Tampilkan postingan dengan label hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hadits. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Mei 2014

Komunikasi dengan Allah SWT

Bacaan Al-fatihah dalam shalat adalah rukun dan banyak keutamaannya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu ‘Awanah dan Baihaqi, “ Rasulullah SAW bersabda: “Tidak sah shalat seseorang jika tidak membaca  Al-Fatihah.”

Rasulullah SAW membaca surat Al-Fatihah dengan berhenti setiap ayat, tidak menyambung  satu ayat dengan ayat berikutnya. Jadi bunyinya.. Bismillahirrahmaanirrahiim..(kemudian berhenti), Alhamdulillahirabbil ‘alamiin.. (kemudian berhenti), Arrahmaanirrahiim..(kemudian berhenti),  begitulah seterusnya sampai selesai. Beliau tidak menyambung ayat satu dengan ayat berikutnya. HR. Abu Dawud dan Sahmi (64-65) disahkan oelh Hakim dan disetujui oleh Dzahabi. Dalam kitab Al-Irwa’ hadits no.343.

Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkomentar: Hadits ini mempunyai banyak sanad. Inilah yang pokok dalam masalah ini, lalu ia berkata ; sejumlah imam salaf dan ahli-ahli Al-Quran dahulu sangat senang membaca Al-Quran ayat per ayat, sekalipun ayat yang satu dengan ayat lain itu masih mempunyai satu pengertian. Sunnah Nabi seperti ini ditinggalkan oleh sebagian besar ahli qira’atul qur’an pada masa-masa ini apalagi yang lain”.


Sedangkan keutamaan surat ini adalah ayat komunikasi antara hamba dan Rabb- nya secara langsung .

Dari Jabir ra. Rasulullah SAW bersabda: “ Alloh Maha Suci dan maha Tinggi berfirman: “Aku telah membagi Al-Fatihah menjadi 2 bagian, untuk-Ku dan untuk hamba-Ku. Separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku dan hamba-ku akan mendapatkan bagian dari permohonan yang diucapkannya. “ Bacalah! Bila hamba membaca –Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin-, Allah Ta’ala menyahut ‘hamba-ku memuji-K.’ . Bila hamba membaca – arrahmaanir rahiim-,Allah Ta’ala menyahut ‘hamba-ku menyanjung-Ku’. Bila hamba membaca –maaliki yaumid diin--,Allah Ta’ala menyahut’ hamba-Ku memuliakan-Ku’. Bila hamba membaca—iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’in--, Allah Ta’ala menyahut ‘Ini bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dimintanya’. Bila hamba-Ku membaca –ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an ‘amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin--, Allah menyahut ‘itu adalah hak hamba-Ku, dia akan mendapatkan apa yang dimintanya. (HR. Muslim, Abu ‘Awanah dan Malik.)

Imam Al-Baji berkata “ Maksud kata Sab’ul matsanni  yaitu 7 ayat dalam surat Al-Fatihah  karena berisikan sanjungan dan pujian kepada Allah SWT yang diucapkan berkali-kali dalam shalat. Al-Fatihah disebut Al-Quranul ‘adhim bukan berarti bahwa surat-surat yang lain tidak agung, tetapi Al-fatihah yang paling utama. sebagaimana halnya Ka’bah disebut baitullah, bukan berarti bahwa masjid-masjid yang lain bukan baitullah, tetapi hanya menyatakan Ka’bah lebih utama dari pada yang lain.”

Bahkan dalam riwata lain. Rasulullah SAW bersabda: “Allah ‘azza wajalla tidak pernah menurunkan ayat seperti Surat Al-Fatihah ini pada Taurat dan Injil. Surat Al-Fatihah adalah tujuh ayat (Sab’ul matsanni) yang selalu dibaca berulang kali, dan bacaan agung yang diberikan kepadaku. HR. Nasa’i dan Hakim. 


Mari berkomunikasi dengan Allah SWT... 

Kamis, 08 Mei 2014

Berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah SAW

Dalil-dalil Qur’an
Firman Allah SWT :
وَ هذَا كِـتبٌ اَنـــْزَلْـنهُ مُـبرَكٌ فَاتَّـبِعُوْهُ وَ اتَّـقُوْا لَـعَلَّكُمْ تُـرْحَمُوْنَ. الانعام:155
Dan Al-Qur’an ini adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertaqwalah agar kamu diberi rahmat. [Al-An'aam : 155]
اِنَّ هذَا اْلقُـرْانَ يَـهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْـوَمُ وَ يُـبَشِّـرُ اْلمُـؤْمـِنِـيْنَ الَّذِيـْنَ يَـعْمَلُـوْنَ الصّلِحتِ اَنَّ لَـهُمْ اَجْرًا كَـبِـيْرًا. الاسراء:9
Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. [Al-Israa' : 9]
 اِنَّـآ اَنـــْزَلْـنَآ اِلَـيْكَ اْلكِـتبَ بِاْلحَقِّ لِـتَحْكُمَ بَيْنَ النَّـاسِ بِمَا اَرـكَ اللهُ. النساء:105
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu. [An-Nisaa' : 105]
وَ اَنــْزَلْـنَا اِلَـيْكَ الذِّكْـرَ لـِـتُـبَـيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُـزِّلَ اِلَـيْهِمْ وَ لَـعَلَّـهُمْ يَـتَـفَكَّـرُوْنَ. النحل:44
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. [An-Nahl : 44]
يـاَ يُّـهَا الَّذِيـْنَ امَنُوْآ اَطِيْعُوا اللهَ وَ اَطِيْعُوا الـرَّسُوْلَ وَ اُوليِ اْلاَمْرِ مِنْكُمْ، فَاِنْ تَـنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلىَ اللهِ وَ الـرَّسُوْلِ اِنْ كُـنْتُمْ تُـؤْمـِنُـْونَ بِاللهِ وَ اْلـيَوْمِ الاخِرِ، ذلِكَ خَيْرٌ وَّ اَحْسَنُ تَـأْوِيـْلاً. النساء:59
Hai orang-orang yang beriman, tha’atilah Allah dan tha’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [An-Nisa' : 59]
وَ مَآ اَرْسَلْـنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلاَّ لِـيُطَاعَ بِـاِذْنِ اللهِ. النساء:64
Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul, melainkan untuk ditha’ati dengan seidzin Allah. [An-Nisa' : 64]
لَـقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّـمَنْ كَانَ يَـرْجُوا اللهَ وَ الْيَوْمَ اْلاخِرَ وَ ذَكَـرَ اللهَ  كَــثِـيْرًا. الاحزاب:21
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari qiyamat dan dia banyak menyebut Allah. [Al-Ahzab : 21]
قُـلْ اِنْ كُـنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَـاتَّـبِعُوْنــِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَـغْفِرْ لَكُمْ ذُنــُوْبَكُمْ وَ اللهُ غَفُوْرٌ رَّحَيْمٌ. قٌلْ اَطِـيْعُوا اللهَ وَ الرَّسُوْلَ، فَاِنْ تَـوَلَّـوْا فَاِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ اْلكَافِـرِيْنَ. ال عمران:31-32
Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Katakanlah : “Tha’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. [Ali 'Imran : 31-32]
اَلــَّذِيـْنَ يَـتَّبِعُوْنَ الـرَّسُوْلَ النَّـبِيَّ اْلاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجـِدُوْنَـه مَكْـتُوْبـًا عِنْدَهُمْ فىِ الـتَّوْرـةِ وَاْلاِنْجـِيْلِ يَـأْمُرُهُمْ بِاْلمَعْرُوْفِ وَ يَـنْـهـ هُمْ عَنِ اْلـمُنْكَـرِ وَ يُحِلُّ لَـهُمُ الطَّـيِّبتِ وَ يُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ اْلخَبـئـِثَ وَ يَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَ اْلاَغْللَ الَّـتِيْ كَانَتْ عَلَـيْهِمْ فَالَّذِيـْنَ امَنُوْا بِه وَ عَزَّرُوْهُ وَ نَصَرُوْهُ وَ اتَّـبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْ اُنـْزِلَ مَعَه اُولـئِكَ هُمُ اْلـمُفْلِحُوْنَ. الاعراف:157
Orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. [Al-A'raf : 157]
وَمَآ اتكُمُ الـرَّسُوْلُ فَخـُذُوْهُ وَمَا نَـهـكُمْ عَنْهُ فَانْـتَهُـوْا وَ اتَّـقُوا اللهَ، اِنَّ اللهَ شَدِيـْدُ اْلعِقَابِ. الحشر:7
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. [Al-Hasyr : 7]
وَ مَنْ يُّطِعِ اللهَ وَ الـرَّسُوْلَ فَاُولـئِكَ مَعَ الَّذِيـْنَ اَنـْعَمَ اللهُ عَلَـيْهِمْ مِّنَ النَّبِـيّنَ وَ الصِّدِّيـْقِـيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصّلِحِيْنَ وَ حَسُنَ اُولـئِكَ رَفِـيْقًا. النساء:69-70
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya) mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para Shiddiqiin. orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [An-Nisaa' : 69]
Dalil-dalil Hadits
Hadits-hadits Nabi SAW :

