Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Juli 2014

Adakah yang tersisa dari Ramadhan?

Saat Ramadhan, hari-hari senantiasa diisi dan diwarnai dengan nuansa ibadah. Shalat tepat waktu, mengerjakan shalat-shalat sunnah, Al-Quran teruntai disaat siang malam, pagi dan petang, masjida dan mushalla ramai setiap waktu, infaq dan shadaqah hingga syiar ketaatan dalam kedamaian islam yang mengisi berbagai ruang kehidupan.
  
Kini Ramadhan yang  indah itu telah berlalu,  apakah masih tersisa amalan-amalan yang senantiasa menghiasi hari-hari saat ramadhan?. Ramadhan selain bulan penuh rahmat, penuh ampunan, dilipatgandakannya pahala, dimakbulkannya doa, juga sebagai bulan pendidikan dan latihan, sebagai modal perjalanan dalam menapaki bulan-bulan berikutnya.

Maka sudah seyogyanya seorang muslim untuk mempertahankan amalan-amalan ibadahnya pasca ramadhan dengan mengusahakannya sekuat tenaga. Sesungguhnya para Ulama’ Rahimahumullah telah berkata : diantara tanda-tanda diterimanya amalan di sisi Allah adalah sesungguhnya Allah Ta’ala akan mengiringi kebaikan yang telah dilakukan dengan kebaikan-kebaikan yang lain maka kebaikan akan menyeru wahai saudaraku wahai saudaraku, demikian pula keburukan juga akan menyeru dengan seruan yang sama dan kita berlindung kepada Allah, maka apabila Allah menerima amalan seorang hamba di bulan Ramadhan dan dia bisa mengambil faedah dari bulan pendidikan ini dan konsisten dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla maka sesungguhnya dia berada dalam gerbong mereka orang-orang yang istiqomah dan mengharap amal ibadahnya diterima oleh Allah,
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman :


إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ () نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ()

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. QS: Fushshilat 30-31.

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ ()

Allah juga berfirman: “Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. QS: Al Maidah 56,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ ()

 “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran. QS: Al Ahqaaf 13.

Jikalau begitu maka para penumpang gerbong istiqomah akan selalu ada terus-menerus dari bulan Ramadhan yang satu ke bulan Ramadhan yang lain karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ ، وَ الْجُمْعَةُ إِلَى الجُمَعَة ُ وَرَمَضَانَ إلِىَ رَمَضَانَ مُكَفِرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الكَباَئِرَ
“Shalat lima waktu, dan Jum’at satu ke Jum’at lainnya, dan ramadhan satu ke Ramadhan lainnya adalah penebus dosa antara kesemuanya itu selagi seseorang menjauhi dosa-dosa besar”. HR.Muslim  

dan Allah Ta’ala juga berfirman :

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلا كَرِيمًا.

 “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). QS: An Nisaa’ 31.     

Inilah Rasulullah SAW selalu mengingatkan untuk senantiasa teguh pendirian dan istiqomah yaitu konsisten secara terus-menerus, semakin baik dan semakin baik lagi. Suatu ketika datanglah seorang sahabat kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan berkata : berikanlah wasiat kepadaku :

 قل آمنت بالله ثم استقم ) متفق عليه

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan bersabda: katakanlah aku beriman kepada Allah lalu istiqomahlah. HR. Bukhari dan Muslim

Kini saat bulan Ramadhan telah berlalu dan berganti dengan bulan Syawwal, saatnya tetap melanjutkan ibadah-ibadah sunnah, berupa shalat sunnah, tilawah Al-Quran, memperbanyak dzikir, infaq dan shadaqah, menebar syiar kebaikan dan kedamaian, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Diantara ibadah sunnah itu adalah puasa sunnah syawwal sebagai kontinuitas keistiqomahan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa wajib bulan Ramadhan adalah amalan sunnat yang dianjurkan bukan wajib. Seorang muslim dianjurkan mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal. Banyak sekali keutamaan dan pahala yang besar bagi puasa ini. Diantaranya, barangsiapa yang mengerjakannya niscaya dituliskan baginya puasa satu tahun penuh (jika ia berpuasa pada bulan Ramadhan). Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Abu Ayyub Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:

من صام رمضان وأتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh." (H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Rasulullah telah menjabarkan lewat sabda beliau:
من صام ستة أيام بعد الفطر كان تمام السنة : من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها )

"Barangsiapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal selepas 'Iedul Fitri berarti ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipat."

Dalam sebuah riwayat berbunyi:
جعل الله الحسنة بعشر أمثالها فشهر بعشرة أشهر وصيام ستة أيام تمام السنة

"Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa bulan Ramadhan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun." (H.R An-Nasa'i dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalam Shahih At-Targhib).

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dengan lafazh:
"Puasa bulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan. Sedang puasa enam hari bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Itulah puasa setahun penuh."

Para ahli fiqih madzhab Hambali dan Syafi'i menegaskan bahwa puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa Ramadhan setara dengan puasa setahun penuh, karena pelipat gandaan pahala secara umum juga berlaku pada puasa-puasa sunnat. Dan juga setiap kebaikan dilipat gandakan pahalanya sepuluh kali lipat.

Salah satu faedah terpenting dari pelaksanaan puasa enam hari bulan Syawal ini adalah menutupi
kekurangan puasa wajib pada bulan Ramadhan. Sebab puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan pasti tidak terlepas dari kekurangan atau dosa yang dapat mengurangi keutamaannya. Pada hari kiamat nanti akan diambil pahala puasa sunnat tersebut untuk menutupi kekurangan puasa wajib.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam :

"Amal ibadah yang pertama kali di hisab pada Hari Kiamat adalah shalat. Allah Ta'ala berkata kepada malaikat -sedang Dia Maha Mengetahui tentangnya-: "Periksalah ibadah shalat hamba-hamba-Ku, apakah sempurna ataukah kurang. Jika sempurna maka pahalanya ditulis utuh sempurna. Jika kurang, maka Allah memerintahkan malaikat: "Periksalah apakah hamba-Ku itu mengerjakan shalat-shalat sunnat? Jika ia mengerjakannya maka tutupilah kekurangan shalat wajibnya dengan shalat sunnat itu." Begitu pulalah dengan amal-amal ibadah lainnya." H.R Abu Dawud.

Semoga kita benar-benar mendapatkan bekal melanjutkan hari-hari yang tersisa ini dari ramadhan. Bekal yang meskipun sedikit namun mampu mempertahankan, mengamalkannya secara kontinyu dan meningkatkan agar semakin baik lagi.

