Kamis, 31 Juli 2014

Adakah yang tersisa dari Ramadhan?

Saat Ramadhan, hari-hari senantiasa diisi dan diwarnai dengan nuansa ibadah. Shalat tepat waktu, mengerjakan shalat-shalat sunnah, Al-Quran teruntai disaat siang malam, pagi dan petang, masjida dan mushalla ramai setiap waktu, infaq dan shadaqah hingga syiar ketaatan dalam kedamaian islam yang mengisi berbagai ruang kehidupan.
  
Kini Ramadhan yang  indah itu telah berlalu,  apakah masih tersisa amalan-amalan yang senantiasa menghiasi hari-hari saat ramadhan?. Ramadhan selain bulan penuh rahmat, penuh ampunan, dilipatgandakannya pahala, dimakbulkannya doa, juga sebagai bulan pendidikan dan latihan, sebagai modal perjalanan dalam menapaki bulan-bulan berikutnya.

Maka sudah seyogyanya seorang muslim untuk mempertahankan amalan-amalan ibadahnya pasca ramadhan dengan mengusahakannya sekuat tenaga. Sesungguhnya para Ulama’ Rahimahumullah telah berkata : diantara tanda-tanda diterimanya amalan di sisi Allah adalah sesungguhnya Allah Ta’ala akan mengiringi kebaikan yang telah dilakukan dengan kebaikan-kebaikan yang lain maka kebaikan akan menyeru wahai saudaraku wahai saudaraku, demikian pula keburukan juga akan menyeru dengan seruan yang sama dan kita berlindung kepada Allah, maka apabila Allah menerima amalan seorang hamba di bulan Ramadhan dan dia bisa mengambil faedah dari bulan pendidikan ini dan konsisten dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla maka sesungguhnya dia berada dalam gerbong mereka orang-orang yang istiqomah dan mengharap amal ibadahnya diterima oleh Allah,
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman :


إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ () نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ()

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. QS: Fushshilat 30-31.

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ ()

Allah juga berfirman: “Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. QS: Al Maidah 56,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ ()

 “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran. QS: Al Ahqaaf 13.

Jikalau begitu maka para penumpang gerbong istiqomah akan selalu ada terus-menerus dari bulan Ramadhan yang satu ke bulan Ramadhan yang lain karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ ، وَ الْجُمْعَةُ إِلَى الجُمَعَة ُ وَرَمَضَانَ إلِىَ رَمَضَانَ مُكَفِرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الكَباَئِرَ
“Shalat lima waktu, dan Jum’at satu ke Jum’at lainnya, dan ramadhan satu ke Ramadhan lainnya adalah penebus dosa antara kesemuanya itu selagi seseorang menjauhi dosa-dosa besar”. HR.Muslim  

dan Allah Ta’ala juga berfirman :

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلا كَرِيمًا.

 “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). QS: An Nisaa’ 31.     

Inilah Rasulullah SAW selalu mengingatkan untuk senantiasa teguh pendirian dan istiqomah yaitu konsisten secara terus-menerus, semakin baik dan semakin baik lagi. Suatu ketika datanglah seorang sahabat kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan berkata : berikanlah wasiat kepadaku :

 قل آمنت بالله ثم استقم ) متفق عليه

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan bersabda: katakanlah aku beriman kepada Allah lalu istiqomahlah. HR. Bukhari dan Muslim

Kini saat bulan Ramadhan telah berlalu dan berganti dengan bulan Syawwal, saatnya tetap melanjutkan ibadah-ibadah sunnah, berupa shalat sunnah, tilawah Al-Quran, memperbanyak dzikir, infaq dan shadaqah, menebar syiar kebaikan dan kedamaian, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Diantara ibadah sunnah itu adalah puasa sunnah syawwal sebagai kontinuitas keistiqomahan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa wajib bulan Ramadhan adalah amalan sunnat yang dianjurkan bukan wajib. Seorang muslim dianjurkan mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal. Banyak sekali keutamaan dan pahala yang besar bagi puasa ini. Diantaranya, barangsiapa yang mengerjakannya niscaya dituliskan baginya puasa satu tahun penuh (jika ia berpuasa pada bulan Ramadhan). Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Abu Ayyub Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:

من صام رمضان وأتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh." (H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Rasulullah telah menjabarkan lewat sabda beliau:
من صام ستة أيام بعد الفطر كان تمام السنة : من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها )

"Barangsiapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal selepas 'Iedul Fitri berarti ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipat."