عَنْ كَـثِـيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ اَبِـيْهِ عَنْ جَدِّهِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: تَـرَكْتُ فِـيْكُمْ اَمْرَيــْنِ لَـنْ تَضِلُّـوْا مَا تَــمَسَّكْـتُمْ بِـهِمَا: كِـتَابَ اللهِ وَ سُنَّـةَ نَـبِـيِّهِ. ابن عبد البر
Dari Katsir bin Abdullah dari ayahnya dari kakeknya RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda : “Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”. [HR. Ibnu Abdil Barr]
اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: تَـرَكْتُ فِـيْكُمْ اَمـْرَيـْنِ لَنْ تَضِلُّـوْا مَا تَـمَسَّكْـتُمْ بِـهِمَا: كِـتَابَ اللهِ وَ سُنَّـةَ رَسُوْلـــِهِ. مالك
Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda : “Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya”. [HR. Malik]
عَنِ ابـْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ: اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص خَطَبَ النَّـاسَ فِى حَجَّةِ اْلوَدَاعِ، فَقَالَ: اِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَـئِسَ اَنْ يُـعْبَدَ بِاَرْضِكُمْ وَ لكِـنْ رَضِيَ اَنْ يُـطَاعَ فِـيْمَا سِوَى ذلِكَ مِمَّا تَحَاقَـرُوْنَ مِنْ اَعْمَالِكُمْ فَاحْذَرُوْا. اِنـِّى قَدْ تَـرَكْتُ فِـيْكُمْ مَا اِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَـلَـنْ تَضِلُّـوْا اَبـَدًا. كِـتَابَ اللهِ وَ سُنـَّةَ نَـبِـيِّهِ. الحاكم
Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata : Bahwasanya Rasulullah SAW pernah berkhutbah kepada orang banyak dikala hajji wada’, beliau bersabda : “Sesungguhnya syaithan telah berputus asa bahwa ia akan disembah di tanahmu ini, tetapi ia puas ditha’ati pada selain demikian yaitu dari apa-apa yang kalian anggap remeh dari amal perbuatan kalian. Maka hati-hatilah kalian. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kamu sekalian apa-apa yang jika kamu sekalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”. [HR. Al-Hakim]
عَنْ جُبَـيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَبـْشِرُوْا فَاِنَّ هذَا اْلقُرْآنَ طَرَفُهُ بِيَدِ اللهِ وَ طَرَفُهُ بِـاَيـْدِيْكُمْ. فَـتَـمَسَّكُـوْا بِهِ، فَاِنَّـكُمْ لَنْ تَـهْـلَـكُـوْا وَ لَنْ تَضِلُّـوْا بَـعْدَهُ اَبـَدًا. البزار و الطبرانى
Dari Jubair bin Muth’im RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda : “Hendaklah kamu sekalian bergembira, karena sesungguhnya Al-Qur’an ini ujungnya berada ditangan Allah sedang ujungnya yang lain ditangan kamu sekalian. Oleh sebab itu hendaklah kalian berpegang teguh kepadanya, maka  sungguh kamu sekalian tidak akan binasa dan tidak pula akan sesat sesudah itu selama-lamanya”. [HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabarani]
عَنْ حُذَيـْفَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: دُوْرُوْا مَعَ كِـتَابِ اللهِ حَـيْـثُمَا دَارَ. الحاكم
Dari Hudzaifah RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda : “Hendaklah kamu sekalian beredar bersama kitab Allah (Al-Qur’an) kemana saja ia beredar”. [HR. Al-Hakim]
عَنْ اَبِى هُرَيـْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: دَعُوْنــِى مَا تَـرَكْـتُكُمْ، اِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَـبْلَكُمْ بِـسُؤَالـِهِمْ وَ اخْتِلاَفِـهِمْ عَلَى اَنـــْبِـيَائِـهِمْ. فَاِذَا نَـهـَيْـتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَـنِـبُوْهُ، وَ اِذَا اَمَرْتُكُمْ بِـاَمْرٍ فَـأْتُـوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَـعْتُمْ. البخارى
Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW beliau bersabda : “Biarkanlah saya memberikan apa-apa yang kutinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian disebabkan tuntutan mereka dan penentangannya kepada Nabi-nabi mereka. Karena itu apabila aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah dia, dan apabila aku memerintahkan sesuatu perkara kepada kalian, maka laksanakanlah perintah itu dengan semaksimalmu. [HR. Bukhari]
عَنْ اَبِى مُوْسَى عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: اِنَّمَا مَـثَـلِى وَ مَـثَـلُ مَا بَـعَثَنِيَ اللهُ بِهِ كَـمَـثَـلِ رَجُلٍ اَتـَى قَـوْمًا فَقَالَ: يَا قَـوْمـِى اِنــِّى رَأَيـْتُ اْلجَيْشَ بِـعَيْـنِى وَ اِنــِّى اَنـَا النَّذِيـْرُ اْلعُرْيـَانُ فَالنَّجَاءَ فَـأَطَاعَهُ طَائِـفَةٌ مِنْ قَـوْمـِهِ فَأَدْلَجُوْا فَانْـطَـلَـقُـوْا عَلَى مَهْـلـِهِمْ فَنَجَوْا. وَ كَـذَّبـَتْ طَائِـفَةٌ مِنْـهُمْ فَـاَصَابـُوْا مَكَانـَهُمْ فَصَبَّحَهُمُ اْلجَيْشُ فَـاَهْلَكَـهُمْ وَ اجْتَاحَهُمْ. فَذلِكَ مَثَلُ مَنْ اَطَاعَنِى فَاتَّـبَـعَ مَا جـِئْتُ بِهِ. وَمَثَلُ مَنْ عَصَانِيْ وَ كَـذَّبَ مَا جـِئْتُ بِهِ مِنَ اْلحَـقِّ. مسلم
Dari Abu Musa, dari Nabi SAW beliau bersabda : “Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan apa yang aku diutus oleh Allah dengannya adalah seperti seorang laki-laki yang datang kepada suatu kaum. Lalu laki-laki itu berkata : “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah melihat dengan mata kepalaku ada pasukan (musuh yang akan menghancurkan kita). Dan aku betul-betul memberikan peringatan kepadamu, maka mengungsilah agar selamat”. Segolongan kaum itu ada yang tha’at, lalu di malam hari itu mereka pergi mengungsi dengan hati-hati, maka mereka selamat. Dan ada pula segolongan dari kaum itu yang tidak percaya, mereka tetap ditempatnya, maka diwaktu pagi tentara musuh itu datang menyerbu mereka, menghancurkan dan memporak-porandakan mereka. Demikianlah perumpamaan orang yang tha’at kepadaku lalu mau mengikuti apa yang aku datang dengannya dan perumpamaan orang yang bermakshiyat kepadaku dan mendustakan apa yang aku datang dengannya berupa Al-Haqq (kebenaran). [HR. Muslim]
عَنْ اَبِى هُرَيـْرَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: كُلُّ اُمـَّتِى يَدْخُلُـوْنَ اْلجَـنَّةَ اِلاَّ مَنْ اَبـَى. قَالُـوْا يـَا رَسُوْلَ اللهِ وَ مَنْ يَـأْبـَى؟ قَالَ: مَنْ اَطَاعَنِى دَخَلَ اْلجَـنَّةَ وَ مَنْ عَصَانِى فَـقَدْ اَبـَى. البخارى
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Semua ummatku kelak akan masuk surga, kecuali orang yang tidak mau”. Para shahabat bertanya : “Ya Rasulullah siapa orang yang tidak mau (masuk surga) itu ?”. Beliau SAW bersabda : “Barangsiapa yang tha’at kepadaku, niscaya ia masuk surga dan barangsiapa yang bermakshiyat kepadaku, sungguh ia telah menolak untuk masuk surga”. [HR. Bukhari]

