Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 April 2014

Amalan berbonus rumah di surga

Setiap rumah yang kita tempati sekarang –sebagus apapun itu- akan rusak dan hancur. Sebabnya bisa beragam seperti kebakaran, gempa bumi, longsor, tertabrak kereta dan sebab lainnya. Jikapun rumah kita tetap kokoh maka ia tak akan bisa melindungi kita dari kematian. Inilah rumah kita di kehidupan dunia.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. Al-Nisa’: 78)
Untuk rumah di dunia ini, manusia terus bekerja keras, banting tulang, peras keringat siang-malam. Cari pinjaman sana-sini untuk mengredit rumah sepetak yang lusuh dan tak tahan lama. Padahal rumah tersebut akan fana, hancur, dan usang di makan masa. Atau dengan kemegahannya akan ditinggalkan oleh pemiliknya selama-lamanya.
Kehidupan akhirat pasti kita masuki. Tak satupun manusia bisa mengelak darinya. Di sana ada kehidupan yang lebih kekal dan abadi. Orang-orang beriman akan dimuliakan dengan rumah megah lagi indah sesuai dengan tingkat iman dan takwanya. Kenapa kita tidak lebih serius dan sungguh-sungguh berusaha mencari jalan dan mengupayakan sebab untuk memiliki rumah di sana?
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengabarkan kepada kita tentang sifat-sifat rumah surga yang sangat indah dan bahan bakunya.
لَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ وَلَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ وَمِلَاطُهَا الْمِسْكُ الْأَذْفَرُ وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَالْيَاقُوتُ وَتُرْبَتُهَا الزَّعْفَرَانُ مَنْ دَخَلَهَا يَنْعَمُ لَا يَبْأَسُ وَيَخْلُدُ لَا يَمُوتُ لَا تَبْلَى ثِيَابُهُمْ وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُمْ
“Bangunannya dari batu bata berupa perak dan emas, adukannya dari minyak wangi kesturi Al-Adzfar, kerikilnya dari mutiara dan permata, kerikilnya dari zakfaron. Siapa yang memasukinya akan merasa nikmat dan tidak akan meninggalkannya, kekal tidak akan mati, pakaiannya tidak kotor dan senantiasa muda tidak akan tua.” (HR. Al-Tirmidzi & Ahmad. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Jami’: 3116)
Amal-amal Berbonus Rumah di Surga
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengabarkan adanya beberapa amal yang berbonus rumah di surga. Sebagiannya terlihat ringan, sebagian lainnya butuh modal besar, dan sebagian lainnya membutuhkan pengorbanan. Di antara amal-amal tersebut adalah:
1. Membangun masjid karena Allah
    Dari Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu 'Anhu, berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
    مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّه لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّة
    “Siapa yang membangun satu masjid untuk Allah maka Allah akan membangunkan untuknya satu rumah di surga.” (Muttafaq ‘alaih)
    مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا مِنْ مَالٍ حَلَالٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّة
    “Siapa yang membangun satu masjid untuk Allah dari harta yang halal maka Allah akan membangunkan untuknya satu rumah di surga.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syuabul Iman, al-Thabrani dalam al-Ausath, dan lainnya)
    Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'Anhu, berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
    مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
    “Siapa membangun masjid karena Allah walau seperti sarang burung atau lebih kecil dari itu maka Allah akan membangunkan untuknya satu rumah di surga.” (HR. Ibnu Majah, al-Bazzar dan Ibnu Hibban. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 6128)
    2. Membaca surat Al-Ikhlas sepuluh kali
      Dari hadits Mu’adz bin Anas Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
      مَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ
      “Siapa yang membaca Qul Huwallaahu Ahad (Surat Al-Ikhlash) sampai menghatamkannya sebanyak sepuluh kali niscaya Allah bangunkan untuknya intana di surga.” (HR Ahmad dari Mu’adz bin Anas al-Juhani & dihassankan Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 589)
      3. Memuji Allah dan beristirja’ saat diuji dengan kematian anak
        Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu 'Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
        إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ
        “Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada MalaikatNya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?” Mereka berkata, “Benar.” Allah berfirman, “kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?” Mereka menjawab, “Benar.” Allah berfirman, “Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?” Mereka berkata, “Ia memuji-Mu dan mengucapkan istirja’ (Innaa Lilaahi Wa Innaa Ilaihi Raaji’uun).” Allah berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku rumah di surga dan namai ia Rumah Pujian.” (HR. Al-Tirmidzi dan beliau menghassankannya , juga dihasankan oleh Syaikh Al AlBani di Shahih al-Jami’)
        4. Membaca doa masuk pasar
          Dari Umar bin al-Khathab Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
          مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
          “Barangsiapa masuk pasar lalu ia mengucapkan, “Laa Ilaaha Illallaahu wahdahu Laa Syariikalahu, Lahul Mulku Walahul Hamdu, Yuhyii, Wayumiitu, Wahuwa Hayyun Laa Yamuutu, Biyadihil Khairu, Wahuwa ‘alaa Kulli Syai-in Qadiir” niscaya Allah menuliskan baginya sejuta kebaikan, menghapuskan darinya sejuta kejelekan, mengangkat derajatnya hingga sejuta derajat, dan membangunkan untuknya rumah di surga”." ( HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim. Syaikh Al-Albani menyatakan, hadits tersebut hasan)
          5. Menutup celah barisan shaf shalat
            Dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'Anha, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
            مَنْ سَدَّ فُرْجَةً بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ وَ رَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً
            “Siapa menutup celah (pada barisan shalat) niscaya Allah bangunkan untuknya rumah di surga dan mengangkat derajatnya dengan perbuatannya itu.” (HR. Al-Muhamili dalam Amaalinya dan dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 1892)
            6. Menjaga shalat-shalat sunah rawatib dua belas rakaat
              Dari Ummu Habibab Radhiyallahu 'Anha, berkata: Aku Mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallambersabda,
              مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ
              “Siapa yang shalat 12 rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan untuknya rumah di surga.” (HR. Muslim)
              Shalat 12 raka’at itu adalah empat rakaat sebelum Dzuhur & dua rakaat sesudahnya, dua raka’at sesudah maghrib, dua rakaat setelah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh sebagaimana yang terdapat dalam hadits ‘Aisyah dalam Sunan al-Tirmidzi dan Ibnu majah.
              7. Iman, islam, hijrah dan berjihad fi sabilillah
              Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
                أَنَا زَعِيمٌ وَالزَّعِيمُ الْحَمِيلُ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَهَاجَرَ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَأَنَا زَعِيمٌ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى غُرَفِ الْجَنَّةِ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلَمْ يَدَعْ لِلْخَيْرِ مَطْلَبًا وَلَا مِنْ الشَّرِّ مَهْرَبًا يَمُوتُ حَيْثُ شَاءَ أَنْ يَمُوتَ
                “Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk islam dan berhijrah dengan sebuah rumah di pinggir surga, di tengah surga, dan surga yang paling tinggi. Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk Islam dan berjihad dengan rumah di pinggir surga, di tengah surga dan di surga yang paling tinggi.Barangsiapa yang melakukan itu, ia tidak membiarkan satupun kebaikan, dan lari dari semua keburukan, ia meninggal, di mana saja Dia kehendaki untuk meninggal.” (HR. Al-Nasai, Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani rahimahullah).
                8. Menghindari debat walaupun dalam posisi yang benar
                9. Meninggalkan dusta dalam becanda
                10. Berakhlak mulia
                Dari Abu Umamah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
                أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَه
                “Aku menjamin sebuah rumah di pinggir jannah (surga) bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan berkepanjangan meskipun ia dalam posisi yang benar, juga sebuah rumah di tengah jannah bagi siapa saja yang meninggalkan berbohong walaupun ia sedang bercanda, serta sebuah rumah di puncak jannah bagi siapa saja yang berakhlak mulia.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani menghassankannya di Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 1648)
                Inilah beberapa amalan yang diberitakan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berbonus rumah di surga. Orang hidup pasti menginginkan tempat tinggal yang indah, megah, sejuk, dan nyaman. Maka untuk kehidupan yang kekal di akhirat hendaknya lebih semangat memiliki rumah idaman tersebut. Tentunya rumah-rumah itu membutuhkan pernak-pernik dan perhiasannya; dari kamar dan ruangan, perbendaharaan dan perhiasannya, serta pepohonannya.  
                Semoga kita bisa istiqomah dan mendapatkannya. Amin. 