Dalam sebuah riwayat berbunyi:
جعل الله الحسنة بعشر أمثالها فشهر بعشرة أشهر وصيام ستة أيام تمام السنة

"Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa bulan Ramadhan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun." (H.R An-Nasa'i dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalam Shahih At-Targhib).

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dengan lafazh:
"Puasa bulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan. Sedang puasa enam hari bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Itulah puasa setahun penuh."

Para ahli fiqih madzhab Hambali dan Syafi'i menegaskan bahwa puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa Ramadhan setara dengan puasa setahun penuh, karena pelipat gandaan pahala secara umum juga berlaku pada puasa-puasa sunnat. Dan juga setiap kebaikan dilipat gandakan pahalanya sepuluh kali lipat.

Salah satu faedah terpenting dari pelaksanaan puasa enam hari bulan Syawal ini adalah menutupi
kekurangan puasa wajib pada bulan Ramadhan. Sebab puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan pasti tidak terlepas dari kekurangan atau dosa yang dapat mengurangi keutamaannya. Pada hari kiamat nanti akan diambil pahala puasa sunnat tersebut untuk menutupi kekurangan puasa wajib.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam :

"Amal ibadah yang pertama kali di hisab pada Hari Kiamat adalah shalat. Allah Ta'ala berkata kepada malaikat -sedang Dia Maha Mengetahui tentangnya-: "Periksalah ibadah shalat hamba-hamba-Ku, apakah sempurna ataukah kurang. Jika sempurna maka pahalanya ditulis utuh sempurna. Jika kurang, maka Allah memerintahkan malaikat: "Periksalah apakah hamba-Ku itu mengerjakan shalat-shalat sunnat? Jika ia mengerjakannya maka tutupilah kekurangan shalat wajibnya dengan shalat sunnat itu." Begitu pulalah dengan amal-amal ibadah lainnya." H.R Abu Dawud.

Semoga kita benar-benar mendapatkan bekal melanjutkan hari-hari yang tersisa ini dari ramadhan. Bekal yang meskipun sedikit namun mampu mempertahankan, mengamalkannya secara kontinyu dan meningkatkan agar semakin baik lagi.

Karena sesungguhnya sebaik-baik amalan yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang kontinyu meskipun hanya sedikit, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أيها الناس عليكم من الأعمال ما تطيقون فإن الله لا يمل حتى تملوا ، وإن أحب الأعمال إلى الله ما دووم عليه وإن قل وكان آل محمد صلى الله عليه وسلم إذا عملوا عملاً ثبتوه أي داوموا عليه ، رواه مسلم

“Wahai umat manusia hendaklah kalian melakukan amalan-amalan yang kalian mampu untuk memikulnya karena sesungguhnya Allah tidak akan merasa jenuh hingga kalian sendiri yang jenuh, dan sesungguhnya amalan-amalan yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang dikerjakan secara kontinyu meskipun hanya sedikit atau kecil, dan adalah keluarga Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam apabila mengerjakan sebuah amalan mereka menekuninya atau konsisten dalam menjalaninya” HR. Muslim.

Sabtu, 21 Juni 2014

PESONA SYUKUR DAN SABAR

Semoga Allah SWT Yang Mahapemurah menetapkan kita menjadi bagian dari orang-orang yang layak mendapat tambahan nikmat dan tingginya
kedudukan di sisi-Nya karena rasa syukur dan sabar kita. Seperti firman Allah SWT, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat-Ku kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim [14]:7).

