah amalan mereka menekuninya atau konsisten dalam menjalaninya” HR. Muslim.

Comments :

0 komentar to “Adakah yang tersisa dari Ramadhan?”

Posting Komentar


Hadits tentang Puasa Asyura (Hari kesepuluh bulan Muharram

Berdasarkanbeberapa hadits ditemukan anjuran Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kepada ummat Islam agar melaksanakan puasa di tanggal sepuluh bulan Muharram. Tanggal sepuluh bulan Muharram biasa disebut Yaum ’Aasyuura (Hari kesepuluh bulan Muharram).

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Seutama-utama berpuasa sesudah bulan Ramadhan ialah dalam bulan Allah yang dimuliakan - yakni Muharram - dan seutama-utama shalat sesudah shalat wajib ialah shaliatullail - yakni shalat sunnah di waktu malam." (Riwayat Muslim)

Suatu ketika Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mendapati kaum Yahudi sedang berpuasa pada hari ’Asyuura. Lalu beliau bertanya mengapa mereka berpuasa pada hari itu. Merekapun menjelaskan bahwa hal itu untuk memperingati hari dimana Allah telah menolong Nabi Musa bersama kaumnya dari kejaran Fir’aun dan balatentaranya. Bahkan pada hari itu pula Allah telah menenggelamkan Fir’aun sebagai akibat kezalimannya terhadap Bani Israil. Mendengar penjelasan itu maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam-pun menyatakan bahwa ummat Islam jauh lebih berhak daripada kaum Yahudi dalam mensyukuri pertolongan Allah kepada Nabi Musa. Maka beliau-pun menganjurkan kaum muslimin agar berpuasa pada hari ’Asyuura.


Selengkapnya

Kisah Nabi Ismail as

Sampai Nabi Ibrahim yang berhijrah meninggalkan Mesir bersama Sarah, isterinya dan Hajar, di tempat tujuannya di Palestina. Ia telah membawa pindah juga semua binatang ternaknya dan harta miliknya yang telah diperolehnya sebagai hasil usaha niaganya di Mesir.
Al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a.berkata:
Pertama-tama yang menggunakan setagi {setagen} ialah Hajar ibu Nabi Ismail tujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang telah lama berkumpul dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi belum juga hamil. tetapi walaubagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahasia yang disembunyikan itu dengan lahirnya Nabi Ismail a.s. .

Berita terbaru


 

Copyright © 2009 by The Power of Hikmah