                dikutip dari badrul tamam voa-islam.com

                Selasa, 06 Agustus 2013

                Sunnah Nabi Saat dan Sesudah Idul Fitri

                Ketika hari raya Idul Fitri, kemenangan dan kegembiraan umat islam dimana-mana yaitu kegembiraan setelah menjalani ujian dibulan ramadahan sebagai modal perjalanan kisah hidup dibulan-bulan selanjutnya, untuk melengkapi dan bisa lebih afdhol, ada beberapa hal yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.yang mesti kita contoh. Diantaranya adalah :
                1. Memakai Busana Terbaik.
                2. Sunah memakan sesuatu sebelum ke tempat Shalat Idul Fitri.
                3. Sunah membaca takbir sejak keluar untuk shalat Id hingga kembalinya.
                4. Sunah pergi dan pulang shalat Id melalui jalan yang berbeda.
                5. Disunahkan shalat Idul fitri di tempat terbuka.
                6. Sunah mendengarkan Khutbah Id.
                7. Sedekah.
                8. Membayar zakat fitrah.
                9. Sunah silaturahmi kepada kerabat dan mengucapkan ucapan yang khas.
                10. Makan sebelum berangkat shalat idul fitri
                11. Sunah puasa enam hari di bulan Syawal

                berikut adalah hadits-haditsnya..

                1. Memakai Busana Terbaik.

                Nabi mensunnahkan umatnya untuk mengenakan busana terbaik, meski tidak harus baru ketika datang dua hari raya. ”Sesungguhnya Nabi SAW memakai burdah atau jubah merah pada kedua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dari hari Jumat. (HR Imam Syafii).

                2. Sunah memakan sesuatu sebelum ke tempat Shalat Idul Fitri.
                “Rasulullah biasanya tidak pergi pada hari raya Idul Fitri sebelum makan, dan pada hari raya Idul Adha beliau makan setelah pulang shalat.” (HR Daratughni).

                3. Sunah membaca takbir sejak keluar untuk shalat Id hingga kembalinya.
                “Dari Ibnu Umar bahwasanya dia mengeraskan suaranya dalam bertakbir dan bertahmid pada waktu dia keluar untuk shalat Idul Fitri sehingga tiba di tempat shalat dan berhenti ketika imam telah siap di mimbar.” (HR Imam Syafii).

                4. Sunah pergi dan pulang shalat Id melalui jalan yang berbeda.
                “Nabi bila pergi shalat Id, maka beliau kembali melalui jalan lain yang tidak dilaluinya ketika berangkat.” (HR Ahmad Muslim dan Tarmzi dari Abu Hurairah ra).

                5. Disunahkan shalat Idul fitri di tempat terbuka.
                Disunahkan shalat Idul fitri di tempat terbuka kecuali ada halangan (hujan, misalnya). ”Nabi Muhammad Saw shal Id di padang pasir.” (HR Imam Syafii).

                6. Sunah mendengarkan Khutbah Id.
                “Sesungguhnya kami sedang berkhutbah, barangsiapa yang ingin mendengarkan, duduklah dan barangsiapa yang ingin pergi, pergilah.” (HR Imam Nasa’i, Ibnu Majah dan Abu Daud).

                7. Sedekah.
                “Nabi saw shalat dua rakaat pada Id tanpa shalat (sunah) sebelum maupun sesudahnya, kemudian datang Bilal bersama sekelompok wanita. Lalu beliau memerintahkan mereka bersedekah, dan seorang wanita menyedekahkan anting-anting dan kalung yang dipakainya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

                Hadis lainnya, ”Ibnu Abbas berkata, ”saya diajak Rasulullah saw menghadiri shalat Idul Fitri atau Idul Adha, beliau shalat lalu berkhutbah. Setelah itu beliau mengunjungi tempat wanita, mengajari dan menasehati mereka serta memerintahkan mereka agar bersedekah. (HR Bukhari).