Rabu, 30 April 2014

KEUTAMAAN BULAN RAJAB

Alhamdulillah, kita telah sampai memasuki bulan Rajab, yaitu salah satu bulan haram (bulan yang disuci dalam ajaran islam) dimana saat amal ibadah ditingkatkan dan lebih menahan perbuatan aniaya, kedhaliman, peperangan, pertengkaran dan sebagai pemanasan awal/ first warm up  sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Dalam kalender hijriyah posisi Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Dan termasuk dalam empat bulan yang dimuliakan (Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram)

Bulan haram selain sebagai ketetapan Allah Ta’ala, namun juga pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Sehingga para ulama lebih banyak meningkatkan amalan ketaatan dari hari-hari biasa yang kadang terlewatkan, baik tadarus Al-Quran, memahami agama, dzikir, puasa sunnah senin kamis, puasa awal bulan, puasa wustha (tengah bulan), ataupun puasa akhir bulan, shalat sunnah rowatib, dhuha, dan shalat tahajud.


Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, 207)

Kadang muncul pertanyaan bulan haram mana yang lebih utama?, berikut beberapa pendapat. Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebut yang lebih utama. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Namun Imam An-Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh An Nawawi. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, juga dinilai kuat oleh Ibnu Rajab dalam Latho-if Al Ma’arif (hal. 203).

RAJAB termasuk bulan Haram (yang disucikan)
Allah SWT berfirman:     
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. (QS.At-Taubah 36).

Lalu apa saja bulan haram dalam islam itu?
Dalam Hadits dari Abu Bakroh, Rasulullah SAW bersabda:
الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Sehingga yang dimaksud empat bulan suci adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.

Di zaman Jahiliyah dahulu, orang-orang biasa melakukan penyembelihan kurban pada tanggal 10 Rajab, dan dinamakan ‘atiiroh atau Rojabiyyah (karena dilakukan pada bulan Rajab). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ‘atiiroh sudah dibatalkan oleh Islam ataukah tidak. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa ‘atiiroh sudah dibatalkan hukumnya dalam Islam. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ فَرَعَ وَلاَ عَتِيرَةَ
“Tidak ada lagi faro’ dan  ‘atiiroh.” (HR. Bukhari no. 5473 dan Muslim no. 1976). Faro’ adalah anak pertama dari unta atau kambing, lalu dipelihara dan nanti akan disembahkan untuk berhala-berhala mereka.

Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Tidak ada lagi ‘atiiroh dalam Islam. ‘Atiiroh hanya ada di zaman Jahiliyah. Orang-orang Jahiliyah biasanya berpuasa di bulan Rajab dan melakukan penyembelihan ‘atiiroh pada bulan tersebut. Mereka menjadikan penyembelihan pada bulan tersebut sebagai ‘ied (hari besar yang akan kembali berulang) dan juga mereka senang untuk memakan yang manis-manis atau semacamnya ketika itu.” Ibnu ‘Abbas sendiri tidak senang menjadikan bulan Rajab sebagai ‘ied.
‘Atiiroh sering dilakukan berulang setiap tahunnya sehingga menjadi ‘ied (sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha), padahal ‘ied (perayaan) kaum muslimin hanyalah Idul Fithri, Idul Adha dan hari tasyriq. Dan kita dilarang membuat ‘ied selain yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam.

Mengkhususkan Shalat Tertentu dan Shalat Roghoib di bulan Rajab
Tidak ada satu shalat pun yang dikhususkan pada bulan Rajab, juga tidak ada anjuran untuk melaksanakan shalat Roghoib pada bulan tersebut, karena Rasulullah SAW dan para sahabat tidak pernah melaksanakannya.

Shalat Roghoib atau biasa juga disebut dengan shalat Rajab adalah shalat yang dilakukan di malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan Isya. Di siang harinya sebelum pelaksanaan shalat Roghoib (hari kamis pertama  bulan Rajab) dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. Jumlah raka’at shalat Roghoib adalah 12 raka’at. Di setiap raka’at dianjurkan membaca Al Fatihah sekali, surat Al Qadr 3 kali, surat Al Ikhlash 12 kali. Kemudian setelah pelaksanaan shalat tersebut dianjurkan untuk membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 70 kali.
Di antara keutamaan yang disebutkan pada hadits yang menjelaskan tata cara shalat Raghaib adalah dosanya walaupun sebanyak buih di lautan akan diampuni dan bisa memberi syafa’at untuk 700 kerabatnya. Namun hadits yang menerangkan tata cara shalat Roghoib dan keutamaannya adalah hadits maudhu’ (palsu). Ibnul Jauzi meriwayatkan hadits ini dalam Al Mawdhu’aat (kitab hadits-hadits palsu).

Shalat Roghoib ini pertama kali dilaksanakan di Baitul Maqdis, setelah 480 Hijriyah dan tidak ada seorang pun yang pernah melakukan shalat ini sebelumnya. (Al Bida’ Al Hawliyah, 242)
Ath Thurthusi mengatakan, “Tidak ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ini. Shalat ini juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum, para tabi’in, dan salafush sholeh –semoga rahmat Allah pada mereka-.” (Al Hawadits wal Bida’, hal. 122. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah, 242)
Mengkhususkan Berpuasa di Bulan Rajab

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut, maka tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat mengenai hal ini. Juga hal ini tidaklah dianjurkan oleh para ulama kaum muslimin. Bahkan yang terdapat dalam hadits yang shahih (riwayat Bukhari dan Muslim) dijelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Dan beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban, jika hal ini dibandingkan dengan bulan Ramadhan.

Mengkhuskan Puasa Rajab
Dalam sebuah hadits yang dijadikan sandaran adalah:
“Rajab adalah bulan yang mulia. Allah melipatgandakan kebaikan di dalamnya. Barangsiapa puasa sehari di bulan Rajab, sama seperti puasa setahun. Barangsiapa puasa tujuh hari, tujuh pintu neraka Jahanam dikunci darinya. Barangsiapa puasa delapan hari, delapan pintu surga dibuka untuknya. Barangsiapa puasa sepuluh hari, apa pun yang dimintanya kepada Allah pasti diberi. Dan barangsiapa yang puasa lima belas hari, seorang malaikat menyeru di langit; Sungguh dosamu yang lalu telah diampuni, maka mulailah lakukan amal baik. Dan barangsiapa yang menambah, Allah pun akan menambahnya.”