Karena sesungguhnya sebaik-baik amalan yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang kontinyu meskipun hanya sedikit, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أيها الناس عليكم من الأعمال ما تطيقون فإن الله لا يمل حتى تملوا ، وإن أحب الأعمال إلى الله ما دووم عليه وإن قل وكان آل محمد صلى الله عليه وسلم إذا عملوا عملاً ثبتوه أي داوموا عليه ، رواه مسلم

“Wahai umat manusia hendaklah kalian melakukan amalan-amalan yang kalian mampu untuk memikulnya karena sesungguhnya Allah tidak akan merasa jenuh hingga kalian sendiri yang jenuh, dan sesungguhnya amalan-amalan yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang dikerjakan secara kontinyu meskipun hanya sedikit atau kecil, dan adalah keluarga Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam apabila mengerjakan sebuah amalan mereka menekuninya atau konsisten dalam menjalaninya” HR. Muslim.

Sabtu, 21 Juni 2014

PESONA SYUKUR DAN SABAR

Semoga Allah SWT Yang Mahapemurah menetapkan kita menjadi bagian dari orang-orang yang layak mendapat tambahan nikmat dan tingginya
kedudukan di sisi-Nya karena rasa syukur dan sabar kita. Seperti firman Allah SWT, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat-Ku kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim [14]:7).

Syukur dan sabar adalah kunci bagi meningkatnya keimanan seseorang pada Allah SWT. Berbagai sarana telah disediakan bagi tumbuhnya rasa
syukur dan sabar dalam diri, baik berupa kenikmatan ataupun ujian, bertafakkur terhadap berlikunya nilai hikmah, evaluasi diri dan melihat dari dekat ujian yang ditimpakan pada para mustad'afiin, tuntutan menyempurnakan ikhtiar, husnuzhan kepada Allah dan lain-lain.

Syukur dan sabar juga merupakan sarana meningkatkan kualitas diri agar lebih berharga dalam pandangan Allah SWT. Seseorang yang pandai bersyukur akan senantiasa bertahtakan kesabaran, meski berada dalam ujian penderitaan. Apapun yang kemudian mereka dapatkan, mereka kembalikan kepada yang memberikan semua itu, Allah SWT. Allah SWT sendiri memberi tanda kepada golongan orang-orang seperti ini, sebagaimana firman-Nya: "(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan 'Inna lillaahi wa Inna Ilaihi Raaji'uun'" (Al-Baqarah [2]:156).

Keterbatasan harta bagi mereka bukan sebuah bencana yang akan menghancurkan hidupnya, tetapi lebih merupakan ujian yang dijanjikan Allah Swt yang akan berbuah pada meningkatnya kualitas iman dalam diri. Rasa sakit yang begitu pedih akan senantiasa ia sikapi dengan penuh kesabaran sebagaiman Nabiyullah Ayub AS. Ketika menyikapi hal tersebut, ia yakin bahwa sakit merupakan ujian Allah SWT yang akan berbuah pada bergugurannya dosa-dosa yang dimilikinya, sehingga kelak mereka mendapatkan keberuntungan memasuki surga Allah tanpa hisab, subhaanallah.

Keindahan orang-orang yang memiliki pribadi syukur dan sabar akan tampak dalam pola hidup kesehariannya. Ia tidak akan memiliki sikap sombong meskipun bergelimangan harta dan kemewahan. Pribadinya terasa sejuk dan penuh keakraban. Namun demikian, ia juga penuh dengan kegigihan untuk tetap berjuang di jalan Allah untuk meraih keridhaan-Nya. Tak ada kebencian di antara mereka. Kalaupun mereka menemukan hal, yang satu sama lain kurang berkenan, mereka akan lebih memilih saling memberikan taushiah (berwasiat) dengan penuh kebenaran dan kesabaran, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Ashr ayat 3: "Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih serta saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran."

Sungguh indah pribadi-pribadi yang memiliki sifat syukur dan sabar dalam dirinya, sehingga tidak tampak sama sekali dalam dirinya penyesalan dalam penderitaan, rasa putus asa dalam ujian, ingin berontak ketika diharuskan taat pada syari'at. Karena keindahan pribadinya, Allah merelakan diri-Nya duduk bersama golongan orang-orang seperti ini. Firman Allah SWT, "Sebagai nikmat dari Kami.

Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur (QS. Al-Qamar [54]:35). Pada surat lain Allah SWT juga berfirman, "...Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar" (QS. Al-Baqarah [2]: 153).

Berbeda sekali dengan orang-orang yang tidak mampu bersyukur dan bersabar atas nikmat dan ujian yang datang dari Allah. Nikmat dunia yang melimpah mereka anggap semata-mata karena hasil usaha dan kerja keras yang mereka lakukan sendiri. Gelimangnya harta bagi mereka sikapi dengan pesta pora menikmati keindahan dunia, yang sesungguhnya fana. Berkurangnya harta dunia membuat golongan orang-orang yang seperti ini tidak tenang, cemas dan tidak menentu. Mereka menganggap bahwa kesenangan yang sesunguhnya hanya dapat diukur dengan harta yang banyak dan melimpah, sehingga mereka merasakan kebingungan yang amat sangat ketika harta dunia tiada dalam genggamannya.

Kesehatan fisik yang dimilikinya tidak mereka sadari sebagai karunia Sang Mahapemberi nikmat, sehingga mereka pergunakan untuk bermaksiat terhadap Allah. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa kesehatan yang ada dalam genggamannya suatu saat akan hilang dan berganti menjadi rasa sakit. Mereka juga tidak menyadari bahwa nikmat-nikmat lain yang selama ini diterimanya akan dihisab kelak di akhirat.

Sungguh nista perilaku orang-orang yang tidak mampu bersyukur akan nikmat yang telah diberikan Allah. Belum lagi ketika mereka ditimpa dengan ujian. Sakit yang diderita mereka sikapi dengan keluh kesah yang berkepanjangan, dan putus asa seolah tiada akan berkesudahan. Ujungnya, hanya penderitaanlah yang akan dirasakan oleh orang-orang seperti ini. Sekecil apapun rasa sakit yang dideritanya, akan terasa berat dan membebani dirinya. Rasa sakit yang sesungguhnya ringan mereka dramatisir sedemikian rupa seolah sebuah sakit yang berat dengan tujuan untuk mendapatkan simpati dari orang-orang di sekelilingnya. Ketika tidak mendapatkan simpati yang diinginkannya, mereka semakin merasakan penderitaan yang amat sangat.