                8. Membayar zakat fitrah.
                Nabi memerintahkan agar zakat fitrah dibayarkan sebelum shalat Id. “ Dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasululllah saw mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang sedang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan kotor, dan sebagai makanan bagi orang – orang yang miskin. Barangsiapa yang mengeluarkan sebelum shalat (Idul Fitri), zakatnya diterima; dan barangsiapa mengeluarkannya sesudah shalat, zakatnya hanya sebagai sedekah biasa.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).


                9. Sunah silaturahmi kepada kerabat dan mengucapkan ucapan yang khas.
                dari Zubair bin Nufail berkata “Adalah sahabat – sahabat Rasulullah apabila bertemu pada Hari Raya sebagian dari mereka mengucapkan ‘taqabbalallahu minnaa wa minka’ (semoga Allah menerima amal kami dan amal anda).” sanad Hasan (fathul Bari 2:304).

                jadi bukan mengucapkan "minal aidin wal faizin (dari orang-orang orang-orang yg kembali fitri dan meraih kemenangan), terlebih lagi perlu diketahui bahwa artinya BUKAN mohon maaf lahir batin. Karena itu adalah
                bukan hadits DAN hanya ungkapan doa saja, yang lengkapnya, " Waj alana wa iyyaakum minal 'aaidin wal faaidzin" (semoga Allah menjadikan kami dan dan anda sekalian dari golongan orang-orang yang kembali (fitri) dan meraih kemenangan).
                sedangkan minta maaf tidak ada larangan, bahkan dianjurkan setiap saat, karena pada saat idul fitri kita berjumpa dengan banyak saudara dan orang, kita bisa menggunakan kesempatan moment ini untuk saling memaafkan.

                10. Makan sebelum shalat Idul fitri


                Dari Ibu Buraidah dari Ayahnya Radiyallahuanhu berkata "Rasulullah SAW tidak keluar (rumah) pada saat Idul Fitri (untuk sholat ied) sebelum makan dan tidak makan pada saat Idul Adha sebelum shalat ied" HR Ahmad dan Tirmidzi, shahih menurut Ibnu Hibban. Bulughul maram no. 512


                11. Sunah puasa enam hari di bulan Syawal.
                ”Barangsiapa berpuasa Ramadhan penuh kemudian diikuti dengan puasa enam hari Syawal, maka ia laksana berpuasa setahun.” (HR Muslim)

                Enam hari bulan Syawwal itu boleh di permulaan bulan yakni tanggal 2 sampai dengan 7 Syawwal dan boleh pula di pertengahan atau di akhir bulan. Jadi asalkan bulan Syawwal boleh. Boleh pula dipersambungkan atau dipisah-pisahkan, seperti dilakukan tanggal 2,5,10,20,26 dan 28 Syawwal. Tetapi tanggal 1 Syawwal jangan digunakan berpuasa, sebab Idul-fitri dan haram berpuasa di dalamnya.

                semoga bermanfaat..

                Penulis ucapkan:
                Taqobbalallahu minna wa minka (kum) taqobbal yaa kariim.
                Mohon maaf lahir dan Batin.

                sumber: dari berbagai sumber

                Selasa, 24 Juli 2012

                Amalan Sunnah di Bulan Ramadhan

                Ramadhan adalah bulan sarana memperbanyak amalan-amalan sunnah. Karena amalan sunnah pahalanya akan dilipatgandakan khusus bulan Ramadhan. Dalam hadits yg diriwayatkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah antara lain disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Siapa saja yang mendekatkan diri kpd Allah dengan perbuatan baik (sunnah/mandub) pada bulan Ramadhan, (ia diganjar pahala) sama seperti menunaikan suatu kewajiban (fardlu) pada bulan yang lain. Siapa saja yang menunaikan kewajiban (fardlu) di bulan Ramadlan , (ia diganjar pahala) sama dengan orang yang mengerjakannya 70 kali kewajiban tersebut di bulan yang lain".
                dan Allah SWT yg Maha Mengetahui dan paling berhak memberikan penilaian dan pahala dari aktivitas kaum muslimin yang berpuasa di bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan sendiri tak ada bandingannya, karena Allah SWT sendiri yang akan menghitung balasannya, sebagaimana disebut dalam sabda Rasulullah saw: "Segala amal kebajikan anak Adam dilipatgandakan pahalanya dengan 10 hingga 700 kali lipat. Allah berfirman: 'kecuali puasa, puasa itu untukKu dan Aku (sendiri) yang akan mem- berikan pahala kepadanya. Dia telah mening- galkan syahwat dan makan minum lantaran Aku'..." (HR. Muslim).

                Berikut diantara amalan-amalanya:

                Menyegerakan berbuka puasa.
                Yang dimaksud menyegerakan berbuka puasa, bukan berarti kita berbuka sebelum waktunya. Namun yang dimaksud adalah ketika matahari telah tenggelam atau ditandai dengan dikumandangkannya adzan Maghrib, maka segeralah berbuka. Dan tidak perlu sampai selesai adzan atau selesai shalat Maghrib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
                لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
                “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098)

                Dalam hadits yang lain disebutkan,
                لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ
                “Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih). Inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka. (Lihat Shifat Shoum Nabi, 63)

                Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,
                كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
                “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)