Takhrij : Hadits ini diriwayatkan Imam Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (5403), Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (3640), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (10872); dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Didalam sanadnya terdapat perawi bernama Abdul Ghafur Abu Ash-Shabah Al-Wasithi, di mana Imam Al-Bukhari mengatakan tentang Abdul Ghafar ini, “Orang-orang meninggalkannya. Dia haditsnya mungkar.”

Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if) bahkan maudhu’ (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta.”(Majmu’ Al Fatawa, 25/290-291)

Para sahabat dan ulama-ulama besar bahkan telah mencontohkan bahwa mereka melarang berpuasa pada seluruh hari bulan Rajab karena ditakutkan akan sama dengan puasa di bulan Ramadhan, sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh ‘Umar bin Khottob. Ketika bulan Rajab, ‘Umar pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa), lalu beliau katakan, لَا تُشَبِّهُوهُ بِرَمَضَانَ“Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.” (Riwayat ini dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 25/290 dan beliau mengatakannya shahih. Begitu pula riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Adapun perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa di bulan-bulan haram yaitu bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. ( Majmu’ Al Fatawa, 25/291)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, "Adapun puasa, tidak ada keterangan yang sah dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabatnya tentang keutamaan puasa khusus pada bulan Rajab." (Lathaif al-Ma'arif: 228)

Ibnul Hajar rahimahullah berkata dalam Tabyin al-'Ajab Bimaa Warada fii Fadhli Rajab hal. 11: "Tidak terdapat dalil shahih yang layak dijadikan hujah tentang keutamaan bulan Rajab dan tentang puasanya, tentang puasa khusus padanya, dan qiyamullail (shalat malam) khusus di dalamnya."

Sayyid Sabiq rahimahullah dalam Fiqih Sunnah 1/383 mengatakan: "Dan berpuasa Rajab,
tidak ada keutamaan yang lebih atas bulan-bulan selainnya, hanya ia termasuk bulan haram. Tidak terdapat keterangan dalam sunnah yang shahih bahwa Puasa tersebut (Rajab) memiliki keistimewaan. Dan hadits yang menerangkan hal itu tidak layak dijadikan argumentasi."

Syaikh Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang puasa tanggal 27 Rajab dan shalat malam padanya. Beliau menjawab: "Puasa pada hari ke 27 dari bulan Rajab dan shalat pada malam harinya dengan menghususkan hal itu adalah perkara bid'ah, dan setiap perkara bid'ah (dalam ibadah,-pent) adalah sesat." (Majmu' Fatawa Ibnu Utsaimin: 20/440)

Demikian sekilas keutamaan bulan rajab yang termasuk bulam haram, mari jadikan bulan ini sebagai motivasi untuk lebih meningkatkan ibadah dan terus belajar yang kadang terlewatkan atau terabaikan, baik tadarus Al-Quran, memahami agama, dzikir, shalat sunnah rowatib, dhuha, tahajud, puasa sunnah senin kamis, puasa awal bulan, puasa wustha (tengah bulan), ataupun puasa akhir bulan.

tiada yang lebih baik dari yang menulis atau yang membacanya selain yang mengamalkannya.

Waalahu a’alm bis showab. 

Rabu, 29 Januari 2014

Amalan Penolak Musibah

Amalan Penolak Musibah

1.Berdoa

Hadits dari Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim, diriwayatkan dari Abdullah ibn Umar, bahwa Rasulullah saw bersabda :
"Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdoa, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya doa bermanfaat bagi sesuatu yang terjadi dan masih belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa, maka berpeganglah, wahai hamba allah, pada doa".
Sepantasnyalah bagi seorang mukmin untuk berdoa, karena ia akan mendatangkan kebaikan dan dapat menolak keburukan dan bencana. Dalam konteks ini ada banyak hadits yang menunjukkan urgensi, efek dan pengaruh yang besar dari doa, dengan izin Allah. Disebutkan dalam sebuah hadits, sabda Rasulullah saw :
"Persiapkanlah doa untuk menghadapi bencana." (HR. ath-Thabrani).
Sesungguhnya doa adalah alat untuk menolak bencana dan mendatangkan rahmat, sebagaimana perisai adalah untuk menangkis senjata, dan air sebagai sebab untuk tumbuh dan keluarnya biji-bijian dari tanah. Sebagaimana perisai akan menolak senjata, maka keduanya saling membela diri, maka begitulah doa dan bencana. Dan bukan termasuk menyadari takdir orang yang kemudian tidak membawa senjata.

2.Sedekah

Sedekah dapat menolak bencana. Karena ada hadist Rasulullah saw yang diriwayatkan dari Ali, bahwa Rasulullah saw bersabda :
"Sedekah dapat merubah takdir yang mubram (yang pasti)". (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Imam Ahmad)
Asal hadits tersebut diatas adalah:
"Silahturahmi dapat memperpanjang umur, dan sedekah dapat merubah takdir yang mubram"


3.Tasbih

Bacaan tasbih dapat mencegah terjadinya bencana, karena ada hadits yang diriwayatkan Ibn Ka'ab, dari Rasulullah saw, bahwa beliau bersabda :
"Subhanallah dapat mencegah turunnya azab".
Hal ini juga ditunjukan oleh firman Allah SWT, tentang Nabi Yunus as :
"Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari kebangkitan," (QS. ash-Shaffat : 143 - 144).
Tafsir dari QS. ash-Shaffat : 143 - 144 artinya :
Seandainya ia tidak termasuk orang-orang yang mengingat Allah, dan termasuk orang-orang yang menyucikan-Nya, meninggikan-Nya dan memohon ampun kepada-Nya, niscaya perut ikan tersebut akan menjadi kuburannya. Akan tetapi dengan bacaan tasbih, dzikir dan permohonan ampunnya telah membebaskannya dari kesedihan. Tasbihnya sebagaimana yang diceritakan sendiri oleh Allah SWT dalam firman-Nya :
"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak Tuhan ( yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim," (QS. al-Anbiya': 87).
Kemudian bahwa Allah setelah itu berfirman :
"Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (QS. al-Anbiya' :88)
Dalam riwayat lain dari Sa'd ibn Abi Waqqash, Rasulullah saw bersabda :
"Maukah kalian kuberitahu suatu doa, yang jika kalian memanfaatkan itu ketika ditimpa kesedihan atau bencana, maka Allah akan menghilangkan kesedihan itu?. Para sahabat menjawab: " Ya, wahai Rasulullah." Rasul bersabda: "Yaitu, doa Dzun Nun : La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin (tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk di antara orang-orang yang zhalim)." (HR. Imam Ahmad, at-Tirmidzi, dan al Hakim)

4.Shalawat Untuk Rasulullah SAW

Sebagian orang saleh berkata : Sesungguhnya diantara sebab terbesar yang dapat menolak takdir dan melenyapkan keruwetan hidup adalah banyak membaca shalawat untuk Rasulullah saw. Karena sesungguhnya banyak membaca shalawat untuk beliau termasuk perantara yang berguna untuk keamanan dari segala ketakutan dan mendapat penghargaan dari Allah dengan ketinggian derajat di Surga.
Adapun dalil yang menguatkan argumentasi ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ubay ibn Ka'b, bahwa seorang laki-laki telah mendedikasikan semua pahala shalawatnya untuk Rasulullah saw, maka Beliau berkata kepada orang tersebut : "Jika begitu, lenyaplah kesedihanmu, dan dosamu akan diampuni." (HR. Imam Ahmad, ath-Thabrani)
Shalawat atas Nabi saw, adalah wajib menurut kesepakatan ulama (Ijma'), karena adanya firman Allah SWT :
"Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya," (QS. al-Ahzab : 56)
Shalawat dari Allah SWT adalah rahmat, Shalawat dari Malaikat adalah permohonan ampun. Sedangkan Shalawat dari orang mukmin adalah doa. Rasulullah saw bersabda :
"Setiap doa terhijab di bawah langit. Ketika Shalawat telah datang mengantarnya, maka doa itu akan naik."
Dilain pihak, Rasulullah saw bersabda :
"Barangsiapa membaca shalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali."