Sungguh kasihan dan malang orang-orang yang tidak mampu bersyukur terhadap nikmat Allah dan bersabar terhadap ujian yang diberikan Allah. Karena, bukan hanya penderitaan dunia saja yang akan diperoleh orang-orang seperti ini, melainkan juga hisab yang berat dan penderitaan yang sangat pedih di akhirat kelak. Firman Allah SWT: "...dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim [14]:7). Naudzubillahi min zaalik.

Untuk itu, mari kita sama-sama berharap akan pertolongan Allah SWT semoga Allah Yang Mahapemurah dan Mahaadil senantiasa menggolongkan kita sebagai hamba-hambanya yang senantiasa mampu bersyukur akan semua nikmat Allah dan bersabar atas ujian yang ditimpakan-Nya. Kita juga memohon perlindungan-Nya agar kita tidak dimasukan ke dalam golongan orang-orang yang tidak mampu bersyukur dan bersabar atas apapun yang diberikan oleh Allah SWT. Wallahua'lam


Sumber: Manajemen Qalbu AA Gym

Sabtu, 22 Februari 2014

Bencana dalam bingkai Hikmah

Setiap peristiwa adalah bernilai hikmah, yang jika renungkan mengandung berbagai pelajaran dan peringatan yang tentunya agar manusia senantiasa lebih memahami siapa dirinya yang sebenarnya.
Dan siapa yang memiliki kekuasaan mutlak di alam ini. Meskipun peristiwa tersebut pada saat awal-awalnya terkadang menurut anggapan manusia adalah musibah atau sengsara.

Membaca, mendengarkan dan melihat dibeberapa media, akhir-akhir telah terjadi berbagai peristiwa yang sempat menguras air mata, menarik nafas dalam dan menyisakan duka yang dalam para korban, yaitu mulai dari gempa, tanah longsor, banjir dan letusan gunung berapi. Yang mana jika direnungkan berbagai peristiwa tersebut mengandung berbagai hikmah diantaranya:

Pertama: sebagai TEGURAN. Yaitu teguran kepada manusia kufur yang telah dilalaikan dengan dunia dengan segala hiruk pikuk kenikmatan, kemapanan dan kemajuan teknologi yang ada, manusia yang menganggap agama tidak penting dan mendustakannya. Mereka itu sedang ditegur oleh Allah SWT agar kembali merapat kepada-Nya dengan menjalankan fungsinya utamanya yaitu beribadah  dan bersyukur atas segala dicapainya, Allah SWT berfirman dalam al-Quran :
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (menyembah) kepada-Ku.” QS. Adz-Dzariyat: 56 dan
“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu[971] dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku” QS. Al-Anbiya 92.

Dari ini mungkin kita bisa sedikit bertafakur atas secuil contoh teguran Allah SWT terhadap representasi kemajuan teknologi ilmu pengetahuan dan peradaban yang diagungkan dan bahkan dipertuhankan oleh manusia. Dimana Allah SWT cukup hanya menjadikan sekali erupsi letusan kelud, material abu vulkanik membumbung setinggi 17 kilometer, tujuh bandara dipulau jawa lumpuh total dalam beberapa hari, bahkan jalur penerbangan australia harus diubah rutenya.   

Kedua: sebagai UJIAN. Yaitu ujian untuk hamba yang beriman, apakah kadar kesungguhan taqwa dan kesabaran tetap konstan alias istiqomah dengan dihadirkannya berbagai peristiwa musibah baik gempa, banjir, atau gunung meletus. Allah SWT berfirman:
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah SWT orang-orang yang berjihad (sungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah dan larangan) diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar” QS. Ali Imran 142.

Dalam insiden gempa, tanah longsor ataupun erupsi letusan kelud, terdapat kerusakan sawah ladang dan beberapa masjid dan mushalla rusak. Jika tempat ibadah sebagai representasi ketaatan, dan sawah ladang representasi kemakmuran, maka Allah SWT sedang menguji seberapa besar kadar istiqomah dan kesabaran seorang hamba.  

Ketiga: sebagai PENGAKUAN. Yaitu sebagai peringatan kepada yang ingkar dan kafir, bahwa tidak ada kehebatan dan kedigdayaan kecuali Allah SWT. Segala sesuatu yang menentukan adalah Allah SWT, segala sesuatu yang menciptakan atau meniadakan adalah Allah SWT dan segala sesuatu itu adalah milik dan karena Allah SWT semata. Allah SWt berfirman:
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”.QS. Thaha 14
Dalam ayat lain disebutkan;
“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu” QS. Ar.Rad 2.

Sebuah penelitian, dikutip dari republika online Rabu, 15 Juni 2011, dengan menggunakan tanaman cabai yang ditanam dalam polybag, ternyata Hasil fermentasi abu vulkanik Gunung Merapi dengan effective microorganisme (EM 4) akan mempercepat pertumbuhan tanaman, demikian hasil penelitian tiga siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Candimulyo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tiga siswa kelas VIII SMPN 3 Candimulyo, yakni Nazola Soares, Dwi Ristanti, dan Tri Wahyuni. Dan masih banyak lagi manfaat lain selain menyuburkan tanah, juga sebagai penangkap hujan (hujan olografis), memperluas area pertanian, memperbanyak budidaya tanaman, barang tambang (mineral) semakin dekat ke permukaan bumi, mempererat jiwa sosial, pariwisata dan sanatorium (tempat perawatan orang2 yg sakit paru2 karena udara yg sejuk).

Manfaat tersebut diawali dengan mudharat bagai manusia berupa kehancuran, kerusakan, rawan terjangkit pernafasan dan berbagai kerugian jiwa dan material.

Mengutip tradisi masyarakat jawa gothak gathuk enthuk dari berbagai pesan di media sosial, twitter, facebook dan blackberry, peristiwa alam atau peristiwa lain yang menjadi perhatian masyarakat, misal letusan kelud, dimana Erupsi pertama Gunung Kelud terjadi pada pukul 22.50 Waktu Indonesia Barat (WIB), Kamis, 13 Februari 2014. Lalu, mari kita buka Al-Quran surat ke-22, Al-Hajj, Ayat 50, yaitu: "Falladziina Amanu Wa'amilus Shoolihaati Lahum Maghfirotuw Warizqun Kariim" artinya "Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia".