                Berbuka dengan rothb, tamr atau seteguk air.
                Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik di atas, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menyukai berbuka dengan rothb (kurma basah) karena rothb amat enak dinikmati. Namun kita jarang menemukan rothb di negeri kita karena kurma yang sudah sampai ke negeri kita kebanyakan adalah kurma kering (tamr). Jika tidak ada rothb, barulah kita mencari tamr (kurma kering). Jika tidak ada kedua kurma tersebut, maka bisa beralih ke makanan yang manis-manis sebagai pengganti. Kata ulama Syafi'iyah, ketika puasa penglihatan kita biasa berkurang, kurma itulah sebagai pemulihnya dan makanan manis itu semakna dengannya (Kifayatul Akhyar, 289). Jika tidak ada lagi, maka berbukalah dengan seteguk air. Inilah yang diisyaratkan dalam hadits Anas di atas.
                Sebelum makan berbuka, ucapkanlah 'bismillah' agar tambah barokah.
                Inilah yang dituntunkan dalam Islam agar makan kita menjadi barokah, artinya menuai kebaikan yang banyak.
                Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
                إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ
                "Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta'ala (yaitu membaca 'bismillah'). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta'ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”." (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih)
                Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata,
                يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ »
                "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?" Beliau bersabda: "Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri." Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda: "Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya." (HR. Abu Daud no. 3764, hasan). Hadits ini menunjukkan bahwa agar makan penuh keberkahan, maka ucapkanlah bismilah serta keberkahan bisa bertambah dengan makan berjama'ah (bersama-sama).

                Berdo'a ketika berbuka "Dzahabazh zhoma-u ..."
                Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma berkata,
                كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».
                "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: 'Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)'." (HR. Abu Daud no. 2357, hasan). Do'a ini bukan berarti dibaca sebelum berbuka dan bukan berarti puasa itu baru batal ketika membaca do'a di atas. Ketika ingin makan, tetap membaca 'bismillah' sebagaimana dituntunkan dalam penjelasan sebelumnya. Ketika berbuka, mulailah dengan membaca 'bismillah', lalu santaplah beberapa kurma, kemudian ucapkan do'a di atas 'dzahabazh zhoma-u ...'. Karena do'a di atas sebagaimana makna tekstual dari "إِذَا أَفْطَرَ ", berarti ketika setelah berbuka.

                Catatan: Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)” Do’a ini ada sebagian orang mengatakan berasal dari hadits hadits dho’if (lemah). Begitu pula do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang mungkin belum diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut benar dan baik. Sehingga do’a shahih yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan sebelum menemukan hadits yg kuat atau lebih kuat sanadnya.

                Berdo'a secara umum ketika berbuka.
                Ketika berbuka adalah waktu mustajabnya do'a. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Manfaatkan moment tersebut untuk berdo'a kepada Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
                ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
                “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih). Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 194).

                Memberi makan berbuka.
                Jika kita diberi kelebihan rizki oleh Allah, manfaatkan waktu Ramadhan untuk banyak-banyak berderma, di antaranya adalah dengan memberi makan berbuka karena pahalanya yang amat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
                مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
                “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, hasan shahih)

                Mendoakan orang yang beri makan berbuka.
                Ketika ada yang memberi kebaikan kepada kita, maka balaslah semisal ketika diberi makan berbuka. Jika kita tidak mampu membalas kebaikannya dengan memberi yang semisal, maka doakanlah ia. Dari 'Abdullah bin 'Umar, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
                وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ
                "Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak mendapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do'akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya." (HR. Abu Daud no. 1672 dan Ibnu Hibban 8/199, shahih)
                Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,
                اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى
                “Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]" (HR. Muslim no. 2055)

                Ketika berbuka puasa di rumah orang lain.
                Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan,
                أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ
                “Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud no. 3854 dan Ibnu Majah no. 1747 dan Ahmad 3/118, shahih)

                Ketika menikmati minumman susu saat berbuka.
                Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
                مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ
                "Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath'imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu wa 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu." (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322, hasan)

                Minum dengan tiga nafas dan membaca 'bismillah'.
                Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
                كان يشرب في ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات
                “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut beliau, beliau menyebut nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, beliau bertahmid (memuji) Allah Ta’ala. Beliau lakukan seperti ini tiga kali.” (Shahih, As Silsilah Ash Shohihah no. 1277)

                Berdoa sesudah makan.
                Di antara do’a yang shahih yang dapat diamalkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah do’a yang diajarkan dalam hadits berikut. Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
                مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
                "Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath'amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Tirmidzi no. 3458, hasan)
                Namun jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah” setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
                إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
                “Sesungguhnya Allah Ta'ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734) An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah” saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17: 51)

                Selamat berpuasa dan SEMOGA BERMANFAAT



                Kamis, 13 Mei 2010

                HAKEKAT ULANG TAHUN


                Saat seseorang menyatakan “ulang tahun” tentang kelahirannya, yang sering kita lihat dengan pesta pora, sebenarnya saat itu berkuranglah 1 tahun jatah umur yang telah ditetapkan oleh Alloh SWT terhadap makhluknya yang berasal dari setetes nutfah namun suka membangkang dan menentang perintah-Nya. Sadar atau tidak, mau atau tidak mau bahkan suka atau tidak, sesungguhnya kita akan binasa atau hancur dan kembali kepada Alloh SWT, karena “Sesunggunya setiap segala sesuatu pasti akan hancur (binasa), QS Al-Qhasash 88,

                Bukankah kita sering mengharap dengan harapan yang berlebihan dan bertindak/beraktivitas hingga sering melupakan kewajiban utama manusia yaitu ibadah, tapi sibuk dan paranoid tentang kedudukan, status, jabatan, dan kehormatan di dunia yang belum pasti, sedangkan kita lupa sesuatu yang pasti yaitu mati. Pada dasarnya menikmati dunia, bersenang-senang itu dalam Islam sah-sah dan boleh-boleh saja, asalkan tidak berlebih-lebihan, tidak ada unsur pemaksaan, tidak ada unsur mubazir, tidak melampaui batas atau bahkan menjurus kemaksiatan dan dosa naudzubillah.
                Alloh SWT mengingatkan kepada manusia “Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS.
                Al-‘Arof: 31)

                “Ulang tahun” adalah waktu untuk muhasabah/intropeksi diri bagi seseorang mengenai segala amal yang telah diperbuat selama ini, apakah amal perbuatan tersebut sudah sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Alloh SWT ataukah malah sebaliknya? Rasulullah SAW yang sangat sayang umatnya mengingatkan dalam sebuah hadit yaitu


                Dari Syaddan bin Aus ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Orang yang cerdas itu adalah yang menghitung dirinya di dunia sebelum dihitung di hari kiamat. Dan yang bekerja untuk masa sesudah kematiannya. Dan orang yang lemah itu adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi berharap kepada Allah .
                juga Diriwayatkan bahwa Umar ra berkata, Hitung-hitunglah dirimu sebelum kamu dihitung di hari kiamat.