5.Taqwa

Sesungguhnya taqwa adalah penyebab terkuat untuk mendatangkan kebaikan dan menolak bencana dengan tanpa disangka-sangka. Allah SWT berfirman :
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberikan rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya," (QS. ath-Thalaq : 2-3).
Tafsir jalan keluar yaitu dari kesulitan dan kesedihan dunia dan akhirat. Tafsir rizki dari arah yang tiada disangka-sangka yaitu memberi rizki dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.
Taqwa adalah melaksanakan ketaatan-ketaatan dan menjauhi maksiat. Siapa yang telah melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan, maka itulah hal terbesar yang dapat membukakan pintu kebahagian di dunia dan akhirat.

6.Memperbanyak Istighfar

Allah SWT berfirman :
"Maka aku katakan kepada mereka : Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai," (QS. Nuh : 10-12).
Diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa, Rasulullah saw bersabda :
"Barangsiapa menetapi istigfar, maka Dia akan memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan, kebebasan dari setiap kesedihan, dan Dia akan memberinya rizki dari arah yang tidak diperhitungkannya," (HR. Abu Daud, Ibn Majah dan Imam Ahmad).
Diceritakan bahwa seseorang telah mengadukan tentang paceklik dan kekeringan kepada Hasan al-Bashri, maka beliau menasehati: "Mohonlah ampun (beristigfarlah) kepada Allah."
Orang lain mengadukan tentang kemiskinannya kepada beliau, beliau menasehati: "Mohonlah ampun (beristigfarlah) kepada Allah.",Satunya lagi datang mengadukan tentang masalah kebunnya yang ditimpa kekeringan. Beliau menasehati: "Mohonlah ampun (beristigfarlah) kepada Allah."
Yang lain lagi datang kepada beliau mengadukan masalah kemandulannya. Beliau tetap menasehati:
“Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,  niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”.
Kemudian beliau membacakan ayat tersebut (QS. Nuh : 10-12), kepada mereka.

Disadur dari buku : Prilaku yang dapat memperpanjang umur dan merubah takdir, oleh Ahmad Baghlabah.

Senin, 04 November 2013

Dalil-dalil Kehidupan Dunia

PASTI ADA UJIAN BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN

Q29.2-3. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan "kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar & sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Q2.214. Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk syurga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sampai-sampai berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Jenis ujian
Q21.35. Kami akan mengujimu dengan keburukan & kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.


Q2:155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa & buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar…

Dari Saad bin Abi Waqqash radhiallahu anhu bahwa Nabi shallawahu alaihi wa alihi bersabda: “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, lalu yang semacamnya & semacamnya, seseorang diuji sesuai kadar keimanannya, apabila teguh dalam keimanannya maka ujiannya bertambah berat, apabila lemah dalam keimanannya maka diuji sesuai kadar keimanannya, ujian terus menerus menimpa seorang hamba sampai meninggalkannya berjalan dimuka bumi dalam keadaan bersih dari kesalahan” [HR Imam Turmudzi dan dishahihkan Syaikh Albani dalam Silsilah Shahihahnya 1/225]

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxUnWcAN02Jw_GojSzUeeUCKu7ilhFj1dYICVDh7tVVqt5QNk-DUURVB_SI2-5NuMXSlX6D9u2WVDgxG3Ngke-vyg1gz3cpM2zFxMw_AduLZsRgXlyMB47xQM5G8SblERszQ6jiYELrYo/s1600/gempa-turki-1.JPG
Sifat musibah (ujian) bagi orang-orang yang beriman
"Tidaklah rasa lelah, sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan & duka yang menimpa seorang muslim sampai-sampai duri yang menusuknya kecuali Allah menghapuskan dosanya karena hal-hal tesebut" [HR Bukhari & Muslim]

"Perumpamaan orang Mukmin seperti tanaman (pohon) yang senantiasa angin itu mencondongkannya, dan selamanya orang Mukmin itu ditimpa bencana. Sedangkan perumpamaan bagi orang yang munafik seperti pohon kayu yang tidak bisa digoyangkan hingga pohon itu ditebang" [HR Muslim]

Rasulullah bersabda, "Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya, Dia menyegerakan hukuman untuknya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan, Dia menahan darinya (hukuman) karena dosanya hingga Dia menunaikannya pada hari kiamat" [HR At-Tirmidzi]

"Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu" (HR Ath-Thabrani)  

CITA-CITA, MIMPI (DREAM), NIAT, HARAPAN DST.

Kita adalah apa yang kita fikirkan, kehendaki & upayakan. Apa yang kita usahakan, itulah yang kita dapat. Man jadda wa jada, barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya.
Q53.39. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.

Q41.46. Barangsiapa yg mengerjakan amal saleh maka untuk dirinya sendiri & barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka untuk dirinya sendiri; & sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.

Q13.11. ...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum (bangsa) sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; & sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Bahwasanya segala amal perbuatan itu tergantung pada NIAT 
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah alaihisalatu wasallam bersabda: "Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya  Dan sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan." (HR Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang berNIAT untuk bangun tidur pukul 04 pagi, maka kemungkinan besar orang tersebut akan bangun dari tidurnya pada pukul 04 pagi walaupun orang tersebut tidak memasang alarm.

Jika seseorang membeli sepeda motor merk A dengan alasan (baca: niat) bahwa kalau sewaktu-waktu sepeda motor tersebut dijual maka harga jualnya tinggi, secara tidak langsung orang tersebut telah merencanakan (berniat) untuk menjual kembali sepeda motor yang baru dibelinya. 

Jangan sepelekan niat..! 
Perbaguslah dan "jangan salah" dalam berniat, bercita-cita, berdo'a ataupun dalam berharap. Dan jangan segan untuk melakukannya... karena berniat, bercita-cita, berdo'a ataupun berharap adalah GRATIS!
Gapailah kebaikan hidup di dunia ini dan di akhirat kelak dengan niat yang baik dan di-ridhai Allah subhana wa ta'ala.
Berharaplah melampaui batas harapan duniawi, berharaplah ampunan dan syurga-Nya kelak serta berharaplah bisa melihat Wajah Allah azza wa jalla... Amiin!
Bukankah Rasulullah alaihisalatu wasallam pernah bersabda, “Setiap orang dari umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya heran, “Siapa yang enggan masuk surga, wahai Rasulullah?” Kata beliau, “Mereka yang menaati aku akan masuk surga, sedangkan yang menentang aku berarti mereka enggan masuk surga.” (HR Bukhari, Ahmad dan an-Nasa’i) 

Keharusan berilmu
Q96.1. Bacalah! dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,…

Q21.7. Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.

“Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim (baik muslimin maupun muslimah)” [HR.Ibnu Majah]

Keharusan berfikir positif dan selalu berbaik-sangka terhadap Allah swt.
"Aku adalah berdasarkan kepada sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. ..." [Hadits Qudsi, diriwayatkan oleh Muslim]


[kehidupan dunia]

KEMILAU (FITNAH) DUNIA

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyjMOwO76Ve37xUQ5xJoXKbwz0chqhtRNJYK9jlRme5vzcTAKsWrN4PiaTJwM7Vwwvrn7r3jDDQIhjQBEnL8i2_PyuGD0vrYGE12jucfX7xtvRkzQKCdZ52JYWzp_mpd1_yGeFtUawtc4/s320/las-vegas.jpg
Q3.14 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak & sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia & di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”

Dari Amr bin ‘Auf radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya” [HR Bukhari & Muslim]

Dari Ka’ab bin ‘Iyadh radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, sedangkan fitnah ummatku adalah harta” [HR Tirmidzi, dia berkata hadits hasan sahih]

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dunia ini manis & hijau. Dan sesungguhnya Allah ta’ala menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Maka berhati-hatilah dari fitnah dunia & wanita” [HR Muslim]

Sifat kehidupan dunia
Q57.20. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan & suatu yang melalaikan, perhiasan & bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta & anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering & kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras & ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIxispnZt_CXc6EPU_5htpMsUi3wp6mPU1dsB8nviahrmolsKGdHIIQ8zbeDzjcaiF5DsXdZCBeT7dY-4LNhl74Gibf3MxG_20t_Du8cYpIecM7Ee-kK0vvcbsUOChyY59YU-QGXHGQ54/s1600/Monopoly-Here-and-Now.jpg
Investasi & Monopoli
Q29.64. Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau & main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.

Daya tarik dunia (materi)
Rasulullah SAW bersabda, “Sekiranya anak cucu Adam memiliki dua lembah emas niscaya dia tetap masih menginginkan lembah emas yg ketiga, & sekali-kali tidak akan penuh mulut anak cucu Adam kecuali tanah, & Allah menerima taubat bagi orang yang bertaubat” [HR Bukhari & Muslim]


BERORIENTASI DUNIA SAJA!

Q11.15-16. 
Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia & perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna & mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka & lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia & sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.

Q42:20. Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat maka akan Kami tambah keuntungan itu baginya, & barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia maka akan Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, & tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.

Q17.18. Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki & Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela & terusir.

Orang kafir hanya berorientasi dunia

Q14.3. (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.

Q76.27. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat).

Q2.212. Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.

Q6.29. Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan"

Q45.24. Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.

Q13.26. Allah meluaskan rezki & menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka (orang-orang kafir) bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).

Q87.16-17. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik & lebih kekal. Baca juga Q17.18, Q15.3.

Fatamorgana
Q24.39. Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun...


DUNIA DI HADAPAN ALLAH & RASUL-NYA (dan Orang-orang yang Beriman)

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6FU55g8WBimEAA20CV_W3O91omWwI8AXLTAn6-W2GIZcU7uRRfKYnUzctVNFT11wbEnnQCGwl0fd8VQgLBFanCT-HDo-Hekdu8xIAs4lsOM_TweiMZXj1vDf_z4GDNKAooSS9m6hOcyg/s1600/6x-tempz-alhayat-2dalil-earth_drop-universe.gifAl Mustaurid bin syadad ra berkata, Rasulullah saw bersabda, ”Tiadalah perbandingan dunia ini dengan akhirat, kecuali seperti seorang yang memasukan jarinya ke dalam lautan luas maka perhatikanlah yang tersisa” [HR Muslim]

Rasulullah SAW bersabda: "Apa artinya dunia bagiku! Kehadiranku di dunia hanyalah bagaikan seorang pengelana yang tengah berjalan di panas terik matahari, lalu berteduh di bawah naungan pohon beberapa saat, kemudian segera meninggalkannya untuk kembali melanjutkan perjalanan.” [HR At-Tirmidzi]

Pada suatu ketika, beberapa orang sahabat Rasulullah saw datang menemui beliau, berikut juga Umar radhiallaahu anhu. Rasulullah saw lantas bangkit merubah posisinya, Umar ra melihat tidak ada kain yg melindungi tubuh Rasulullah saw tikar yg dipakainya berbaring. Ternyata tikar tersebut membekas pada tubuh beliau. Melihat pemandangan itu Umar ra pun menangis. Rasulullah saw bertanya kepadanya: "Apakah gerangan yg membuatmu menangis wahai Umar?" ia menjawab: "Demi Allah, karena saya tahu bahwa engkau tentu lebih mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala daripada raja Kisra maupun Kaisar. Mereka dapat berpesta pora di dunia sesuka hatinya. Sedangkan Engkau adalah seorang Utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala namun keadaan engkau sungguh sangat memprihatinkan sebagaimana yg aku saksikan sekarang," Rasulullah saw bersabda: "Tidakkah engkau ridha wahai Umar, kemegahan dunia ini diberikan bagi mereka, sedangkan pahala akhirat bagi kita!" Umar ra menjawab: "Tentu saja!" "Demikianlah adanya!" jawab Rasulullah saw" [HR Ahmad] 

"Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan sebagai syurga bagi orang kafir" [HR Muslim]
Ket.: Dunia bagi orang Mukmin & Muslim seperti penjara karena mereka terikat oleh hukum agama yg tidak boleh dilanggar, sedangkan yg demikian terhadap si kafir seperti syurga karena tidak terikat dalam hukum agama (syariat).

Hina bagaikan bangkai anak kambing yang cacat...
"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke pasar dari arah 'Aliyah & para shahabatnya berada di sekitarnya, beliau melewati bangkai anak kambing yang telinganya kecil lalu beliau mengambilnya dengan memegang telinganya kemudian bersabda: "Siapakah diantara kamu yang mau membelinya dengan harga satu dirham?" Mereka berkata: "Kamu tidak suka bangkai itu menjadi milik kami, apa yang bisa kami gunakan darinya". Beliau bersabda: "Atau kamu suka bangkai ini menjadi milikmu?" Mereka berkata: "Demi Allah, kalaupun ia masih hidup maka ia binatang yang mempunyai aib karena telinganya kecil, bagaimana jadinya kalau ia bangkai?" Beliau bersabda: "Demi Allah, dunia lebih hina bagi Allah dari bangkai ini untuk kalian" [HR Muslim]

Nilai penghambaan kita terhadap Allah swt jauh lebih bernilai di sisi-Nya dibanding dunia dan seisinya...
"Dua raka'at shalat fajr (sebelum subuh) lebih baik dari pada dunia dan seisinya." [HR Muslim]

Dunia ini terlaknat kecuali dzikrullah...
Dari Abu Hurairah ra, saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ”Ketahuilah bahwa dunia terkutuk & semua yang didalamnya terlaknat, kecuali dzikrullah & segala apa yang sederajat dengan itu & orang alim yang mengerti serta orang yang mempelajari” [HR Tirmidzi]


[dunia adalah ladang untuk akhirat]

BERORIENTASI DUNIA ATAU AKHIRAT?

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjS9wqvbXv5AHZn3cRrKvQVpgSehLEDSYP4f9wVuapPN6GtSQH8Vo9tz8sPshEwD-a2zusMrWAa6euny8Me5wTL_m6NGSfDVm8qb4nZyqY-Pwy80VjqLHrlta-ReYQOg6BSOedSraN4AZ0/s1600/shalat-berjamaah-1.jpg
Q29.64. Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau & main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang menjadikan kegelisahan, kegundahan, cita-cita & tujuannya hanya satu, yaitu akhirat, maka Allah akan mencukupi semua keinginannya. Barangsiapa yang keinginan & cita-citanya bercerai-berai kepada keadaan-keadaan dunia, materi duniawi, yang dipikirkan hanya itu saja, maka Allah tidak akan peduli di lembah mana dia binasa" [HR Ibnu Majah; sanadnya hasan]

”Barang siapa yang fokus perhatiannya hanya akhirat maka Allah akan kokohkan urusannya & Allah jadikan kekayaannya di dalam hatinya & dunia datang padanya tanpa diminta, & barang siapa yang fokus perhatiannya hanya pada dunia maka Allah cerai beraikan urusannya & Allah jadikan kefakirannya di depan kedua matanya & tidaklah datang dunia kepadanya kecuali yang telah Allah tetapkan baginya” [HR Ibnu Majah]

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kecukupan dalam hatinya, Allah mengumpulkan urusannya, & dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina. Barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kemelaratan ada di depan matanya, Allah mencerai-beraikan urusannya, & dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja" [HR At-Tirmidzi dll; hadits shahih]

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jadilah kamu di dunia seperti halnya orang asing atau orang yang sekedar numpang lewat/musafir” [HR Bukhari]

Q42.20. Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.