Lalu, sesuai tanggal kejadian erupsi Gunung Kelud, 13 Februari (13/2), mari kita lihat Al-Qur'an surat ke 13, Ar-Ra'd, ayat dua, yaitu: "Allahul Ladzi Rofa'as Samaawaati Bighoiri A'madin Tarownahaa Tsummastawaa A'lal A'rsyi Wasakhkhorosy Syamsa Walqomaro. Kulluy Yajri Liajalimmusamma. Yudabbirul Amro Yufashshilul Aayaati La'allakum Biliqoooi Robbikum Tu'kinuun". Yang artinya "Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas A'rsy. Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (mahluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin pertemuan dengan Tuhanmu.  

Terlepas dari itu, wajiblah diyakini bahwa Allah SWT-lah yang menjadikan segala peristiwa manfaat dan mudharat, dimana keduanya demi kebaikan makhluknya di dunia dan akhirat.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” QS. Ali Imran 190-191

Wallahu a’lam bis showab.  

Rabu, 29 Januari 2014

Hikmah Lupa dan Penawarnya

Lupa adalah suatu kewajaran bagi manusia. Demikian pula dalam menghafalkan Alquran. Dalam suatu diskusi dengan seorang ustad, saya menanyakan perihal banyaknya orang yang enggan menghafal Al-Qur’an dengan alasan takut lupa.

Ustad tersebut tersenyum dan menjawab,”Orang yang takut menghafal karena takut lupa dianalogikan seperti orang yang tidak mau memiliki uang karena takut hilang. Dia tidak akan pernah kehilangan uang tetapi juga tidak pernah merasakan nikmatnya memiliki uang.”

Lupa ibarat “sms” dari Alquran yang sedang rindu untuk kita baca. Lupa ayat Alquran sejatinya merupakan peringatan kepada kita untuk selalu mengulang dan tidak pernah berhenti mengulang. Lupa adalah “pengikat” antara seseorang dengan Alquran. Demikianlah faedah lupa.

Semakin sering lupa semakin sering kita mengulang Alquran. Semakin sering mengulang, semakin sering kita membaca Alquran. Dengan frekuensi yang semakin sering ”dekat” dengan Alquran, maka Insya Allah rasa cinta terhadap Alquran semakin bersemi.

Semoga dengan demikian, Allah menyingkap rahasia ilmu Alquran yang luar biasa. M Quraisy Shihab dalam pengantarnya di Buku "Membumikan Alquran menuliskan ucapan Al-Mawdudi, “Untuk mengantarkanmu mengetahui rahasia ayat Alquran, tidaklah cukup kau membacanya empat kali sehari.”

Maka semestinya ketika Alquran mengirimkan sinyal “rindu” berupa lupa, kita segera menjawabnya. Kita melakukan usaha untuk menjaganya. Amalan mujarab dari Rasulullah saw yang diberikan kepada ‘Ali bin Abi Thalib mungkin dapat kita coba.

Suatu ketika Ali ra mengeluhkan tentang hafalannya yang sering hilang. Ali ra berkata,” Ya Rasulullah , aku korbankan ibu dan ayahku atas engkau. Aku mencoba menghafal Alquran tetapi selalu lupa dan hilang dari ingatanku.”

Beliau Saw bersabda,”Akan aku ajarkan kepadamu satu cara yang bermanfaat bagimu dan apa yang kamu adukan, sehingga apa saja yang kamu pelajari akan terpelihara dalam ingatanmu.”

Kemudian Beliau bersabda, ”Jika malam Jumat tiba, bangunlah pada akhir malam. Pada saat itu adalah waktu yang sangat baik. Ketika itu malaikat turun dan doa-doa dikabulkan secara khusus oleh Allah.''

''Jika kamu sulit bangun pada waktu itu, maka bangunlah pada pertengahan malam, Jika pada waktu itupun kamu sulit bangun maka bangunlah pada permulaan malam. Dan shalatlah empat rakaat . Bacalah surah Yasin setelah membaca Al-Fatihah pada rakaat pertama. Rakaat kedua setelah Al-Fatikhah bacalah Surat Ad-dukhan. Rakaat ketiga setelah Al-Fatikhah bacalah surat As-sajdah. Pada raka’at keempat setelah Al-Fatikhah bacalah surat Al-Mulk.''

''Setelah selesai membaca Tahiyyat, perbanyaklah memuji Allah swt, lalu kirimkanlah shalawat dan pujian kepadaku. Juga kirimkanlah shalawat kepada nabi dan kaum mu'min. Dan kepada saudara seiman yang sudah meninggal dunia. Mohonkanlah ampunan untuk mereka. Setelah itu bacalah doa ini. (Rasulullah memberikan doa yang cukup panjang. Untuk lebih lengkap dapat dilihat pada kitab Fadhailul Amal : 636 atau browsing internet “hadist memperkuat hafalan”).''

Kemudian Nabi bersabda, ”Wahai Ali, kerjakanlah ini selama tiga, lima, atau tujuh Jumat. Insya Allah doamu akan dikabulkan Allah Swt. Aku bersumpah dengan Nama-Nya yang menjadikan aku sebagai nabi, bahwa doa setiap mu’min tidak akan dibiarkan tanpa dikabulkan.”

Ibnu Abbas ra meriwayatkan setelah lima atau tujuh Jumat, Ali ra datang kepada Rasulullah saw dan berkata,” Ya Rasulullah, dulu aku menghafal kurang dari empat ayat, itu pun tidak lama berada dalam ingatanku. Sekarang aku dapat menghafal empat puluh ayat dan aku mengingatnya dengan mudah. Seolah Alquran dibukakan di depanku. Dulu, jika mendengar hadis dibacakan aku kesulitan untuk mengulangnya. Tapi sekarang, jika mendengar hadis lalu meriwayatkan kepada orang lain, aku mampu meriwayatkannya tanpa tertinggal satu huruf pun.”

Subhanallah, semoga kita diberi kekuatan untuk menghafal Alquran. Amin

sumber: REPUBLIKA, Oleh: Soraya Khoirunnisa Halim

Senin, 04 November 2013

Hikmah Tahun Baru

Kaum muslimin di Makkah mulai menerima siksaan dan pengucilan dari masyarakat akibat propaganda, hasutan dan intimidasi dari kafir quraisy. Selain kalah dominasi dan dalam posisi sangat minoritas, kaum muslimin yang mulai menyatakan keislaman dan ketauhidan, mengalami siksaan bahkan hingga dibunuh oleh majikannya agar murtad dan kembali kepada kekufuran, diantara sahabat itu adalah Amar bin Yasir, dimana ayah dan ibunya dibunuh lantaran tetap mempertahankan keimanan, lalu Zubair bin Awwam, Uthman bin Affan, Mushab bin Umair, Shuhain bin Sinan Arrumi, abu Fakihah, Khabbab bin Al-art, Zunairah, Ummu Ubais, An-Nahdiyah dan anaknya hingga Bilal bin Rabah radiyallahu anhum. Melihat kondisi yang demikian pedih para sahabat yang berada diposisi ekonomi dan strata lemah. Maka pada tahun 622 masehi, Allah SWT memerintahkan Nabi SAW dan para sahabat untuk hijrah ke Madinah.