                Sedangkan ulama juga selalu mengingatkan diantaranya adalah Maimun bin Mahran juga berkata, Tidaklah seorang hamba Allah itu bertaqwa, kecuali dia menghitung-hitung dirinya sebagaimana dia menghitung rekannya, darimana makannya dan pakaiannya.

                namun sering hari dimana “umur dikurangi” bukan dipakai untuk bermuhasabah terhadap apa yang telah diperbuat namun malah justru digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat bahkan sampai meninggalkan sholat dan maksiat naudzubillah….
                marilah sebelum nafas terhenti, muhasabah mulai dini, insyaallah damai dunia dan ukhrawi.
                Wallahu ‘alam bishshawab

                Sabtu, 19 September 2009

                Sunnah Nabi Saat dan Sesudah Idul Fitri

                Ketika hari raya Idul Fitri, kemenangan dan kegembiraan umat islam dimana-mana yaitu kegembiraan setelah menjalani ujian dibulan ramadahan sebagai modal perjalanan kisah hidup dibulan-bulan selanjutnya, untuk melengkapi dan bisa lebih afdhol, ada beberapa hal yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.yang mesti kita contoh. Diantaranya adalah :
                1. Memakai Busana Terbaik.
                2. Sunah memakan sesuatu sebelum ke tempat Shalat Idul Fitri.
                3. Sunah membaca takbir sejak keluar untuk shalat Id hingga kembalinya.
                4. Sunah pergi dan pulang shalat Id melalui jalan yang berbeda.
                5. Disunahkan shalat Idul fitri di tempat terbuka.
                6. Sunah mendengarkan Khutbah Id.
                7. Sedekah.
                8. Membayar zakat fitrah.
                9. Sunah silaturahmi kepada kerabat dan mengucapkan ucapan yang khas.

                10. Makan sebelum berangkat shalat idul fitri
                11. Sunah puasa enam hari di bulan Syawal

                berikut adalah hadits-haditsnya..

                1. Memakai Busana Terbaik.

                Nabi mensunnahkan umatnya untuk mengenakan busana terbaik, meski tidak harus baru ketika datang dua hari raya. ”Sesungguhnya Nabi SAW memakai burdah atau jubah merah pada kedua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dari hari Jumat. (HR Imam Syafii).

                2. Sunah memakan sesuatu sebelum ke tempat Shalat Idul Fitri.

                “Rasulullah biasanya tidak pergi pada hari raya Idul Fitri sebelum makan, dan pada hari raya Idul Adha beliau makan setelah pulang shalat.” (HR Daratughni).

                3. Sunah membaca takbir sejak keluar untuk shalat Id hingga kembalinya.

                “Dari Ibnu Umar bahwasanya dia mengeraskan suaranya dalam bertakbir dan bertahmid pada waktu dia keluar untuk shalat Idul Fitri sehingga tiba di tempat shalat dan berhenti ketika imam telah siap di mimbar.” (HR Imam Syafii).

                4. Sunah pergi dan pulang shalat Id melalui jalan yang berbeda.

                “Nabi bila pergi shalat Id, maka beliau kembali melalui jalan lain yang tidak dilaluinya ketika berangkat.” (HR Ahmad Muslim dan Tarmzi dari Abu Hurairah ra).

                5. Disunahkan shalat Idul fitri di tempat terbuka.

                Disunahkan shalat Idul fitri di tempat terbuka kecuali ada halangan (hujan, misalnya). ”Nabi Muhammad Saw shal Id di padang pasir.” (HR Imam Syafii).

                6. Sunah mendengarkan Khutbah Id.

                “Sesungguhnya kami sedang berkhutbah, barangsiapa yang ingin mendengarkan, duduklah dan barangsiapa yang ingin pergi, pergilah.” (HR Imam Nasa’i, Ibnu Majah dan Abu Daud).

                7. Sedekah.

                “Nabi saw shalat dua rakaat pada Id tanpa shalat (sunah) sebelum maupun sesudahnya, kemudian datang Bilal bersama sekelompok wanita. Lalu beliau memerintahkan mereka bersedekah, dan seorang wanita menyedekahkan anting-anting dan kalung yang dipakainya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

                Hadis lainnya, ”Ibnu Abbas berkata, ”saya diajak Rasulullah saw menghadiri shalat Idul Fitri atau Idul Adha, beliau shalat lalu berkhutbah. Setelah itu beliau mengunjungi tempat wanita, mengajari dan menasehati mereka serta memerintahkan mereka agar bersedekah. (HR Bukhari).

                8. Membayar zakat fitrah.

                Nabi memerintahkan agar zakat fitrah dibayarkan sebelum shalat Id. “ Dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasululllah saw mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang sedang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan kotor, dan sebagai makanan bagi orang – orang yang miskin. Barangsiapa yang mengeluarkan sebelum shalat (Idul Fitri), zakatnya diterima; dan barangsiapa mengeluarkannya sesudah shalat, zakatnya hanya sebagai sedekah biasa.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).


                9. Sunah silaturahmi kepada kerabat dan mengucapkan ucapan yang khas.

                dari Zubair bin Nufail berkata “Adalah sahabat – sahabat Rasulullah apabila bertemu pada Hari Raya sebagian dari mereka mengucapkan ‘taqabbalallahu minnaa wa minka’ (semoga Allah menerima amal kami dan amal anda).” sanad Hasan (fathul Bari 2:304).

                jadi bukan mengucapkan "minal aidin wal faizin (dari orang-orang orang-orang yg kembali fitri dan meraih kemenangan), terlebih lagi perlu diketahui bahwa artinya BUKAN mohon maaf lahir batin. Karena itu adalah
                bukan hadits DAN hanya ungkapan doa saja, yang lengkapnya, " Waj alana wa iyyaakum minal 'aaidin wal faaidzin" (semoga Allah menjadikan kami dan dan anda sekalian dari golongan orang-orang yang kembali (fitri) dan meraih kemenangan).
                sedangkan minta maaf tidak ada larangan, bahkan dianjurkan setiap saat, karena pada saat idul fitri kita berjumpa dengan banyak saudara dan orang, kita bisa menggunakan kesempatan moment ini untuk saling memaafkan.