Q17.19. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.

Jangan lupakan dunia!
Q28.77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, & janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi & berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, & janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

”Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”(HR. Bukhari).

Lihatlah ke bawah!
"Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian & jangan melihat orang yang lebih di atas kalian. Yang demikian ini (melihat ke bawah) akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kalian" [HR Muslim]

Kekurangan harta (miskin)?
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhb0qQDtpnuRHiAGDA1R4Gy5QH5UoQAYEdcMWYHETrP83id9kPRKLV7yr4X8tkWW-3Rr2V_s_zdwbiSXOKjmg2twKiR7J31YexvmPZ1FVjNvzAZGnJDjRlQhsY1P3ySf-qGQ1_M_RV0I7i3/s1600/fitnah-harta-1.jpg
"Aku berdiri di depan pintu syurga, lalu (kulihat) kebanyakan yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang miskin, sementara orang-orang yang kaya masih tertahan (untuk dihisab) kecuali penghuni neraka mereka (telah) disuruh untuk masuk ke neraka, ..." [HR Muslim]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Maukah kamu aku beritahu tentang ahli surga? (yaitu) setiap (muslim) yang lemah dan diremehkan, seandainya dia bersumpah atas nama Allah niscaya Allah meluluskannya. Maukah kamu aku beritahukan tentang ahli neraka? (yaitu) setiap orang yang keras, kasar, penumpuk harta dan sombong" [HR Bukhari & Muslim]

Kaya?
Dari Abu Huraerah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Bukanlah kekayan itu dengan banyaknya harta. Tetapi, sesungguhnya kaya itu ialah kaya jiwa” [HR Bukhari & Muslim]

Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, `Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan & Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan & tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)" [HR Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah & Al-Hakim]

Q22.64. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Harta?
Harta seseorang adalah apa yang dia makan lalu habis, apa yang dia pakai lalu usang, dan apa yang telah dia nafkahkan dan sedekahkan. Sedangkan harta yang dia simpan dan kumpulkan adalah harta milik ahli warisnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, dia berkata, "Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallambersabda: "Seorang hamba berkata, 'Hartaku, hartaku!' Padahal dari hartanya dia hanya mendapatkan tiga perkara yaitu 'Apa yang dimakan lalu ia habis, atau apa yang dipakai lalu ia usang, atau apa yang dia berikan lalu dia menyimpan pahalanya di akhirat'. Selain itu ia adalah lenyap dan (menjadi) barang peninggalannya untuk orang (selainnya)."" [HR Muslim]
...harta yang dinafkahkan di jalan Allah subhanahu wa ta'ala adalah harta kita yang sesungguhnya! 

Jabatan? 
"Janganlah kamu meminta jabatan dalam pemerintahan. Karena jika kamu diberi jabatan karena permintaanmu, maka bebanmu sungguh berat. Tetapi jika kamu diberi jabatan tanpa kamu minta, maka kamu akan dibantu oleh orang banyak" [HR Muslim dari Abdurrahman bin samurah r.a.]

Abu Dzar ra berkata: Saya bertanya, "Ya Rasulullah mengapa engkau tidak memberiku jabatan?" Maka Rasulullah menepukan tangannya pada pundakku, lalu Beliau bersabda: "Hai Abu Dzar, sungguh kamu ini lemah, sedangkan jabatan adalah amanah, dan jabatan itu akan menjadi kehinaan serta penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memperolehnya dengan benar dan melaksanakan kewajibannya dalam jabatannya" [HR Muslim]

Bahagia & Kenikmatan Dunia?
Kita akan memperoleh kebahagian atau kenikmatan dunia jika dalam keseharian kita terpenuhi minimal 3 hal yaitu Sehat, Aman (bebas dari ketakutan, kekhawatiran dan kecemasan), dan Memiliki Makanan Pokok untuk Hari itu...

Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya,aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya. [HR Ibnu Majah, no. 4141; dan lain-lain; dihasankan oleh Syaikh Al Albani di dalam Shahih Al Jami’ush Shaghir, no. 5918]
Ada satu ayat dalam Quran yang mengisyaratkan tentang kebahagiaan...

Q46.13. "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah', kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka & mereka tiada (pula) berduka cita".
Dari ayat di atas ada 2 (dua) hal yang menjadi kunci bahagia yaitu:
1. Iman (beriman) kepada Allah swt & meng-ikhlash-kannya, yakin & patuh kepada Zat yang telah menciptakannya. (karena kebahagiaan adalah kepunyaan Allah swt juga).
2. Istiqamah, teguh pendirian dalam tauhid & tetap beramal yang saleh.

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjYhBjo059pX_n55dCqTaBmdnmrT5x-lJhw17nYhzD6oMEyOJeIMyP7WGHkdVg1w2s9iU2bbUoedpyCZliudgwurwvHZ6Fsx3cybwN_YChOomQJZnmcnGtgBgfq5OTRJ4IOnZ6pTiKWBoc/s320/kaya-miskin.JPGBahagia... Seseorang yang mengucapkan 'bismillah' tatkala akan memakan (hanya) sepotong roti & mengucapkan 'alhamdulillah' setelah dia selesai memakannya...

Dengan Iman & Istiqamah, bahagia akan diperoleh, dengan ciri-ciri...

  • Selalu ada Allah swt dalam hati & kehidupannya.
  • Merasa bahagia dengan bisa beribadah & sujud kepada Allah swt.
  • Mengikrarkan "Allah... saya bahagia bisa dekat dengan Kau... alhamdulillah"
  • Ridho dengan segala apa yang Allah swt tentukan, putuskan & takdirkan atas ditrinya.
  • Qana'ah
  • Merasakan kelezatan iman, Allah & Rasul-Nya lebih dia cintai; Mencintai karena Allah; benci karena Allah.
Sarana istirahatnya orang bahagia adalah bisa shalat dengan khusyu... merasa dekat dengan Allah swt. Bukan pada pemandangan yang indah, harta yang banyak, makanan yang enak, alunan musik dst...

Bahagia akan sirna jika melakukan dosa atau maksiat kepada Allah swt dengan ciri...

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFQzB2ac70YU0yI237Y63CZm71ghjrOoCj1gTr98PPayQxLQi3FCIBWk_I09i7k1VpbgoL7e1WW8L-Nxx0_2bgiTeDprj9I1Q6VkNVXFpmzkVbjBUDE_kkDMxpVEJPZ8UnAMhzTmuPXfc/s1600/the-best.jpg
  • Gelisah
  • Takut diketahui orang lain
  • Hati terhijab terhadap kebenaran karena hatinya telah kotor.
Mereka yang tidak tahu dien, tidak tahu tujuan hidup akan salah dalam memahami arti kehidupan…
Sudah kaya secara materi (sandang, pangan & papan)... masih mencari sesuatu... keinginan untuk diakui, dihargai, dihormati, dst... ingin menjadi lebih dari yang lain, ingin menjadi nomor satu dan ingin-ingin yang lainnya sampai mereka binasa.


KEBENARAN

Kebenaran adalah apa-apa yang datang dari sisi Allah subhanahu wa ta'ala & Rasul-Nya. 
detail...