Perintah berhijrah agar Rasulullah SAW dan para sahabat bisa menemukan suasana kehidupan yang lebih baik dalam menjalankan ibadah spiritual dan sosial kepada Allah SWT. Hal ini bukan karena Allah SWT tidak mampu menolong manusia, akan tetapi agar menjadi pelajaran bahwa untuk menjadi lebih baik tidak cukup dengan bedoa lalu berpangku tangan namun sebelum bertawakkal, perlu adanya sebuah ikhtiar/usaha yang keras dengan niatan karena Allah SWT agar kehidupannya menjadi lebih baik.

Peristiwa inilah dan menjadi landasan dan semangat penanggalan tahun Hijriyah dalam kalender islam. Yang pada waktu di tetapkan pada masa Khalifah Umar bin khattab ra. Disini tidak mengupas teori penanggalan hijriyah namun mencoba sedikit mengurai makna hijrah, hikmah dan motivasi didalamnya.

Makna Hijrah.
Hijriyah disini berasal dari kata Hijrah, yang dalam bahasa arab yang bisa berarti pindah, yaitu bermakna berpindah dari kondisi yang tidak baik menuju ke kondisi yang lebih baik, dari kesedihan menuju kedamaian, dari kebodohan menuju kecerdasan, dari kejelekan menuju kebaikan dan dari kekufuran menuju ketaqwaan.  

Hikmah Hijrah
Hijrah mengajarkan kepada setiap manusia agar senantiasa berusaha untuk lebih baik dan tidak statis. Tidak mudah pasrah dengan kondisi yang ada, berupaya memperbaiki kondisi yang ada agar lebih baik tidak saja dalam urusan duniawi berupa harta, kedudukan maupun ketenaran yang bersifat sementara dan bahkan bisa menjerumuskan kedalam kefasikan dan kemungkaran. Akan tetapi lebih dari itu, yaitu agar senantiasa lebih baik segala amal ibadah urusan ukhrawi dihadapan Allah SWT.

Bergulirnya waktu, dengan bertambahnya angka tahun hijriyah esok, hakikatnya adalah semakin diingatkannya jatah waktu/masa/umur manusia yang semakin berkurang. Semakin diingatkannya kita agar terus bermuhasabah /menghitung-hitung kembali amal perbuatan kita selama ini. Sudahkah kita melaksanakan shalat dengan sebaik-baiknya dan tidak meninggalkannya?, sudahkah hari-hari kita diisi dengan memperbanyak baca Al-Quran dari pada baca media massa?, sudahkah kita mengeluarkan zakat dan infaq dari harta yang kita peroleh?, sudahkah kita menyedekahkan waktu, jiwa dan raga kita untuk fi sabilillah?, sudahkah kita berkata dan berlaku sopan santun kepada orang tua, istri/suami, anak, saudara, tetangga, teman, tetangga hingga rekan kerja?  Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang bisa menjadi bekal dan perlu kita siapkan untuk perjalanan panjang nan abadi nanti di akhirat.

Begitu pentingnya dan berharganya waktu bagi kehidupan manusia, yang terus berputar dan tak pernah berhenti ataupun kembali, hingga Allah SWT mengingatkan hambanya dalam Al-Quran surat Al-Ashr 1-3 yang artinya:
Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Dan sabda Rasulullah SAW dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah menasehati seorang lelaki :
 شغلك، وحياتك قبل موتك اغتنم خمسا قبل خمس: شبابك قبل هرمك، وصحتك قبل سقمك، وغناك قبل فقرك، وفراغك قبل

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum masa pikunmu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa hidupmu sebelum kematianmu.” [HR Al Hakim. Hadits shahih]

Sedangkan ulama mengatakan, waktu itu bagaikan pedang, jika kamu tidak memotong (menggunakan)nya, maka waktu-lah yang akan memotong(meninggalkan mu dalam kerugian). Bukan time is money karena uang hilang bisa dicari dan kembali. Tapi waktu sedetikpun takkan pernah kembali

Motivasi hijrah
Bergulirnya waktu khususnya hijriyah tidak saja tahun, namun bulan dan tanggal, secara tidak langsung telah mengingatkan kita akan pentingnya waktu baik secara spiritual maupun sosial. Sudah lebih baikkah hari-hari kita dalam bingkai ibadah karena Allah SWT dari pada hari-hari kemarin?. Dan apakah kita akan terus move on dalam hidup ini dengan amal perbuatan yang tidak bisa mengantarkan kita lebih taqorrub kepada Allah SWT?. Hidup sekali bukan sepenuh hati untuk duniawi, namun sekedar masa meniti bekal ukhrawi nan abadi.

Rasulullah SAW bersabda:
Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat, kecuali seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jari (telunjuknya) ke dalam lautan, maka hendaklah ia melihat seberapa yg tersisa pada (jari) nya. [HR. Ahmad No.17326].

dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kelak pada hari kiamat akan didatangkan penduduk neraka yang pernah merasakan kenikmatan paling lezat selama di dunia lalu dia dicelupkan di neraka sekali celupan. Kemudian ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?’. Maka dia menjawab, ‘Sama sekali tidak pernah, wahai Tuhanku.’ Dan juga didatangkan penduduk surga yang hidupnya paling susah selama di dunia, lalu dicelupkan sekali celupan di dalam surga. Kemudian ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kesusahan? Apakah kamu pernah merasakan kesulitan?’. Maka dia menjawab, ‘Sama sekali tidak pernah, wahai Tuhanku. Aku belum pernah merasakan kesusahan dan belum pernah melihat kesulitan.’.” (HR. Muslim [2807])

Selamat tahun baru hijriyah semoga hari-hari semakin lebih baik dan bernilai ibadah kepada Allah SWT.