                10. Makan sebelum shalat Idul fitri


                Dari Ibu Buraidah dari Ayahnya Radiyallahuanhu berkata "Rasulullah SAW tidak keluar (rumah) pada saat Idul Fitri (untuk sholat ied) sebelum makan dan tidak makan pada saat Idul Adha sebelum shalat ied" HR Ahmad dan Tirmidzi, shahih menurut Ibnu Hibban. Bulughul maram no. 512


                11. Sunah puasa enam hari di bulan Syawal.

                ”Barangsiapa berpuasa Ramadhan penuh kemudian diikuti dengan puasa enam hari Syawal, maka ia laksana berpuasa setahun.” (HR Muslim)

                Enam hari bulan Syawwal itu boleh di permulaan bulan yakni tanggal 2 sampai dengan 7 Syawwal dan boleh pula di pertengahan atau di akhir bulan. Jadi asalkan bulan Syawwal boleh. Boleh pula dipersambungkan atau dipisah-pisahkan, seperti dilakukan tanggal 2,5,10,20,26 dan 28 Syawwal. Tetapi tanggal 1 Syawwal jangan digunakan berpuasa, sebab Idul-fitri dan haram berpuasa di dalamnya.

                semoga bermanfaat..

                Penulis ucapkan:
                Taqobbalallahu minna wa minka (kum) taqobbal yaa kariim.
                Mohon maaf lahir dan Batin.

                sumber: dari berbagai sumber

                Rabu, 20 Mei 2009

                HAKEKAT ULANG TAHUN

                HAKEKAT ULANG TAHUN

                Saat seseorang menyatakan “ulang tahun” tentang kelahirannya, yang sering kita lihat dengan pesta pora, sebenarnya saat itu berkuranglah 1 tahun jatah umur yang telah ditetapkan oleh Alloh SWT terhadap makhluknya yang berasal dari setetes nutfah namun suka membangkang dan menentang perintah-Nya. Sadar atau tidak, mau atau tidak mau bahkan suka atau tidak, sesungguhnya kita akan binasa atau hancur dan kembali kepada Alloh SWT, karena “Sesunggunya setiap segala sesuatu pasti akan hancur (binasa), QS Al-Qhasash 88,

                Bukankah kita sering mengharap dengan harapan yang berlebihan dan bertindak/beraktivitas hingga sering melupakan kewajiban utama manusia yaitu ibadah, tapi sibuk dan paranoid tentang kedudukan, status, jabatan, dan kehormatan di dunia yang belum pasti, sedangkan kita lupa sesuatu yang pasti yaitu mati. Pada dasarnya menikmati dunia, bersenang-senang itu dalam Islam sah-sah dan boleh-boleh saja, asalkan tidak berlebih-lebihan, tidak ada unsur pemaksaan, tidak ada unsur mubazir, tidak melampaui batas atau bahkan menjurus kemaksiatan dan dosa naudzubillah.
                Alloh SWT mengingatkan kepada manusia “Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS.
                Al-‘Arof: 31)

                “Ulang tahun” adalah waktu untuk muhasabah/intropeksi diri bagi seseorang mengenai segala amal yang telah diperbuat selama ini, apakah amal perbuatan tersebut sudah sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Alloh SWT ataukah malah sebaliknya? Rasulullah SAW yang sangat sayang umatnya mengingatkan dalam sebuah hadit yaitu

                Dari Syaddan bin Aus ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Orang yang cerdas itu adalah yang menghitung dirinya di dunia sebelum dihitung di hari kiamat. Dan yang bekerja untuk masa sesudah kematiannya. Dan orang yang lemah itu adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi berharap kepada Allah .
                juga Diriwayatkan bahwa Umar ra berkata, Hitung-hitunglah dirimu sebelum kamu dihitung di hari kiamat.

                Sedangkan ulama juga selalu mengingatkan diantaranya adalah Maimun bin Mahran juga berkata, Tidaklah seorang hamba Allah itu bertaqwa, kecuali dia menghitung-hitung dirinya sebagaimana dia menghitung rekannya, darimana makannya dan pakaiannya.

                namun sering hari dimana “umur dikurangi” bukan dipakai untuk bermuhasabah terhadap apa yang telah diperbuat namun malah justru digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat bahkan sampai meninggalkan sholat dan maksiat naudzubillah….
                marilah sebelum nafas terhenti, muhasabah mulai dini, insyaallah damai dunia dan ukhrawi.
                Wallahu ‘alam bishshawab