Syukur dan sabar adalah kunci bagi meningkatnya keimanan seseorang pada Allah SWT. Berbagai sarana telah disediakan bagi tumbuhnya rasa
syukur dan sabar dalam diri, baik berupa kenikmatan ataupun ujian, bertafakkur terhadap berlikunya nilai hikmah, evaluasi diri dan melihat dari dekat ujian yang ditimpakan pada para mustad'afiin, tuntutan menyempurnakan ikhtiar, husnuzhan kepada Allah dan lain-lain.

Syukur dan sabar juga merupakan sarana meningkatkan kualitas diri agar lebih berharga dalam pandangan Allah SWT. Seseorang yang pandai bersyukur akan senantiasa bertahtakan kesabaran, meski berada dalam ujian penderitaan. Apapun yang kemudian mereka dapatkan, mereka kembalikan kepada yang memberikan semua itu, Allah SWT. Allah SWT sendiri memberi tanda kepada golongan orang-orang seperti ini, sebagaimana firman-Nya: "(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan 'Inna lillaahi wa Inna Ilaihi Raaji'uun'" (Al-Baqarah [2]:156).

Keterbatasan harta bagi mereka bukan sebuah bencana yang akan menghancurkan hidupnya, tetapi lebih merupakan ujian yang dijanjikan Allah Swt yang akan berbuah pada meningkatnya kualitas iman dalam diri. Rasa sakit yang begitu pedih akan senantiasa ia sikapi dengan penuh kesabaran sebagaiman Nabiyullah Ayub AS. Ketika menyikapi hal tersebut, ia yakin bahwa sakit merupakan ujian Allah SWT yang akan berbuah pada bergugurannya dosa-dosa yang dimilikinya, sehingga kelak mereka mendapatkan keberuntungan memasuki surga Allah tanpa hisab, subhaanallah.

Keindahan orang-orang yang memiliki pribadi syukur dan sabar akan tampak dalam pola hidup kesehariannya. Ia tidak akan memiliki sikap sombong meskipun bergelimangan harta dan kemewahan. Pribadinya terasa sejuk dan penuh keakraban. Namun demikian, ia juga penuh dengan kegigihan untuk tetap berjuang di jalan Allah untuk meraih keridhaan-Nya. Tak ada kebencian di antara mereka. Kalaupun mereka menemukan hal, yang satu sama lain kurang berkenan, mereka akan lebih memilih saling memberikan taushiah (berwasiat) dengan penuh kebenaran dan kesabaran, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Ashr ayat 3: "Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih serta saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran."

Sungguh indah pribadi-pribadi yang memiliki sifat syukur dan sabar dalam dirinya, sehingga tidak tampak sama sekali dalam dirinya penyesalan dalam penderitaan, rasa putus asa dalam ujian, ingin berontak ketika diharuskan taat pada syari'at. Karena keindahan pribadinya, Allah merelakan diri-Nya duduk bersama golongan orang-orang seperti ini. Firman Allah SWT, "Sebagai nikmat dari Kami.

Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur (QS. Al-Qamar [54]:35). Pada surat lain Allah SWT juga berfirman, "...Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar" (QS. Al-Baqarah [2]: 153).

Berbeda sekali dengan orang-orang yang tidak mampu bersyukur dan bersabar atas nikmat dan ujian yang datang dari Allah. Nikmat dunia yang melimpah mereka anggap semata-mata karena hasil usaha dan kerja keras yang mereka lakukan sendiri. Gelimangnya harta bagi mereka sikapi dengan pesta pora menikmati keindahan dunia, yang sesungguhnya fana. Berkurangnya harta dunia membuat golongan orang-orang yang seperti ini tidak tenang, cemas dan tidak menentu. Mereka menganggap bahwa kesenangan yang sesunguhnya hanya dapat diukur dengan harta yang banyak dan melimpah, sehingga mereka merasakan kebingungan yang amat sangat ketika harta dunia tiada dalam genggamannya.