Kamis, 11 Juli 2013

20 Manfaat Puasa

Puasa Ramadhan adalah kewajiban setiap muslim sebagai konsekuensi logis ketaqwaan dan keimanan atas apa yang diwahyukan oleh Allah SWT. Disamping kewajiban ternyata berpuasa memiliki manfaat yang luar biasa bagi tubuh kita. Sehingga yang didapat oleh  orang yang berpuasa selain pahala ketaqwaan juga kesehatan lahir maupun batin.

Allah Ta'ala berfirman :
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui" (Al-Baqarah: 183-184)

Sedangkan Rasulullah SAW bersabda:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: Berpuasalah niscaya kalian akan sehat. (HR Thabrany).

Dan juga dalam riwayat lain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Puasa itu benteng/perisai, maka janganlah berkata keji dan jangan berbodoh diri. Jika seseorang menentang atau memakinya maka hendaklah ia berkata : "Sesungguhnya saya sedang berpuasa" - dua kali. Demi Dzat yang diriku di' tanganNya, bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi. Ia meninggalkan makanan, minuman dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untukKu dan Aku membalasnya. Kebaikan itu lipat sepuluhnya. (HR. Bukhari).

Berikut 20 diantara sekian banyak manfaat berpuasa:

  1. Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL and apoprotein alfa1, dan penurunan LDL ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa the penelitian “chronobiological” menunjukkan saat puasa ramadan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Berbagai perubahan yang meskipun ringan tersebut tampaknya juga berperanan bagi peningkatan kesehatan manusia.
  2. Keadaan psikologis yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pebuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah rterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.
  3. Jumlah sel yang mati dalam tubuh mencapai 125 juta perdetik, namun yang lahir dan meremaja lebih banyak lagi. Saat puasa terjdi perubahan dan konversi yang massif dalam asam amino yang terakumulasi dari makanan. Sebelum didistribusikan dalam tubuh terjadi format ulang. Sehingga memberikan kesempatan tunas baru sel untuk memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerjanya. Pola makan saat puasa dapat mensuplai asam lemak dan asam amino penting saat makan sahur dan berbuka. Sehingga terbentuk tunas-tunas protein , lemak, fosfat, kolesterol dan lainnya untuk membangun sel baru dan membersihkan sel lemak yang menggumpal di dalam hati.
  4. Puasa bisa menurunkan kadar gula darah, kolesterol dan mengendalikan tekanan darah. Itulah sebabnya, puasa sangat dianjurkan bagi perawatan mereka yang menderita penyakit diabetes, kolesterol tinggi, kegemukan dan darah tinggi. Dalam kondisi tertentu, seorang pasien bahkan dibolehkan berpuasa, kecuali mereka yang menderita sakit diabetes yang sudah parah, jantung koroner dan batu ginjal. Puasa dapat menjaga perut yang penuh disebabkan banyak makan adalah penyebab utama kepada bermacam-macam penyakit khususnya obesitas, hiperkolesterol, diabetes dan penyakit yang diakibatkan kelebihan nutrisi lainnya.
  5. Sedang di antara manfaat puasa ditinjau dari segi kesehatan adalah membersihkan usus-usus, memperbaiki kerja pencernaan, membersihkan tubuh dari sisa-sisa dan endapan makanan, mengurangi kegemukan dan kelebihan lemak di perut.
  6. Termasuk manfaat puasa adalah mematahkan nafsu. Karena berlebihan, balk dalam makan maupun minum serta menggauli isteri, bisa mendorong nafsu berbuat kejahatan, enggan mensyukuri nikmat serta mengakibatkan kelengahan.
  7. Penghentian konsumsi air selama puasa sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin hingga mencapai 1000 sampai 12.000 ml osmosis/kg air. Dalam keadaan tertentu hal ini akan member perlindungan terhadap fungsi ginjal. Kekurangan air dalam puasa ternyata dapat meminimalkan volume air dalam darah. Kondisi ini berakibat memacu kinerja mekanisme local pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang pada akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.
  8. Dalam keadaan puasa ternyata dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Penelitian menunjukkan saat puasa terjadi pengkatan limfosit hingga sepuluh kali lipat. Kendati keseluruhan sel darah putih tidak berubah ternyata sel T mengalani kenaikkan pesat. Perubahan aksidental lipoprotein yang berkepadatan rendah (LDL), tanpa diikuti penambahan HDL. LDL merupakan model lipoprotein yang meberika pengaruh stumulatif bagi respon imunitas tubuh.
  9. Pada pelitian terbaru menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar apobetta, menaikkan kadar apoalfa1 dibandingkan sebelum puasa. Kondisi tersebut dapat menjauhkan seragan penyakit jantung dan pembuluh darah.
  10. Penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat rotatif menjadi beban dalam asimilasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan pengeluaran hormon sistem pencernaan dan insulin dalam jumlah besar. Penurunan berbagai hormon tersebut merupakan salah satu rahasia hidup jangka panjang.
  11. Manfaat lain ditunjukan dalam penelitian pada kesuburan laki-laki. Dalam penelitian tersebut dilakukan penelitian pada hormon testoteron, prolaktin, lemotin, dan hormon stimulating folikel (FSH), Ternyata hasil akhir kesimpulan penelitian tersebut puasa bermanfaat dalam pembentukan sperma melalui perubahan hormon hipotalamus-pituatari testicular dan pengaruh ke dua testis.
  12. Manfaat lain yang perlu penelitian lebih jauh adalah pengaruh puasa pada membaiknya penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis. Parameter yang diteliti adalah fungsi sel penetral (netrofil) dan progresifitas klinis penderita. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat korelasi antara membaiknya radang sendi dan peningkatan kemampuan sel penetral dalam membasmi bakteri.
  13. Dalam sebuah jurnal endokrin dan metabolisme dilaporkan penelitian puasa dikaitkan dengan hormon dan kemampuan seksual laki-laki. Penelitian tersebut mengamati kadar hormon kejantanan (testoteron), perangsang kantung (FSH) dan lemotin (LH). Terjadi perubahan kadar berbagai hormon tersebut dalam tiap minggu. Dalam tahap awal didapatkan penurunan hormon testoteron yang berakibat penurunan nafsu seksual tetapi tidak menganggu jaringan kesuburan. Namun hanya bersifat sementara karena beberapa hari setelah puasa hormon testoteron dan performa seksual meningkat pesat melebihi sebelumnya.
  14. Bahkan seorang peneliti di Moskow melakukan penelitian pada seribu penderita kelainan mental termasuk sizofrenia. Ternyata dengan puasa sekitar 65% terdapat perbaikan kondisi mental yang bermakna. Berbagai penelitian lainnya menunjukkan ternyata puasa Ramadhan juga mengurangi resiko kompilkasi kegemukan, melindungi tubuh dari batu ginjal, meredam gejolak seksual kalangan muda dan penyakit lainnya yang masih banyak lagi
  15. Pikiran kita yang melambat ketika lapar, ternyata menjadi lebih tajam. Secara instingtif, bukti ilmiah ini bisa diterima terkait dengan fakta bahwa dalam banyak hal, masalah lapar adalah masalah kelanjutan hidup. Jadi wajar saja, jika rasa lapar membuat pikiran semakin tajam dan kreatif. Sekelompok mahasiswa di University of Chicago diminta berpuasa selama tujuh hari. Selama masa itu, terbukti bahwa kewaspadaan mental mereka meningkat dan progres mereka dalam berbagai penugasan kampus mendapat nilai “remarkable”.
  16. Termasuk manfaat puasa adalah mempersempit jalan aliran darah yang merupakan jalan setan pada diri anak Adam. Karena setan masuk kepada anak Adam melalui jalan aliran darah. Dengan berpuasa, maka dia aman dari gangguan setan, kekuatan nafsu syahwat dan kemarahan. Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan puasa sebagai benteng untuk menghalangi nafsu syahwat nikah, sehingga beliau memerintah orang yang belum mampu menikah dengan berpuasa
  17. Seorang ilmuwan di bidang kejiwaan yang bernama Dr. Ehret menyatakan bahwa untuk hasil yang lebih dari sekedar manfaat fisik, yaitu agar mendapatkan manfaat mental dari aktivitas berpuasa, seseorang harus menjalani puasa lebih dari 21 hari.
  18. Ilmuwan psikiater lainnya yaitu Dr. E.A. Moras, mengatakan bahwa seorang pasien wanitanya telah menderita sakit mental selama lebih dari delapan bulan. Wanita itu telah berobat kesana-kemari termasuk ke para ahli saraf dengan hasil kurang memuaskan. Ia memintanya untuk berpuasa. Wanita itu mengalami perbaikan kondisi mental, dan bahkan dinyatakan sembuh setelah berpuasa selama lima minggu. Di dalam otak kita, ada sel yang disebut dengan “neuroglial cells”. Fungsinya adalah sebagai pembersih dan penyehat otak. Saat berpuasa, sel-sel neuron yang mati atau sakit, akan “dimakan” oleh sel-sel neuroglial ini.
  19. Sebuah tulisan penelitian yang dilakukan Dr. Ratey, seorang psikiaters dari Harvard, mengungkapkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori akan meningkatkan kinerja otak. Dr. Ratey melakukan penelitian terhadap mereka yang berpuasa dan memantau otak mereka dengan alat yang disebut “functional Magnetic Resonance Imaging” (fMRI). Hasil pemantauan itu menyimpulkan bahwa setiap individu obyek menunjukkan aktivitas “motor cortex” yang meningkat secara konsisten dan signifikan.
  20. Ilmuwan di bidang neurologi yang bernama Mark Mattson, Ph.D., seorang kepala laboratorium neuroscience di NIH’s National Institute on Aging. Dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa diet yang tepat seperti berpuasa, secara signifikan bisa melindungi otak dari penyakit de-generatif seperti Alzheimer atau Parkinson. Hasil penelitiannya menunjukkan, bahwa diet dengan membatasi masukan kalori 30% sampai 50% dari tingkat normal, berdampak pada menurunnya denyut jantung dan tekanan darah, dan sekaligus peremajaan sel-sel otak