                Kamis, 15 Januari 2009

                SHOLAT TAHAJUD MENURUT MEDIS

                Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yangmelakukannya mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah(Qs Al-Isra:79) tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran.Menurut hasil penelitian Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya,salah satu shalat sunah itu bisa membebaskan seseorang dariserangan infeksi dan penyakit kanker.Tidak percaya?"Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. "Jika anda melakukannyasecara rutin, benar, khusuk, dan ikhlas, niscaya and terbebasdari infeksi dan kanker". Ucap Sholeh. Ayah dua anak itu bukan'tukang obat' jalanan. Dia melontarkan pernyataanya itu dalamdesertasinya yang berjudul 'Pengaruh Sholat tahajjud terhadappeningkatan Perubahan Response ketahanan Tubuh Imonologik:Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi"Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalambidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana UniversitasSurabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan lalu. Selamaini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakan ibadahsalat tambahan atau sholat sunah.Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya,khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkanrespons ketahannan tubuh (imonologi) khususnya padaimonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsidan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuanindividu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi (coping).Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedarmenggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunahmendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat,ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan.Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagaipersoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapatdibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selamaini dipandang sebagai misteri, dapat dibuktikan secarakuantitatif melalui sekresi hormon kortisol.Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh.Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi harinormalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter."Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikanorang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu sebaliknya.Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantahparadigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam)semata-mata dogma atau doktrin.Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitianterhadap 41 responden sisa SMU Luqman Hakim PondokPesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa itu, hanya23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjudselama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswayang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholatdimulai pukul 02-00-3:30 sebanyak 11* rakaat, masing-masingdua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya,hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya(paramita, Prodia dan Klinika).Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yangrajin bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orangyang tidak melakukan tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlasbertahajud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuanindividual untuk menaggulangi masalah-masalah yangdihadapi dengan stabil."jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligussarat dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhikontrol kognisi. Dengan cara memperbaiki persepsi danmotivasi positif dan coping yang efectif, emosi yang positifdapat menghindarkan seseorang dari stress,"Nah, menurut Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekaliterhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahajjudyang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas sertatidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yangbaik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakitinfeksi dan kanker. Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medismenunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuatorang mempunyai ketahanan tubuh yang baik.Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampumengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yangdiberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menungguuntuk bisa masuk diakal kita ???????Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karenabeberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya.Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidakdapat diterima oleh akal fikiran.Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islamdia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab ituia telah membuka sebuah klinik yang bernama "PengobatanMelalui Al Qur'an" Kajian pengobatan melalui Al-Quranmenggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yangterdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, bijihitam (Jadam) dan sebagainya. Ketika ditanya bagaimana diatertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahubahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapaurat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah.Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yangcukup untuk berfungsi secara yang lebih normal.Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya diamenemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf didalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebutbersembahyang yaitu ketika sujud.Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentusaja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebutmengikut kadar sembahyang 5 waktu yang di wajibkan olehIslam.Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yangtidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerimadarah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Olehkarena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganutagama Islam "sepenuhnya" karena sifat fitrah kejadiannya memangtelah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.Kesimpulannya : Makhluk Allah yang bergelar manusia yangtidak bersembahyang apalagi bukan yang beragama Islamwalaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnyadi dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangandi dalam membuat keputusan secara normal.Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidaksegan-segan untuk melakukan hal-hal yang bertentangandengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahuiperkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuaidengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untukmempertimbangkan secara lebih normal. Maka tidak heranlahtimbul bermacam-macam gejala-gejala sosial Masyarakat saat ini.Untuk info lebih lanjut silakan subscribe ke milis :ahad-net@yahoogroups.com

                Sabar menghadapi musibah

                Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa Allah berfirman, “Tidak ada seorang hamba pun yang terkena musibah, lalu berpegang kepada-Ku, kecuali Aku akan memberinya sebelum ia meminta kepada-Ku, dan Aku akan mengabulkan sebelum ia berdoa kepada-Ku. Dan tidak ada seorang hamba pun yang terkena musibah lalu bergantung kepada makhluk selain Aku, kecuali Aku tutup pintu-pintu langit baginya.�
                Di sini Allah swt. mengajarkan cara mengatasi musibah, yaitu dengan bermunajat kepada-Nya.

                Al-Junaid al-Bahdady berkata, “Bala adalah penerang bagi orang-orang yang arif, kebangkitan bagi orang-orang yang menghendaki rido Allah, kebaikan bagi orang mukmin dan kebinasaan bagi mereka yang lengah! Tidak seorang pun akan mendapat manisnya iman sehingga dia ditimpa bencana lalu rido dan sabar.�
                � Dalam hadis tersebut kita mendapat pelajaran bahwa apabila kita memilih rido dan sabar (di samping ikhtiar) akan datang manisnya iman. adalah metode yang kita pilih (disamping ikhtiar), kita seyogyanya akan merasakan manisnya iman.

                Jabir r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Malu merupakan perhiasan, takwa merupakan kemuliaan, dan sebaik-baiknya kendaraan adalah sabar. Menanti jalan keluar dari Allah swt. adalah ibadah.� (H.R. Hakim)
                � Secara harfiah, Islam berarti berserah diri. Oleh karena itu, memaksakan kehendak bukanlah metode yang terpilih secara Islam. Kun fa ya kun, jadilah apa yang dikehendaki-Nya, bukan apa yang kita kehendaki. Dalam hal ini, kesabaran merupakan metode yang dianjurkan oleh Islam. Namun, makna sabar saat ini sudah disalahartikan dan dianggap sebagai suatu �kebodohan� dalam masyarakat sehingga umat Islam mengalah demi mengusung nama sabar.

                Rasulullah saw. bersabda bahwa Allah swt. berfirman, “Apabila Aku sudah menimpakan musibah kepada salah seorang hamba-Ku, baik pada badan, harta maupun anaknya, kemudian dia menghadapinya dengan kesabaran yang sempurna, maka Aku malu membuka catatan amalnya atau menegakkan timbangan baginya pada hari kiamat kelak.� (H.R. Dailami)

                PUASA SUNNAH ARAFAH

                PUASA ARAFAH adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni pada saat diberlangsungkannya wukuf di tanah Arafah tanggal 9 Dzulhijah oleh para jamaah haji. Wukuf di Arafah bisa dikatakan sebagai inti dari pada pelaksanaan ibadah haji. Karena itu puasa Arafah ini sangat dianjurkan bagi orang-orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Adapun teknis pelaksanaannya mirip dengan puasa-puasa lainnya.

                Keutamaan puasa Arafah ini seperti diriwayatkan dari Abu Qatadah Rahimahullah.bahwa Rasulullah SAW bersabda:

                صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

                Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan
                datang, dan puasa Assyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas. (HR. Muslim)

                Sedangkan puasa Tarwiyah dilaksanakan pada hari Tarwiyah yakni pada tanggal 8
                Dzulhijjah. Ini didasarkan pada satu redaksi hadits yang artinya bahwa Puasa
                pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah
                menghapuskan (dosa) dua tahun. Walaupun sebahagian golongan mengatakan bahwa
                hadits ini dloif (kurang kuat riwayatnya) namun para ulama memperbolehkan
                mengamalkan hadits yang dloif sekalipun sebatas hadits itu diamalkan dalam
                kerangka fadla'ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), dan hadits yang
                dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum.