Kesehatan fisik yang dimilikinya tidak mereka sadari sebagai karunia Sang Mahapemberi nikmat, sehingga mereka pergunakan untuk bermaksiat terhadap Allah. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa kesehatan yang ada dalam genggamannya suatu saat akan hilang dan berganti menjadi rasa sakit. Mereka juga tidak menyadari bahwa nikmat-nikmat lain yang selama ini diterimanya akan dihisab kelak di akhirat.

Sungguh nista perilaku orang-orang yang tidak mampu bersyukur akan nikmat yang telah diberikan Allah. Belum lagi ketika mereka ditimpa dengan ujian. Sakit yang diderita mereka sikapi dengan keluh kesah yang berkepanjangan, dan putus asa seolah tiada akan berkesudahan. Ujungnya, hanya penderitaanlah yang akan dirasakan oleh orang-orang seperti ini. Sekecil apapun rasa sakit yang dideritanya, akan terasa berat dan membebani dirinya. Rasa sakit yang sesungguhnya ringan mereka dramatisir sedemikian rupa seolah sebuah sakit yang berat dengan tujuan untuk mendapatkan simpati dari orang-orang di sekelilingnya. Ketika tidak mendapatkan simpati yang diinginkannya, mereka semakin merasakan penderitaan yang amat sangat.

Sungguh kasihan dan malang orang-orang yang tidak mampu bersyukur terhadap nikmat Allah dan bersabar terhadap ujian yang diberikan Allah. Karena, bukan hanya penderitaan dunia saja yang akan diperoleh orang-orang seperti ini, melainkan juga hisab yang berat dan penderitaan yang sangat pedih di akhirat kelak. Firman Allah SWT: "...dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim [14]:7). Naudzubillahi min zaalik.

Untuk itu, mari kita sama-sama berharap akan pertolongan Allah SWT semoga Allah Yang Mahapemurah dan Mahaadil senantiasa menggolongkan kita sebagai hamba-hambanya yang senantiasa mampu bersyukur akan semua nikmat Allah dan bersabar atas ujian yang ditimpakan-Nya. Kita juga memohon perlindungan-Nya agar kita tidak dimasukan ke dalam golongan orang-orang yang tidak mampu bersyukur dan bersabar atas apapun yang diberikan oleh Allah SWT. Wallahua'lam


Sumber: Manajemen Qalbu AA Gym


Hadits tentang Puasa Asyura (Hari kesepuluh bulan Muharram

Berdasarkanbeberapa hadits ditemukan anjuran Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kepada ummat Islam agar melaksanakan puasa di tanggal sepuluh bulan Muharram. Tanggal sepuluh bulan Muharram biasa disebut Yaum ’Aasyuura (Hari kesepuluh bulan Muharram).

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Seutama-utama berpuasa sesudah bulan Ramadhan ialah dalam bulan Allah yang dimuliakan - yakni Muharram - dan seutama-utama shalat sesudah shalat wajib ialah shaliatullail - yakni shalat sunnah di waktu malam." (Riwayat Muslim)

Suatu ketika Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mendapati kaum Yahudi sedang berpuasa pada hari ’Asyuura. Lalu beliau bertanya mengapa mereka berpuasa pada hari itu. Merekapun menjelaskan bahwa hal itu untuk memperingati hari dimana Allah telah menolong Nabi Musa bersama kaumnya dari kejaran Fir’aun dan balatentaranya. Bahkan pada hari itu pula Allah telah menenggelamkan Fir’aun sebagai akibat kezalimannya terhadap Bani Israil. Mendengar penjelasan itu maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam-pun menyatakan bahwa ummat Islam jauh lebih berhak daripada kaum Yahudi dalam mensyukuri pertolongan Allah kepada Nabi Musa. Maka beliau-pun menganjurkan kaum muslimin agar berpuasa pada hari ’Asyuura.