Rabu, 19 Juni 2013

BERCERMIN DIRI

Dalam keseharian kehidupan kita, begitu sangat sering dan nikmatnya ketika kita bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun padahal wajah yang kita tatap itu-itu juga, aneh bukan?! Bahkan hampir pada setiap kesempatan yang memungkinkan kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian? Sebabnya kurang lebih karena kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan mengecewakan, apalagi kusut dan acak-acakan tak karuan.

Sebabnya penampilan kita adalah juga cermin pribadi kita. Orang yang necis,rapih, dan bersih maka pribadinya lebih memungkinkan untuk bersih dan rapih pula. Sebaliknya orang yang penampilannya kucel, kumal, dan acak-acakan maka kurang lebih seperti itulah pribadinya.


Tentu saja penampilan yang necis dan rapih itu menjadi kebaikan sepanjang niat dan caranya benar. Niat agar orang lain tidak terganggu dan terkecewakan, niat agar orang lain tidak berprasangka buruk, atau juga niat agar orang lain senang dan nyaman dengan penampilan kita. Dan Allah suka dengan penampilan yang indah dan rapih sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, "Innallaha jamiilun yuhibbul jamaal","Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan".



Yang harus dihindari adalah niat agar orang lain terpesona, tergiur, yang berujung orang lain menjadi terkecoh, bahkan  kemudian menjadi tergelincir baik hati atau napsunya, naudzhubillah.

 Tapi harap diketahui, bahwa selama ini kita baru sibuk bercermin 'topeng' belaka. Topeng 'make up', seragam, jas, dasi, sorban, atau 'asesoris' lainnya. Sungguh, kita baru sibuk dengan topeng, namun tanpa disadari kita sudah ditipu dan diperbudak oleh topeng buatan sendiri. Kita sangat ingin orang lain menganggap diri ini lebih dari kenyataan yang sebenarnya. Ingin tampak lebih pandai, lebih gagah, lebih cantik, lebih kaya, lebih sholeh, lebih suci dan aneka kelebihan lainnya. Yang pada akhirnya selain harus bersusah payah agar 'topeng' ini tetap melekat, kita pun akan dilanda tegang dan was-was takut 'topeng' kita terbuka, yang berakibat orang tahu siapa kita yang 'aslinya'.

 Tentu saja tindakan tersebut, tidak sepenuhnya salah. Karena membeberkan aib diri yang telah ditutupi Allah selama ini, adalah perbuatan salah. Yang terpenting adalah diri kita jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat bercermin tidak hanya 'topeng' yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah bagaimana isinya, yaitu diri kita sendiri.

 Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, "Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahanam?"

 Lalu tatap mata kita, seraya bertanya,"Apakah mata ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap Allah Yang Maha Agung, menatap keindahan surga, menatap Rasulullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata yang terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?"

Lalu tataplah mulut ini, "Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thoyibah, 'laa ilaaha ilallaah', ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akhirat akan memakan buah zakun yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini!"

"Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Wahai mulut yang malang betapa banyak dusta yang engkau ucapkan. Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Berapa banyak kata-kata manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama Allah dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah mengampuni?"

Lalu tataplah diri kita tanyalah, "Hai kamu ini anak sholeh atau anak durjana, apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya. 
Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi!"

"Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersukacita, bercengkrama di surga atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar membara jahanam, terpanggang tanpa ampun, derita tiada akhir?"

"Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau dzhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak orang lain yang engkau rampas?"

"Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotaranmu?"

Lalu ingatlah amal-amal kita, "Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikkan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini? Apakah engkau ini dermawan atau sipelit yang menyebalkan?"

Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu?"

"Apakah engkau ini sholeh atau sholehah seperti yang engkau tampakkan? Khusyu-kah shalatmu, dzikirmu, doamu, ikhlaskah engkau lakukan semua itu? Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer!"

"Sungguh betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi, betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah yang terbungkus topeng-topeng duniawi"

Dari Anas Radiyallahu’ahu ia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri, sehingga ia tidak sempat mengurus aib orang lain.” (HR. al-Bazzar dengan sanad yang hasan)

Wahai sahabat-sahabat sekalian, sesungguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini.


sumber: manajemen qalbu


Hadits tentang Puasa Asyura (Hari kesepuluh bulan Muharram

Berdasarkanbeberapa hadits ditemukan anjuran Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kepada ummat Islam agar melaksanakan puasa di tanggal sepuluh bulan Muharram. Tanggal sepuluh bulan Muharram biasa disebut Yaum ’Aasyuura (Hari kesepuluh bulan Muharram).

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Seutama-utama berpuasa sesudah bulan Ramadhan ialah dalam bulan Allah yang dimuliakan - yakni Muharram - dan seutama-utama shalat sesudah shalat wajib ialah shaliatullail - yakni shalat sunnah di waktu malam." (Riwayat Muslim)

Suatu ketika Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mendapati kaum Yahudi sedang berpuasa pada hari ’Asyuura. Lalu beliau bertanya mengapa mereka berpuasa pada hari itu. Merekapun menjelaskan bahwa hal itu untuk memperingati hari dimana Allah telah menolong Nabi Musa bersama kaumnya dari kejaran Fir’aun dan balatentaranya. Bahkan pada hari itu pula Allah telah menenggelamkan Fir’aun sebagai akibat kezalimannya terhadap Bani Israil. Mendengar penjelasan itu maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam-pun menyatakan bahwa ummat Islam jauh lebih berhak daripada kaum Yahudi dalam mensyukuri pertolongan Allah kepada Nabi Musa. Maka beliau-pun menganjurkan kaum muslimin agar berpuasa pada hari ’Asyuura.


Selengkapnya

Kisah Nabi Ismail as

Sampai Nabi Ibrahim yang berhijrah meninggalkan Mesir bersama Sarah, isterinya dan Hajar, di tempat tujuannya di Palestina. Ia telah membawa pindah juga semua binatang ternaknya dan harta miliknya yang telah diperolehnya sebagai hasil usaha niaganya di Mesir.
Al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a.berkata:
Pertama-tama yang menggunakan setagi {setagen} ialah Hajar ibu Nabi Ismail tujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang telah lama berkumpul dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi belum juga hamil. tetapi walaubagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahasia yang disembunyikan itu dengan lahirnya Nabi Ismail a.s. .

Berita terbaru


Komunikasi dengan Allah SWT

Bacaan Al-fatihah dalam shalat adalah rukun dan banyak keutamaannya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu ‘Awanah dan Baihaqi, “ Rasulullah SAW bersabda: “Tidak sah shalat seseorang jika tidak membaca Al-Fatihah.”

Rasulullah SAW membaca surat Al-Fatihah dengan berhenti setiap ayat, tidak menyambung satu ayat dengan ayat berikutnya. Jadi bunyinya.. Bismillahirrahmaanirrahiim..(kemudian berhenti), Alhamdulillahirabbil ‘alamiin.. (kemudian berhenti), Arrahmaanirrahiim..(kemudian berhenti), begitulah seterusnya sampai selesai. Beliau tidak menyambung ayat satu dengan ayat berikutnya. HR. Abu Dawud dan Sahmi (64-65) disahkan oelh Hakim dan disetujui oleh Dzahabi. Dalam kitab Al-Irwa’ hadits no.343.

Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkomentar: Hadits ini mempunyai banyak sanad. Inilah yang pokok dalam masalah ini, lalu ia berkata ; sejumlah imam salaf dan ahli-ahli Al-Quran dahulu sangat senang membaca Al-Quran ayat per ayat, sekalipun ayat yang satu dengan ayat lain itu masih mempunyai satu pengertian. Sunnah Nabi seperti ini ditinggalkan oleh sebagian besar ahli qira’atul qur’an pada masa-masa ini apalagi yang lain”


Abdullah bin Rawahah, 'Penyair Rasulullah'

Waktu itu, Rasulullah sedang duduk di suatu dataran tinggi di kota Makkah, menyambut para utusan yang datang dari Yatsrib (Madinah) dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui kaum Quraisy. Mereka yang datang ini terdiri dari 12 orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan sebutan kaum Anshar (penolong Rasul).

Mereka akan berbaiat kepada Rasulullah, yang kelak disebut dengan Baiat Aqabah Ula (pertama). Merekalah pembawa dan penyiar Islam pertama ke Yatsrib. Dan baiat merekalah yang membuka jalan bagi hijrahnya Nabi beserta pengikut beliau, yang pada gilirannya membawa kemajuan bagi Islam. Salah seorang dari utusan yang dibaiat itu adalah Abdullah bin Rawahah.

Ibnu Rawahah adalah seorang penulis dan penyair ulung. Untaian syair-syairnya begitu kuat dan indah didengar. Sejak memeluk Islam, ia membaktikan kemampuan bersyairnya untuk mengabdi bagi kejayaan Islam. Rasulullah sangat menyukai dan menikmati syair-syairnya, serta serta sering menganjurkan kepadanya untuk lebih tekun lagi membuat syair.


Pada suatu hari, Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah. Lalu Nabi bertanya kepadanya, "Apa yang kau lakukan jika hendak mengucapkan syair?"

Kalender Islam

Mari Membumikan Al-Quran

Mari Membumikan Al-Quran
Sudahkan baca qur'an hari ini?

 

Copyright © 2009 by The Power of Hikmah