Kamis, 03 November 2011

HARI RAYA IDUL ADHA (Qurban)

Hari Raya Idul Adha adalah salah satu dari hari yang dimuliakan bagai umat Islam, hingga diharamkan pada hari tersebut untuk berpuasa, karena Alloh SWT memberikan hadiah ke hamba-Nya suatu hari yang penuh dengan suka cita, rasa kasih sayang, saling mengasihi dan saling berbagi ke sesama, dari diri sendiri, keluarga, hingga tatanan sosial negara.

Hari Raya Idul Adha disebut juga sebagai hari raya idul qurban, secara etimologi, kata idul berasal dari kata " 'aada-yu'iidu" artinya kembali sedangkan kata qurban berasal dari kata "qorroba-yoqorribu" yang artinya dekat. berarti hari raya idul qurban bisa diartikan sebagai hari dimana setiap insan harus kembali dengan lebih mendekatkan diri (Taqorrub) secara ikhlas lahiriyah maupun ikhlas ruhiyah kepada Alloh SWT yang berdampak pada kebahagiaan, ketentraman, dan kasih sayang sesama manusia. Bukan karena popularitas, pangkat, jabatan atau dalih kesehatan dan keselamatan.

Riwayat hari raya qurban berasal dari perintah Alloh SWT kepada Nabi Ibrahim A.S untuk menyembelih anak semata wayangnya Ismail A.S sebagai ujian ketaatan, kepatuhan dan keridhaan ubudiyah hamba yang luar biasa beratnya namun pada akhirnya Alloh SWT mengganti Ismail SWT dengan seokor domba dan menyelamatkan Ismail A.S karena beliau telah sanggup menjalankan perintah-Nya dengan sungguh-sungguh, ketaatan, kepatuhan dan keridhaan ubudiyah hamba.. Sehingga beliau tetap bisa berkumpul dengan ayahnya dan membagikan daging domba tersebut kepada fakir miskin.

Perintah berkurban dengan domba/kambing, sap/kerbau, dan unta serta membagikan dagingnya kepada fakir miskin pada hakikatnya bukanlah dagingnya atau darahnya yang Alloh SWT terima akan tetapi kadar niat dan ketaatanlah yang Alloh SWT berikan pahala, sebagai refleksi keimanan vertikal seorang hamba yang berimplikasi terhadap hubungan horisontal kemasyarakatan demi terwujudnya keadilan dan kemakmuran tatanan sosial.. Niat untuk saling berbagi rezeki sebagai rasa syukur atas nikmat rizki yang telah diberikan oleh Alloh SWT.serta menghilangkan rasa kikir, cinta dunia yang berlebihan dan yang dapat melenakan atau melupakan Alloh SWT.
Jika saat hari qurban belum mampu untuk berqurban dengan materi/hewani, bukan berarti lantas tidak ikut berqurban, akan tetapi harus tetap berqurban dengan hati, pikiran dan badan kepada Alloh SWT.

Hari Raya Qurban yang tepat pada bulan Hijjah dalam kalender hijariyah yaitu bulan dimana seluruh umat islam yang telah memenuhi syarat (islam, baligh, berakal, dan mempunyai harta yang cukup) melaksanakan ibadah rukun islam yang kelima yaitu Ibadah Haji, Ibadah yang akan dibalas oleh Alloh SWT dengan surga inipun juga harus dilalui dengan taqorrub melalui berbagai ujian sejak awal hingga akhir. yaitu sejak hamba sebelum berangkat harus bersusah payah menyiapkan akomodasi dan jiwa dengan penuh ketaatan dan keridhaan, dilanjutkan dengan saat ibadah haji (tawaf, ihram, sa'i antara shofa dan marwah, berada dipadang arafah sampai haji wada' ), hingga sepulang dari ibadah apakah tetap sanggup berada dalam garis ketaatan yang menuju kebahagiaan hakiki atau
menyimpang dari garis ketaatan dan dapat kesengsaraan diakhirat kelak.disaat yaumul jaza' atau hari pembelasan

Inilah saatnya bagi kaum muslimin untuk lebih bersiap diri menghadapi ujian yang diberikan Alloh SWT, yaitu ujian ketaatan, keridhaan dan keikhlasan dalam menjalankan ibadah secara vertikal atau hambumnalloh dan secara horisontal atau hablumminannas. sehingga dalam meniti kehidupan selanjutnya didunia ini, diri seorang hamba mampu menjalani dengan penuh kebahagiaan dan ketentraman lahir maupun dalam tatanan sosial.



Comments :

0 komentar to “HARI RAYA IDUL ADHA (Qurban)”

Poskan Komentar

Hadits tentang Puasa Asyura (Hari kesepuluh bulan Muharram

Berdasarkanbeberapa hadits ditemukan anjuran Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kepada ummat Islam agar melaksanakan puasa di tanggal sepuluh bulan Muharram. Tanggal sepuluh bulan Muharram biasa disebut Yaum ’Aasyuura (Hari kesepuluh bulan Muharram).

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Seutama-utama berpuasa sesudah bulan Ramadhan ialah dalam bulan Allah yang dimuliakan - yakni Muharram - dan seutama-utama shalat sesudah shalat wajib ialah shaliatullail - yakni shalat sunnah di waktu malam." (Riwayat Muslim)

Suatu ketika Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mendapati kaum Yahudi sedang berpuasa pada hari ’Asyuura. Lalu beliau bertanya mengapa mereka berpuasa pada hari itu. Merekapun menjelaskan bahwa hal itu untuk memperingati hari dimana Allah telah menolong Nabi Musa bersama kaumnya dari kejaran Fir’aun dan balatentaranya. Bahkan pada hari itu pula Allah telah menenggelamkan Fir’aun sebagai akibat kezalimannya terhadap Bani Israil. Mendengar penjelasan itu maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam-pun menyatakan bahwa ummat Islam jauh lebih berhak daripada kaum Yahudi dalam mensyukuri pertolongan Allah kepada Nabi Musa. Maka beliau-pun menganjurkan kaum muslimin agar berpuasa pada hari ’Asyuura.


Selengkapnya

Kisah Nabi Ismail as

Sampai Nabi Ibrahim yang berhijrah meninggalkan Mesir bersama Sarah, isterinya dan Hajar, di tempat tujuannya di Palestina. Ia telah membawa pindah juga semua binatang ternaknya dan harta miliknya yang telah diperolehnya sebagai hasil usaha niaganya di Mesir.
Al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a.berkata:
Pertama-tama yang menggunakan setagi {setagen} ialah Hajar ibu Nabi Ismail tujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang telah lama berkumpul dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi belum juga hamil. tetapi walaubagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahasia yang disembunyikan itu dengan lahirnya Nabi Ismail a.s. .

Share it

Berita terbaru

 

Copyright © 2009 by The Power of Hikmah