KEBAJIKAN DAN DOSA

“Kebajikan adalah bagusnya akhlak, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwamu dan kamu tidak suka apabila hal itu diketahui oleh orang lain.” (HR Muslim)

Hati nurani tidak bisa dibohongi

Mintalah fatwa kepada hati dan jiwamu. Kebajikan ialah apa yang menyebabkan jiwa dan hati tentram kepadanya, sedangkan dosa ialah apa yang merisaukan jiwa dan menyebabkan ganjalan dalam dada walaupun orang-orang meminta atau memberi fatwa kepadamu. (HR Muslim) 



Akhirnya... 
Q3.85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Q15.2. Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.

Q40.39. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.

Q35.5. Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah SYAITAN yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.


Sepenggal syair dari Aa Gym...
Hidup di dunia sebentar saja, sekedar mampir sekejap mata
Jangan terpesona jangan terpedaya
Akherat nanti tempat pulang kita, akherat nanti hidup sebenarnya

Barang siapa Allah tujuannya, niscaya dunia akan melayaninya
Namun siapa dunia tujuannya...
Niscaya kan letih & pasti sengsara, diperbudak dunia sampai akhir masa


Celupkan Jarimu Ke Air Lautan…
 
Karya Taufiq Ismail, diambil dari Remembrance of Alloh

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6FU55g8WBimEAA20CV_W3O91omWwI8AXLTAn6-W2GIZcU7uRRfKYnUzctVNFT11wbEnnQCGwl0fd8VQgLBFanCT-HDo-Hekdu8xIAs4lsOM_TweiMZXj1vDf_z4GDNKAooSS9m6hOcyg/s1600/6x-tempz-alhayat-2dalil-earth_drop-universe.gif Bertanya seseorang pada junjungan kita
Wahai Rasulullah tercinta
Bandingkan dunia kini
Dengan akhirat nanti.

Menjawablah Rasulullah
Sallallahu’Alaihi wa Sallam

Celupkan jarimu ke air lautan
Air yang menetes dari ujung jarimu
Itulah dunia seisinya
Air yang ada diselebihnya di lautan
Air yang tersebar di tujuh samudera
Itulah akhirat nanti

Wahai alangkah kecil arti dunia
Wahai alangkah kerdil arti dunia
Wahai alangkah remeh makna dunia
Wahai alangkah tak berartinya dunia

Yang mengejar akhirat
Mendapat akhirat & dunia
Yang mengejar dunia
Cuma mendapat dunia

kangarul _http://temp-zzz.blogspot.com/2011/02/dalil-dalil-kehidupan-dunia.html
Wallahu'alam...


Hadits tentang Puasa Asyura (Hari kesepuluh bulan Muharram

Berdasarkanbeberapa hadits ditemukan anjuran Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kepada ummat Islam agar melaksanakan puasa di tanggal sepuluh bulan Muharram. Tanggal sepuluh bulan Muharram biasa disebut Yaum ’Aasyuura (Hari kesepuluh bulan Muharram).

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Seutama-utama berpuasa sesudah bulan Ramadhan ialah dalam bulan Allah yang dimuliakan - yakni Muharram - dan seutama-utama shalat sesudah shalat wajib ialah shaliatullail - yakni shalat sunnah di waktu malam." (Riwayat Muslim)

Suatu ketika Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mendapati kaum Yahudi sedang berpuasa pada hari ’Asyuura. Lalu beliau bertanya mengapa mereka berpuasa pada hari itu. Merekapun menjelaskan bahwa hal itu untuk memperingati hari dimana Allah telah menolong Nabi Musa bersama kaumnya dari kejaran Fir’aun dan balatentaranya. Bahkan pada hari itu pula Allah telah menenggelamkan Fir’aun sebagai akibat kezalimannya terhadap Bani Israil. Mendengar penjelasan itu maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam-pun menyatakan bahwa ummat Islam jauh lebih berhak daripada kaum Yahudi dalam mensyukuri pertolongan Allah kepada Nabi Musa. Maka beliau-pun menganjurkan kaum muslimin agar berpuasa pada hari ’Asyuura.


Selengkapnya

Kisah Nabi Ismail as

Sampai Nabi Ibrahim yang berhijrah meninggalkan Mesir bersama Sarah, isterinya dan Hajar, di tempat tujuannya di Palestina. Ia telah membawa pindah juga semua binatang ternaknya dan harta miliknya yang telah diperolehnya sebagai hasil usaha niaganya di Mesir.
Al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a.berkata:
Pertama-tama yang menggunakan setagi {setagen} ialah Hajar ibu Nabi Ismail tujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang telah lama berkumpul dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi belum juga hamil. tetapi walaubagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahasia yang disembunyikan itu dengan lahirnya Nabi Ismail a.s. .

Berita terbaru


Komunikasi dengan Allah SWT

Bacaan Al-fatihah dalam shalat adalah rukun dan banyak keutamaannya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu ‘Awanah dan Baihaqi, “ Rasulullah SAW bersabda: “Tidak sah shalat seseorang jika tidak membaca Al-Fatihah.”

Rasulullah SAW membaca surat Al-Fatihah dengan berhenti setiap ayat, tidak menyambung satu ayat dengan ayat berikutnya. Jadi bunyinya.. Bismillahirrahmaanirrahiim..(kemudian berhenti), Alhamdulillahirabbil ‘alamiin.. (kemudian berhenti), Arrahmaanirrahiim..(kemudian berhenti), begitulah seterusnya sampai selesai. Beliau tidak menyambung ayat satu dengan ayat berikutnya. HR. Abu Dawud dan Sahmi (64-65) disahkan oelh Hakim dan disetujui oleh Dzahabi. Dalam kitab Al-Irwa’ hadits no.343.

Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkomentar: Hadits ini mempunyai banyak sanad. Inilah yang pokok dalam masalah ini, lalu ia berkata ; sejumlah imam salaf dan ahli-ahli Al-Quran dahulu sangat senang membaca Al-Quran ayat per ayat, sekalipun ayat yang satu dengan ayat lain itu masih mempunyai satu pengertian. Sunnah Nabi seperti ini ditinggalkan oleh sebagian besar ahli qira’atul qur’an pada masa-masa ini apalagi yang lain”


Abdullah bin Rawahah, 'Penyair Rasulullah'

Waktu itu, Rasulullah sedang duduk di suatu dataran tinggi di kota Makkah, menyambut para utusan yang datang dari Yatsrib (Madinah) dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui kaum Quraisy. Mereka yang datang ini terdiri dari 12 orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan sebutan kaum Anshar (penolong Rasul).

Mereka akan berbaiat kepada Rasulullah, yang kelak disebut dengan Baiat Aqabah Ula (pertama). Merekalah pembawa dan penyiar Islam pertama ke Yatsrib. Dan baiat merekalah yang membuka jalan bagi hijrahnya Nabi beserta pengikut beliau, yang pada gilirannya membawa kemajuan bagi Islam. Salah seorang dari utusan yang dibaiat itu adalah Abdullah bin Rawahah.

Ibnu Rawahah adalah seorang penulis dan penyair ulung. Untaian syair-syairnya begitu kuat dan indah didengar. Sejak memeluk Islam, ia membaktikan kemampuan bersyairnya untuk mengabdi bagi kejayaan Islam. Rasulullah sangat menyukai dan menikmati syair-syairnya, serta serta sering menganjurkan kepadanya untuk lebih tekun lagi membuat syair.


Pada suatu hari, Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah. Lalu Nabi bertanya kepadanya, "Apa yang kau lakukan jika hendak mengucapkan syair?"

Kalender Islam

Mari Membumikan Al-Quran

Mari Membumikan Al-Quran
Sudahkan baca qur'an hari ini?

 

Copyright © 2009 by The Power of Hikmah