                Lagi pula hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang
                istimewa. Abnu Abbas r.a meriwayatkan Rasulullah s.a.w bersabda:

                ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا:
                يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج
                بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء

                Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid). (HR Bukhari)

                Jadi, bagi mereka yang melakukan puasa Tarwiyah sebelum berpuasa hari Arafah,
                hendaknya jangan ragu-ragu melaksanakannya, karena tidaklah disangsikan lagi
                bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya.

                Disebutkan dalam hadist Qudsi: Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku.

                Hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu 'Anhu,
                Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun. (HR Bukhari Muslim).

                Wallohu a'lam bish-shawab,-


                Hadits tentang Puasa Asyura (Hari kesepuluh bulan Muharram

                Berdasarkanbeberapa hadits ditemukan anjuran Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kepada ummat Islam agar melaksanakan puasa di tanggal sepuluh bulan Muharram. Tanggal sepuluh bulan Muharram biasa disebut Yaum ’Aasyuura (Hari kesepuluh bulan Muharram).

                Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Seutama-utama berpuasa sesudah bulan Ramadhan ialah dalam bulan Allah yang dimuliakan - yakni Muharram - dan seutama-utama shalat sesudah shalat wajib ialah shaliatullail - yakni shalat sunnah di waktu malam." (Riwayat Muslim)

                Suatu ketika Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mendapati kaum Yahudi sedang berpuasa pada hari ’Asyuura. Lalu beliau bertanya mengapa mereka berpuasa pada hari itu. Merekapun menjelaskan bahwa hal itu untuk memperingati hari dimana Allah telah menolong Nabi Musa bersama kaumnya dari kejaran Fir’aun dan balatentaranya. Bahkan pada hari itu pula Allah telah menenggelamkan Fir’aun sebagai akibat kezalimannya terhadap Bani Israil. Mendengar penjelasan itu maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam-pun menyatakan bahwa ummat Islam jauh lebih berhak daripada kaum Yahudi dalam mensyukuri pertolongan Allah kepada Nabi Musa. Maka beliau-pun menganjurkan kaum muslimin agar berpuasa pada hari ’Asyuura.


                Selengkapnya

                Kisah Nabi Ismail as

                Sampai Nabi Ibrahim yang berhijrah meninggalkan Mesir bersama Sarah, isterinya dan Hajar, di tempat tujuannya di Palestina. Ia telah membawa pindah juga semua binatang ternaknya dan harta miliknya yang telah diperolehnya sebagai hasil usaha niaganya di Mesir.
                Al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a.berkata:
                Pertama-tama yang menggunakan setagi {setagen} ialah Hajar ibu Nabi Ismail tujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang telah lama berkumpul dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi belum juga hamil. tetapi walaubagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahasia yang disembunyikan itu dengan lahirnya Nabi Ismail a.s. .

                Berita terbaru


                Komunikasi dengan Allah SWT

                Bacaan Al-fatihah dalam shalat adalah rukun dan banyak keutamaannya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu ‘Awanah dan Baihaqi, “ Rasulullah SAW bersabda: “Tidak sah shalat seseorang jika tidak membaca Al-Fatihah.”

                Rasulullah SAW membaca surat Al-Fatihah dengan berhenti setiap ayat, tidak menyambung satu ayat dengan ayat berikutnya. Jadi bunyinya.. Bismillahirrahmaanirrahiim..(kemudian berhenti), Alhamdulillahirabbil ‘alamiin.. (kemudian berhenti), Arrahmaanirrahiim..(kemudian berhenti), begitulah seterusnya sampai selesai. Beliau tidak menyambung ayat satu dengan ayat berikutnya. HR. Abu Dawud dan Sahmi (64-65) disahkan oelh Hakim dan disetujui oleh Dzahabi. Dalam kitab Al-Irwa’ hadits no.343.

                Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkomentar: Hadits ini mempunyai banyak sanad. Inilah yang pokok dalam masalah ini, lalu ia berkata ; sejumlah imam salaf dan ahli-ahli Al-Quran dahulu sangat senang membaca Al-Quran ayat per ayat, sekalipun ayat yang satu dengan ayat lain itu masih mempunyai satu pengertian. Sunnah Nabi seperti ini ditinggalkan oleh sebagian besar ahli qira’atul qur’an pada masa-masa ini apalagi yang lain”


                Abdullah bin Rawahah, 'Penyair Rasulullah'

                Waktu itu, Rasulullah sedang duduk di suatu dataran tinggi di kota Makkah, menyambut para utusan yang datang dari Yatsrib (Madinah) dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui kaum Quraisy. Mereka yang datang ini terdiri dari 12 orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan sebutan kaum Anshar (penolong Rasul).

                Mereka akan berbaiat kepada Rasulullah, yang kelak disebut dengan Baiat Aqabah Ula (pertama). Merekalah pembawa dan penyiar Islam pertama ke Yatsrib. Dan baiat merekalah yang membuka jalan bagi hijrahnya Nabi beserta pengikut beliau, yang pada gilirannya membawa kemajuan bagi Islam. Salah seorang dari utusan yang dibaiat itu adalah Abdullah bin Rawahah.

                Ibnu Rawahah adalah seorang penulis dan penyair ulung. Untaian syair-syairnya begitu kuat dan indah didengar. Sejak memeluk Islam, ia membaktikan kemampuan bersyairnya untuk mengabdi bagi kejayaan Islam. Rasulullah sangat menyukai dan menikmati syair-syairnya, serta serta sering menganjurkan kepadanya untuk lebih tekun lagi membuat syair.


                Pada suatu hari, Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah. Lalu Nabi bertanya kepadanya, "Apa yang kau lakukan jika hendak mengucapkan syair?"

                Kalender Islam

                Mari Membumikan Al-Quran

                Mari Membumikan Al-Quran
                Sudahkan baca qur'an hari ini?

                 

                Copyright © 2009 by The Power of Hikmah