Selengkapnya

Kisah Nabi Ismail as

Sampai Nabi Ibrahim yang berhijrah meninggalkan Mesir bersama Sarah, isterinya dan Hajar, di tempat tujuannya di Palestina. Ia telah membawa pindah juga semua binatang ternaknya dan harta miliknya yang telah diperolehnya sebagai hasil usaha niaganya di Mesir.
Al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a.berkata:
Pertama-tama yang menggunakan setagi {setagen} ialah Hajar ibu Nabi Ismail tujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang telah lama berkumpul dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi belum juga hamil. tetapi walaubagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahasia yang disembunyikan itu dengan lahirnya Nabi Ismail a.s. .

Berita terbaru


Komunikasi dengan Allah SWT

Bacaan Al-fatihah dalam shalat adalah rukun dan banyak keutamaannya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu ‘Awanah dan Baihaqi, “ Rasulullah SAW bersabda: “Tidak sah shalat seseorang jika tidak membaca Al-Fatihah.”

Rasulullah SAW membaca surat Al-Fatihah dengan berhenti setiap ayat, tidak menyambung satu ayat dengan ayat berikutnya. Jadi bunyinya.. Bismillahirrahmaanirrahiim..(kemudian berhenti), Alhamdulillahirabbil ‘alamiin.. (kemudian berhenti), Arrahmaanirrahiim..(kemudian berhenti), begitulah seterusnya sampai selesai. Beliau tidak menyambung ayat satu dengan ayat berikutnya. HR. Abu Dawud dan Sahmi (64-65) disahkan oelh Hakim dan disetujui oleh Dzahabi. Dalam kitab Al-Irwa’ hadits no.343.

Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkomentar: Hadits ini mempunyai banyak sanad. Inilah yang pokok dalam masalah ini, lalu ia berkata ; sejumlah imam salaf dan ahli-ahli Al-Quran dahulu sangat senang membaca Al-Quran ayat per ayat, sekalipun ayat yang satu dengan ayat lain itu masih mempunyai satu pengertian. Sunnah Nabi seperti ini ditinggalkan oleh sebagian besar ahli qira’atul qur’an pada masa-masa ini apalagi yang lain”


Abdullah bin Rawahah, 'Penyair Rasulullah'

Waktu itu, Rasulullah sedang duduk di suatu dataran tinggi di kota Makkah, menyambut para utusan yang datang dari Yatsrib (Madinah) dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui kaum Quraisy. Mereka yang datang ini terdiri dari 12 orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan sebutan kaum Anshar (penolong Rasul).

Mereka akan berbaiat kepada Rasulullah, yang kelak disebut dengan Baiat Aqabah Ula (pertama). Merekalah pembawa dan penyiar Islam pertama ke Yatsrib. Dan baiat merekalah yang membuka jalan bagi hijrahnya Nabi beserta pengikut beliau, yang pada gilirannya membawa kemajuan bagi Islam. Salah seorang dari utusan yang dibaiat itu adalah Abdullah bin Rawahah.

Ibnu Rawahah adalah seorang penulis dan penyair ulung. Untaian syair-syairnya begitu kuat dan indah didengar. Sejak memeluk Islam, ia membaktikan kemampuan bersyairnya untuk mengabdi bagi kejayaan Islam. Rasulullah sangat menyukai dan menikmati syair-syairnya, serta serta sering menganjurkan kepadanya untuk lebih tekun lagi membuat syair.


Pada suatu hari, Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah. Lalu Nabi bertanya kepadanya, "Apa yang kau lakukan jika hendak mengucapkan syair?"

Kalender Islam

Mari Membumikan Al-Quran

Mari Membumikan Al-Quran
Sudahkan baca qur'an hari ini?

 

Copyright © 2009 by The Power of Hikmah